
Tidak ada aktivitas penting, hanya rutinitas sehari-hari seperti biasa sampai babak semi-final dimulai.
......................
Kediaman Raymond
Semua hendak berangkat, namun Nyonya Mary menyadari seseorang tidak ada.
‘’Di mana Cordelia?’’ tanya Nyonya Mary.
Adam hanya diam tanpa menjawab, begitu juga Sekretaris Rey dan Tuan Moriarty. Pandangan Nyonya Mary beralih ke arah Reon.
‘’Aku akan memeriksanya,’’ kata Reon yang mengerti maksud neneknya.
......................
Kamar Cordelia
Semenjak Adam dan Eve bercerai, Cordelia tidak pernah satu kamar dengan Adam setelah mereka berdua menikah. Adam mengunci kamar miliknya dan Eve, melarang orang untuk masuk dan beralih ke kamar yang lain, sedangkan Cordelia juga disiapkan kamar tersendiri.
Sejak tadi Cordelia mondar-mandir sambil menggigit kuku ibu jarinya. Kamarnya pun juga berantakan.
‘’Sial! Kalau bukan pembunuh bayaran itu, lalu siapa yang berani melakukan teror kepadaku? Stt, aku ingin memberitahu Adam tapi kalau kulakukan, mereka akan tahu kalau aku memang yang telah menyuruh seseorang untuk melenyapkan kakak. Aku akan ditendang, Adam akan menceraikanku, dan akan kembali ke rumah gubuk itu? Hhah! Tidak, tidak, aku tidak ingin hidup susah lagi. Meskipun keluarga Raymond tidak menerima keberadaanku, setidaknya aku hidup mewah. Aku sudah melakukan banyak hal untuk mencapai tempat ini. Tapi aku juga sangat terganggu karena pesan teror ini!’’
Cordelia menghela nafas kasar sambil membanting barang-barangnya.
Tok! Tok!
Deg!
Wanita itu tersentak saat pintu kamarnya diketuk.
‘’Ibu? Apakah Ibu di dalam?’’
Cordelia menghela nafas lega saat mengetahui sosok yang mengetuk pintu adalah Reon. ‘’Ada apa?’’
‘’Ibu tidak ikut ke akademi, ya? Semuanya sudah menunggu Ibu di bawah,’’ kata Reon dari luar.
......................
Ruang Tamu
Semua menoleh melihat kedatangan Reon yang menuruni tangga.
__ADS_1
‘’Di mana Cordelia? Apakah dia tidak ikut?’’ tanya Tuan Moriarty.
‘’Ibu bilang kita duluan saja, nanti dia menyusul. Ibu sedang mengurus sesuatu,’’ jawab Reon.
‘’Sesuatu? Apa yang dia urus?’’ tanya Nyonya Mary.
‘’Aku juga tidak tahu. Ibu hanya menyuruhku untuk menyampaikan hal ini,’’ jawab Reon.
‘’Ya sudah. Nanti Cordelia menyusul saja,’’ kata Nyonya Mary.
Mereka pun berjalan keluar dan memasuki mobil, menuju ke akademi.
......................
Kediaman Kamiya di Indonesia
Kaji menatap Eve yang akan memasuki limousine. ‘’Kau yakin ingin benar-benar pergi? Kalau kau memang tidak sanggup, jangan paksakan dirimu.’’
Eve terdiam untuk sesaat. ‘’Tidak apa-apa. Lagi pula perkataanmu memang benar. Aku tidak bisa melarikan diri terus. Rasanya lelah karena harus menghindari sesuatu yang malah selalu mendekat kepadamu. Jadi, aku akan berusaha mengangkat kepalaku dengan percaya diri tanpa rasa luka itu menyiksaku.’’
Ia menoleh saat tangannya digenggam oleh Kaji.
‘’Aku tahu kau adalah wanita yang kuat. Aku juga sudah berjanji kalau aku akan melindungimu,’’ senyum Kaji.
Kenapa ada pria yang begitu baik di dunia ini seperti Kaji-kun? Aku benar-benar memiliki banyak hutang budi kepadanya, kata Eve dalam hati.
Ia menghela nafas panjang dan menoleh ke arah Kaji.
Eve menatap pria itu untuk sesaat hingga akhirnya terukir senyuman di bibirnya. ‘’Terima kasih, Kaji-kun.’’
Kaji mengangguk sambil tersenyum lebar dengan mata menyipit.
‘’Hehem! Sampai kapan kalian akan berdiri di depan pintu? Aku juga mau masuk,’’ kata Dokter Yuu merusak suasana.
