
‘’Aku ingin membuat taruhan! Kalau aku memenangkan kompetisi ini, maka kau … Harus berlutut di depanku di hadapan semua orang,’’ kata Reon menunjuk Kein.
Semua orang di dalam menara utama langsung heboh karena ucapan anak itu, terutama Eve dan Cordelia. Berbeda dengan Jeremy yang malah terkekeh, Adam memejamkan mata dengan wajah tertahan, bahkan Tuan Moriarty berusaha mempertahankan raut wajah tenangnya.
Anak itu … Apa yang dia lakukan? Benar-benar bodoh, kata Adam dalam hati.
Apa yang dilakukan Reon? Berkata seperti itu di situasi seperti ini membuat malu saja, apalagi di depan keluarga Kamiya, kata Tuan Moriarty dalam hati.
Reon Raymond, sepertinya kabar mengenai dirinya yang begitu angkuh ke semua orang memang ada benarnya. Apakah keluarga Raymond tidak mengajarinya tata karma? Dasar, kata Kaji dalam hati.
Anak ini berani juga berkata seperti itu di depan Yuki-san. Jelas-jelas ia tahu kalau Kein-kun adalah bagian dari kami, kata Dokter Yuu dalam hati sambil menoleh ke arah Yuki.
Tuan Yuki hanya diam tanpa berkomentar. Raut wajah marah atau urat menegang pun sama sekali tidak tampak di wajahnya membuat Dokter Yuu tersenyum remeh.
Yuki-san memang ahli dalam memanipulasi wajahnya. Aku bahkan tidak tahu, apa yang dia rasakan sekarang, kata Dokter Yuu dalam hati.
Sama halnya dengan mereka, Nyonya Mary juga berusaha mempertahankan raut wajahnya setenang mungkin, meskipun sekarang urat di lehernya sudah menegang sejak tadi karena ulah Reon.
Acara ini disaksikan seluruh dunia. Sepertinya anak ini cari mati ya? Stt, kata Nyonya Mary dalam hati.
Reon benar-benar mewarisi sifat licik Cordelia. Entah apa lagi yang anak itu rencanakan. Tapi apa pun itu, aku hanya berharap semoga Kein baik-baik saja, kata Eve dalam hati.
Kane yang berada di ruang kontrol akademi hanya tersenyum remeh, sambil menikmati lolipop setelah mendengar hal itu lewat headphone. ‘’Dasar anak tidak berotak. Sebentar lagi dia akan tahu bagaimana kakak membalasnya.’’
Humph! Bagus Reon, buktikan kalau kau memiliki kekuasaan bahkan jika anak itu adalah Si Iblis Makanan yang terkenal di dunia ini, kata Cordelia dalam hati.
Hoh~ ternyata bukan ibunya saja yang berhasil memikatku, tapi Reon juga mewarisi sifatku ya? Humphehe, good job Reon. Sekarang kita tinggal melihat bagaimana reaksi Si Iblis Makanan ini, kata Jeremy dalam hati.
‘’Apa yang membuatku akan menerima taruhan tidak penting ini?’’ tanya Kein dengan wajah dinginnya.
‘’Kau akan menerima taruhan ini,’’ kata Reon tersenyum miring.
__ADS_1
Kein hanya memasang raut wajah dinginnya. ‘’Berhenti mengulur waktu. Aku tidak ada waktu meladeni permainan bodohmu.’’
Reon mengepalkan tangan karena merasa kesal dengan sikap Kein yang begitu arogan. ‘’Aku akan mempertaruhkan 100 pisau milik koki yang pernah kalah dariku di kompetisi!’’
Flashback on
‘’Hari itu, Tuan Kein mengatakan kalau saja aku tidak menuruti perintah Tuan Reon, maka yang lolos ke babak final dan bertarung dengan Anda adalah aku. Apakah itu benar?’’
‘’Tuan Kein, aku minta maaf atas semua yang telah terjadi selama kompetisi ini berlangsung. Aku mengaku salah karena berusaha menyingkirkan Anda dengan mengacaukan hidangan Tuan Kein, bahkan menjebak Anda dan hampir kehilangan nyawa,’’ kata Mark.
Kein menatap anak laki-laki itu yang mengepalkan tangan sejenak sambil gemetar. Tanpa bertanya, Kein sudah tahu kalau Mark sedang menangis, meskipun masih membungkuk.
