
Hanya bincang-bincang ringan sampai mereka berempat selesai makan. Tiba-tiba ponsel Kaji berbunyi. Ia pun mengangkatnya. Matanya membulat besar, sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.
‘’Ada apa? Kenapa Kaji-kun sampai sekaget itu?’’ tanya Eve.
‘’Ada sedikit masalah di dapur. Aku akan segera kembali. Sekretaris Rey? Aku butuh bantuanmu, kau ikut aku!’’ perintah Kaji.
Sekretaris Rey dan Eve bersamaan tersentak. ‘’Eh?’’
‘’Tuan Muda?’’ panggil Sekretaris Rey.
Tanpa mengatakan apa pun, Adam hanya mengangguk. Sekretaris Rey membungkuk dan keluar bersama Kaji. Kini hanya Adam dan Eve di dalam ruangan itu. Tidak ada yang bicara satu pun.
Daripada merasa bosan, Adam berdiri dan berjalan keluar tanpa mengatakan apa pun.
Tangan Eve sedikit gemetar sebelum ia mengepalkan tangan. ‘’Berhenti!’’
Adam tidak peduli dan tetap berjalan ke arah pintu. Eve yang melihatnya langsung menggertak gigi.
‘’Adam! Aku bilang berhenti!’’ seru Eve berdiri.
Langkah kaki pria itu terhenti untuk sesaat.
Adam berbalik menatap Eve. ‘’Kenapa aku harus menuruti ucapanmu?’’
Deg!
Eve tersentak mendengar ucapan Adam. Apalagi melihat tatapan pria itu. Ia mengepalkan tangan begitu erat saat melihat Adam akan membuka pintu.
‘’Aku minta maaf!’’ seru Eve berhasil menghentikan niat Adam yang ingin membuka pintu tadi.
‘’Aku minta maaf mengenai perbuatanku hari itu,’’ kata Eve sekali lagi.
Adam hanya diam tanpa bereaksi.
‘’Aku tahu caraku salah dengan memanfaatkan perasaanmu demi mengakhiri surat perceraian kita. Karena itulah, aku merasa bersalah dan berusaha mengajakmu bicara, tapi kau malah menghindariku. Ya, kau pantas bersikap seperti itu, dan marah kepadaku. Tapi setidaknya biarkan aku bicara denganmu sekali saja,’’ kata Eve.
Eve mengerutkan dahi tanda kesal karena melihat Adam hanya diam dan tidak membalas ucapannya. ‘’Adam, kenapa kau hanya diam? Katakan sesuatu!’’
‘’Nona Eve?’’
Deg!
Eh? Dia baru saja memanggilku dengan sebutan nona, kata Eve dalam hati.
Keduanya saling berhadapan, sampai salah satu tangan Adam meraih gelas. Eve yang melihatnya hanya diam dan tidak mengerti. Untuk sesaat, Adam menatap Eve hingga akhirnya pria itu membanting gelas ke lantai.
Prank!
Eve tersentak kaget, berbeda dengan Adam yang hanya biasa saja.
__ADS_1
‘’Adam, apa yang kau lakukan?’’ tanya Eve.
‘’Kau lihat gelas itu pecah? Bahkan jika Nona Eve kembali merangkainya menjadi utuh, tidak mengubah bekas retak di gelas itu,’’ kata Adam.
‘’Kenapa kau begitu marah hanya dengan perbuatan kecil seperti itu? Apakah perbuatanku lebih buruk dibandingkan perbuatanmu kepadaku 6 tahun yang la—‘’
‘’Karena itulah aku meminta kesempatan darimu!’’ seru Adam memotong ucapan Eve.
Mata Eve memerah sambil ia mengepalkan tangan. Ini kedua kalinya Adam membentaknya.
‘’Aku membuang harga diriku dan berusaha memohon kepadamu. Tapi, apa yang kau lakukan? Kau memanfaatkan perasaanku demi mengakhiri pernikahan kita,’’ kata Adam.
‘’Aku ti—’’
‘’Saat ini, aku benar-benar dipenuhi tidak ingin bicara denganmu bahkan melihat wajahmu itu,’’ kata Adam sekali lagi memotong ucapan Eve.
Deg!
Adam tersentak. Kali ini Eve tidak bisa menahannya lagi, sehingga butiran air matanya terjatuh di hadapan pria itu. Melihat butiran bening itu mengalir, membuatnya langsung mengepalkan tangan sambil menggertak gigi.
Bugh!
Punggung Eve membentur tembok karena Adam mendorongnya. Ia menatap pria itu dengan wajah sendu, sedangkan Adam menatapnya sambil menggertak gigi.
Ceklek!