Eve langsung menarik tangannya dan membuang muka lalu segera masuk ke dalam limousine. Kaji yang melihatnya hanya tersenyum karena tingkah Eve yang lucu. Senyumannya langsung luntur saat ia menatap Dokter Yuu.
‘’Kau ini tidak pernah ingin melihatku bahagia,’’ kata Kaji dengan tatapan malas.
‘’Siapa suruh kau merebut Eve-chan dariku. Padahal aku yang pertama kali bertemu dengannya di rumah sakit,’’ kata Dokter Yuu masuk ke dalam limousine.
Mulut Kaji langsung manyun sambil mengomel tidak jelas. ‘’Apanya yang pertama kali? Justru aku pertama kali yang membawanya ke Jepang. Dasar!’’
Kane yang menyaksikan pemandangan itu hanya terkikik pelan. ‘’Ibu benar-benar diperebutkan, berbeda dengan ayah kita yang membuangnya tapi sekarang malah mengejarnya lagi.’’
__ADS_1
‘’Sepertinya akan ada pertunjukan yang seru,’’ kata Kein.
‘’Humph! Biarkan saja mereka kaget. Kalau perlu semua keluarga Raymond terkena serangan jantung,’’ kata Kane.
Anak berambut hitam itu menatap ponselnya lalu tersenyum. ‘’Bibi Cordelia masih ada di kediaman Raymond. Tapi yang lainnya sudah menuju ke akademi, sepertinya dia sedang tertekan.’’
‘’Dia akan lebih tertekan saat melihat ibu nanti,’’ kata Kein.
......................
Akademi Chrysos
92 peserta dan para penonton kembali untuk menyaksikan babak semi-final, yang sekarang ditambah oleh Mark. Tanpa bertanya, kalian sudah tahu bagaimana reaksi keluarga Shelton saat mengetahui Mark tidak masuk ke dalam 3 besar, dan itu adalah pelajaran baginya agar tidak percaya lain kali kepada siapapun di kompetisi.
Mark menuruni mobil dan tanpa sengaja berjumpa dengan Reon. Keduanya saling bertatapan tanpa ada yang bicara.
Kau terlalu naïf. Tidak ada kata teman saat kompetisi. (Mark teringat)
‘’Mark Shelton, aku sangat menyayangkan kompetisi me—‘’ ucapan Reon terpotong karena Mark langsung pergi tanpa peduli kepadanya.
Reon tersenyum remeh sambil mengepalkan tangan. ‘’Beraninya dia mengabaikanku. Tapi tidak apa-apa. Dia pasti terpuruk karena juara kedua bertahan seperti dirinya malah gagal di perempatan final.’’
Tidak lama kemudian, pak Percy dan bu Christa juga telah tiba. Mereka masuk bersama keluarga Raymond. Beberapa menit mereka masuk, sebuah limousine berhenti.
Keluarga Kamiya telah tiba, dengan 3 pria yang menuruni mobil bersama 2 anak kembar disusul seorang wanita yang tidak lain adalah Eve.
Eve menatap bangunan di belakang dengan menara yang merupakan akademi kuliner milik keluarga Raymond. Akademi yang pernah ia datangi saat masih menjadi salah satu keluarga Raymond. Ia tidak menyangka akan kembali ke akademi itu lagi, hanya karena ingin menyaksikan kompetisi Kein.
Tuan Yuki dan yang lainnya pun masuk ke dalam. Begitu Eve menginjakkan kaki di pintu utama, Adam yang berjalan di koridor menuju ke ruang VVIP langsung berbalik.
‘’Ada apa Adam?’’ tanya Tuan Moriarty.
Adam mengerutkan dahi sambil memikirkan sesuatu. ‘’Tidak ada apa-apa.’’
Mereka kembali berjalan menuju ke ruang VVIP. Sekretaris Rey menoleh ke arah belakang sekilas, lalu menyusul kepergian atasannya.
Semua menuju ke Menara 3 untuk menyaksikan babak semi-final. Namun, belum sempat Eve tiba di ruang VVIP, ponselnya bergetar.
‘’Ada apa Eve-chan?’’ tanya Kaji.
‘’Kaji-kun, kau duluan saja. Vic menghubungiku kalau dia ada di bawah. Jadi aku harus menghampirinya,’’ kata Eve.
‘’Tidak perlu. Aku akan menyuruh pengawal untuk menjemputnya. Kau baru saja sembuh, jadi jangan terlalu banyak jalan dulu,’’ kata Kaji.
__ADS_1
Eve mengangguk sambil Kaji menyuruh salah satu pengawalnya untuk menjemput Vic di bawah.