
Setelah selesai, Tuan Moriarty berpamitan karena suatu hal.
‘’Kenapa perginya begitu cepat? Tinggalah sedikit lebih lama,’’ pinta Pak Percy.
‘’Aku sebenarnya masih ingin tinggal, tapi Adam harus menghadiri upacara di akademi kuliner untuk menyambut mereka. Jadi kami harus ke sana.’’
Pak Percy mengangguk mengerti, dan harus menerimanya. Baru saja mereka bertemu, sahabatnya itu sudah berniat pergi.
‘’Sekali lagi, aku turut berduka atas kematian istri pertamamu. Padahal dia adalah wanita yang lembut dan sangat baik hati. Kau harus tegar, karena sekarang kau beruntung memiliki istri dan satu anak lagi yang bisa menemanimu.’’
Pak Percy tersenyum disertai anggukan kepala menanggapi ucapan sahabatnya.
‘’Aku juga bisa melihat mendiang istri pertamamu dalam diri Eve. Putrimu juga sangat baik dan lembut persis dengan ibunya, karena itulah aku juga menganggapnya sebagai putriku. Mulai sekarang kau tidak perlu khawatir akan kebutuhannya. Kami yang akan menjaganya.’’
Bu Christa dan Cordelia sangat tidak menyukai kalimat yang diucapkan Tuan Moriarty. Tanpa mereka sadari, sekretaris Rey memperhatikannya seperti biasa.
‘’Semoga Ayah cepat sembuh. Jangan membuatku khawatir terus,’’ kata Eve memeluk sebelum pergi.
‘’Kalau begitu kami pergi dulu. Cepatlah sembuh Pak Percy,’’ kata Tuan Moriarty.
Eve menatap ayahnya dengan raut wajah sedih. Dalam hatinya paling dalam, ia sebenarnya ingin menginap dan merawat ayahnya, tapi sepertinya hal itu tidak akan diizinkan oleh mertuanya. Ia menatap Cordelia sekilas. Entah kenapa, perasaannya menjadi tidak enak setelah kejadian tadi. Tapi ia tidak bisa membiarkan dirinya ditindas terus.
Setelah kepergian mobil itu, pak Percy langsung menatap Cordelia sambil kembali masuk ke dalam rumah. 2 wanita tadi masih menatap pria yang diam sejak tadi di depannya.
Ragu-ragu, Cordelia berbicara. ‘’A-Ayah, aku, aku tidak berma—‘’
Plak!
Bu Christa melotot karena suaminya melayangkan tamparan ke wajah putrinya. Cordelia melotot sambil memegangi pipinya. Ia menatap ayahnya tidak percaya.
‘’Suamiku?! Kenapa kau menampar pu—‘’
Plak!
__ADS_1
Tamparan yang sama mendarat ke wajahnya membuat bu Christa tidak percaya.
‘’Kau juga sama berbohongnya! Memberitahuku kalau Cordelia sudah bisa memasak dalam 1 hari, tapi ternyata dia belum bisa memasak! Seharusnya kau mengatakan yang sebenarnya! Lihat, karena ulah kalian berdua, aku seperti tidak mempunyai muka lagi di depan Tuan Besar!’’
Kedua wanita itu hanya diam dengan emosi yang mereka pendam dalam hati. Pak Percy menghela nafas kasar dan menuju ke kamarnya.
‘’Ini semua karena kakak! Karena dirinya, ayah menampar kita berdua, Ibu. Sebaiknya kita beritahu ayah yang sebenarnya agar kakak ditendang sekarang juga!’’
‘’Tidak, Cordelia! Aku sudah bilang, kita harus menunggu selama 1 bulan sampai kehamilannya dipastikan.’’
Cordelia menatap ibunya kesal.
Tidak Ibu, aku sudah cukup bersabar. Aku akan melakukannya sendiri dengan caraku, katanya dalam hati.
......................
Akademi Kuliner Chrysos
Eve menuruni mobil bersama mertua dan suaminya. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di akademi kuliner ternama tersebut. Akademi kuliner dimana semua murid dilatih dan diasah kemampuannya sehingga menjadi koki yang layak. Tapi baru-baru ini, suaminya mengatakan kalau akademi kuliner tersebut akan bekerja sama dengan akademi kuliner dari luar negeri.
Dari tempat yang berbeda, Eve bisa melihat ada puluhan siswa yang membentuk barisan, bersamaan suaminya masuk ke sana.