Saat itu juga pintu terbuka membuat kedua orang itu menoleh. Terlihat Kaji muncul dengan wajah kusut, sedangkan sekretaris Rey memasang raut wajah kaget. Pandangan mereka langsung mengarah ke pecahan gelas di lantai.
Adam menarik tangannya yang menggenggam tangan Eve dengan wajah dinginnya. Tanpa mengatakan apa pun, ia berjalan pergi hingga sekretaris Rey mengikutinya.
Kaji yang melirik kepergian kedua pria itu, memilih masuk ke ruangan dan menghampiri wanita itu. ‘’Eve-chan, kau baik-baik saja? Kenapa kau menangis?’’
Eve menghela nafas panjang dan menatap Kaji. Ia tersenyum sambil menyeka air matanya. ‘’Aku baik-baik saja.’’
Sebelum Kaji pulang, ia memerintahkan pekerja restoran untuk membersihkan ruang VVIP yang dipakai tadi. Bahkan saat perjalanan pulang, keempat orang itu hanya diam di dalam limousine.
......................
Mansion Pribadi
‘’Kalian sudah kembali? Kau benar-benar mengantar Eve-chan pulang dengan cepat. Itu bagus,’’ kata Tuan Giruberuto.
‘’Kami tiba-tiba merasa lelah, jadi memilih untuk pulang,’’ kata Kaji.
‘’Kalian ini masih muda, kenapa sudah begitu cepat merasa lelah?’’ tanya Nyonya Vaioretto.
Eve hanya tersenyum kaku sebelum menuju ke kamar bersama Kaji.
Nyonya Mary menatap Adam. ‘’Ada apa dengan anak itu?’’
__ADS_1
......................
Lantai 2
Langkah Adam terhenti sebelum ia tiba di kamar.
‘’Jadi, apa yang kau lakukan bersama Eve dan Tuan Kaji?’’ tanya Nyonya Mary.
‘’Kami hanya makan di restoran. Itu saja,’’ jawab Adam.
Nyonya Mary mengerutkan dahi. ‘’Sungguh? Lalu kenapa wajahmu terlihat kesal?’’
Adam kembali mengingat Eve yang menangis di restoran pribadi tadi, sehingga ia mengepalkan tangan.
‘’Apakah mereka memancing perasaanmu?’’ tanya Nyonya Mary.
‘’Tidak ada yang terjadi. Aku ingin istirahat,’’ jawab Adam.
Nyonya Mary memicingkan mata melihat kepergian putranya. ‘’Pasti terjadi sesuatu. Haa….’’
......................
Keesokan harinya...
Setelah aktivitas rutin pagi berjalan seperti biasa, Vic menghela nafas panjang yang sedang menatap langit-langit kamar.
‘’Ini sudah berapa hari aku tidak bertemu dengan sutradara itu? Tuan Muda miliarder itu juga selalu sibuk, dan aku tidak tahu dimana kamarnya. Rumah ini seperti labirin saja. Aku juga tidak enak memintanya di depan semua orang,’’ gerutu Vic.
‘’Kau membicarakan siapa?’’ tanya Eve.
Vic tersentak dan langsung bangkit. ‘’Astaga! Kau mengangetkanku.’’
‘’Memangnya apa yang ingin kau minta dari Kaji-kun? Sampai merasa tidak enak di depan semua orang,’’ kata Eve.
‘’Um, itu ... Aku ingin meminta nomor seseorang,’’ kata Vic.
Mata Eve memicing saat mengetahui niat Vic dari raut wajahnya. ‘’Hm~ kau ingin meminta nomor Sutradara Hakuba, ya?’’
Vic melotot. ‘’Bagaimana kau bisa tahu?’’
‘’Puff! Terlihat jelas di wajahmu. Saat kita tiba di sini, kita hanya bertemu dengan satu orang kenalan Kaji-kun, dan itu Sutradara Hakuba. Apa ini? Jangan-jangan kau ingin mengejar sutradara itu,’’ tebak Eve.
Vic tersenyum lembut. ‘’Eve-chan.’’
‘’Perasaanku jadi tidak enak,’’ kata Eve dengan wajah bodohnya.
‘’Kita berdua adalah sahabat, kan? Jadi, sebagai sahabat yang baik, kenapa kau tidak membantuku?’’ tanya Vic.
‘’Membantumu apa?’’ tanya Eve menyadari niat dibalik wajah manis sahabatnya itu.
__ADS_1
‘’Kau dan Tuan Muda miliarder itu harus membantuku agar dekat dengan Sutradara Hakuba,’’ kata Vic.
Eve memasang raut wajah bodohnya. ‘’Sudah kuduga.’’