‘’Hheh, meskipun aku tidak sudi membungkuk dan meminta maaf kepada Tuan Kein, aku akan menganggap hal ini sebagai bayaran atas ulahku kepada Anda. Ini adalah kompetisi terakhirku. Setelah kompetisi ini selesai, maka aku tidak akan bisa memasak lagi,’’ kata Mark.
‘’Apa maksudmu?’’ tanya Kein.
Mark tersenyum remeh di sela-sela dirinya membungkuk. ‘’Keluarga Shelton memberiku hukuman agar meninggalkan dunia memasak dan akan mengembangkan restoran keluarga Shelton. Sebelum itu terjadi, aku memiliki permintaan untuk Tuan Kein.’’
Kein menatap Mark yang sudah berdiri tegak.
‘’Pisau?’’ tanya Kein tidak mengerti.
‘’Benar. Aku pernah bertanding dengan Tuan Reon, tapi sayang sekali aku kalah. Untuk membayar kekalahanku itu, Tuan Reon mengambil pisauku untuk dijadikan salah satu koleksinya. Kurasa bukan aku saja yang mengalami hal itu, para koki yang pernah melawannya dan kalah pasti juga bernasib sama. Semenjak hari itu, aku selalu berusaha mengalahkannya untuk merebut pisauku kembali. Tapi aku selalu saja berada di posisi kedua. Sampai saat ini aku belum mendapatkan pisauku kembali dan aku malah disuruh berhenti memasak,’’ kata Mark.
*Mark kembali membungkuk. ‘’Jadi, aku mohon Tuan Kein, tolong rebut kembali pisau dapurku dari Tuan Reon melalui kompetisi ini. Pisau itu sangat berharga bagiku, karena merupakan warisan turun temurun keluarga Shelton.’’
Flashback off*
Reon yang melihat Kein hanya diam sambil orang berbisik-bisik, membuatnya tegang.
‘’Jadi bagaimana Kamiya Kein, apakah kau menyetujui taruhan ini?’’ tanya Reon.
__ADS_1
Kein terdiam untuk sesaat. ‘’Baiklah, aku setuju. Tapi, jika aku yang memenangkan kompetisi ini, Reon Raymond … Kau akan meninggalkan dunia memasak dan menjadi bawahanku.’’
Deg!
Bagaikan tamparan bagi keluarga Raymond, perkataan Kein telak mengenai batin semua orang. Apalagi situasi tersebut disiarkan secara langsung dan tentu saja seluruh dunia menyaksikannya.
Wajah Reon langsung kusut begitu juga keluarga Raymond. Mark yang berada di salah satu bangku khusus peserta terbelalak dan tidak menyangka.
Alis Kein terangkat sebelah. ‘’Tentu saja aku akan menepati janji dan akan berlutut di hadapanmu di depan semua orang dan dunia juga akan menyaksikannya. Tapi, kau juga harus menyerahkan 100 pisau milik koki yang kau rebut, lalu akan meninggalkan dunia memasak dan menjadi bawahanku.’’
Mark masih terdiam membisu, sambil menatap anak berambut putih itu.
Flashback
Mark kembali membungkuk. ‘’Jadi, aku mohon Tuan Kein, tolong rebut kembali pisau dapurku dari Tuan Reon melalui kompetisi ini. Pisau itu sangat berharga bagiku, karena pisau itu adalah warisan turun temurun keluarga Shelton.’’
Tiba-tiba speaker pemberitahuan berbunyi membuat kedua anak itu mendongakkan kepala. Setelah suara itu berhenti, keduanya kembali terdiam.
‘’Kau sudah selesai?’’ tanya Kein.
‘’Eh? Maksud Tuan Kein?’’ bingung Mark.
‘’Kalau sudah selesai dengan ocehanmu, aku akan pergi. Babak final sudah mau dimulai,’’ kata Kein berbalik untuk berjalan pergi.
*Mark benar-benar tidak menyangka melihat Kein pergi begitu saja tanpa mempertimbangkan permintaannya tadi.
Flashback off*
Ia tidak menyangka setelah mendengar ucapan Kein barusan. ‘’Dasar, Si Iblis Makanan itu.’’
Terima kasih Tuan Kein, ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Bugh!
Semua tersentak kaget saat Nyonya Mary memukul meja dengan raut wajah tertahan.