Dilihatnya Adam berdiri di depan mereka sambil berpidato. Menyambut dan memberitahu aturan-aturan yang dijalankan di akademi. Tidak lupa, ia juga memberitahu kerja sama dengan akademi dari luar negeri.
Tidak butuh waktu yang lama sampai suaminya selesai melakukan pidato. Eve benar-benar terkesan dengan sikap Adam yang tenang menyampaikan pikirannya. Entah kenapa, jantungnya berdebar-debar.
Eve diajak keliling untuk melihat aktivitas yang berjalan di dalam akademi kuliner Chrysos. Para murid diberi materi, dilatih dan melakukan praktik sambil dibimbing oleh pengajar. Bahkan, ada kelas khusus di mana murid melakukan kompetisi yang diuji oleh koki kelas atas. Benar-benar akademi kuliner ternama.
‘’Aku berencana ingin memasukkan cucuku nanti di akademi ini. Melihat dirimu yang memiliki bakat memasak, pasti cucuku juga akan sama hebatnya. Jadi cepatlah berikan ayahmu ini seorang cucu, agar semua orang tahu cucu dari keluarga Raymond juga memiliki bakat yang hebat.’’
Eve terbelalak bukan karena ucapan mertua prianya, melainkan karena sosok Adam yang berdiri di belakang yang memandangi ayahnya dengan tatapan bodoh bersama sekretaris Rey. Ia tersenyum kaku.
‘’Kenapa? Kalau masalah Adam biar aku yang urus. Aku akan menyuruhnya untuk menyediakan ruangan yang indah di salah satu hotel, lalu memberinya sedikit obat ke dalam anggur agar dia tidak sadarkan diri. Dengan begitu, kau bisa melakukannya saat dia sedang tidur.’’
__ADS_1
Eve memejamkan mata. mengapa mertuanya benar-benar tidak menyadari keberadaan putranya sendiri, sambil mengatakan hal seperti itu dengan polos.
Tuan Moriarty mengerutkan dahi melihat raut wajah menantunya. Ia berbalik dengan pelan dan sudah melihat Adam dan sekretaris Rey berdiri di belakangnya.
‘’Oh Adam, kau sudah ada di sini?’’ tanyanya tanpa merasa bersalah.
Adam memasang raut wajah bodohnya. ‘’Skenario apa ini? Ayah seperti ingin menjebak anaknya sendiri saja demi menantunya. Sudah aku bilang jangan memaksanya jika dia belum siap. Masalah itu bisa kita bahas lain kali.’’
‘’Tapi aku sangat ingin mempunyai cucu. Ibumu juga pasti berpikiran yang sama denganku.’’
Eve langsung mengingat kejadian di bandara, saat dirinya mengantar ibu mertuanya. Nyonya Besar juga memintanya untuk segera memberikannya seorang cucu.
‘’Lebih baik kita pulang. Besok aku harus menemui Tuan Kamiya untuk meresmikan kerja sama kami berdua.’’
Tuan Moriarty cemberut melihat kepergian putranya bersama menantunya. Ia melirik sekretaris Rey yang masih setia menunggunya. Sambil menghela nafas, ia menyusul pergi.
......................
Jepang
Sebuah limousine terhenti di depan kediaman yang begitu besar. Puluhan pelayan langsung menyambut pria yang menuruni limousine tersebut, yang mengenakan kameja disertai rompi dan celana hitam beserta mantel berbulu hitam panjang.
‘’Selamat datang Tuan Muda!’’
Pria muda itu berjalan masuk ke dalam, menuju ke sebuah kamar. Dilihatnya, sosok pria 3 tahun lebih tua darinya terbaring di kasur.
‘’Apa yang terjadi?’’ tanya pria muda itu.
"Yuki-sama tidak sengaja ditabrak mobil saat hendak pulang. Tapi untunglah tidak ada luka yang serius, hanya sedikit cedera di bagian kaki," jawab Kepala Pelayan.
‘’Nii-san membuatku khawatir saja. Lalu bagaimana keadaan supirnya?’’
‘’Aku sudah menyuruh pengawal yang lain untuk membawanya ke rumah sakit. Lengannya berdarah terkena pecahan kaca, karena mobil yang menghantam, datang dari samping. Besok, aku seharunya mengambil penerbangan ke Indonesia untuk meresmikan kerja sama dengan perusahaan Chrysos. Bisakah kau menggantikanku ke sana untuk sementara?’’
__ADS_1
Pria muda yang ditanyai tadi mengangguk mengerti. "Wakatta Nii-san."