
Setelah pernikahan Adam dan Eve selesai, Jeremy ketahuan terlibat dengan kasus kejahatan yang terjadi. Meskipun ia tidak turut melakukan aksi, pria itu tetap diberi hukuman dengan istirahat sementara dari dunia kuliner sebagai Bookman.
......................
Kantor Polisi
Cordelia terbangun dan melihat ibunya duduk termenung. ‘’Ibu kenapa tidak tidur?’’
Namun, melihat wanita dewasa itu hanya diam, membuatnya bangkit. ‘’Heh, apakah Ibu masih merasa bersalah? Sudahlah, jangan pikirkan itu. Aku akan memikirkan cara agar kita berdua bisa keluar dari sini. Cih! Aku sudah berulang kali menghubungi Jeremy, tapi dia tidak pernah mengangkatnya.’’
Bu Christa hanya tenang sambil menatap 2 gelas di depannya. ‘’Apakah kau haus?’’
Cordelia mengangguk dan meraih salah satu di antara dua gelas tadi. ‘’Kita akan keluar dari sini lalu membalas mereka 2x lipat.’’
Sekali lagi bu Christa hanya diam, membuat Cordelia mengerutkan dahi sambil meneguk air itu.
Deg!
Bu Christa menatap Cordelia yang tiba-tiba diam membeku.
Brack!
Cordelia memuntahkan darah setelah meminum air tadi. Ia menatap ibunya dengan mata memerah. ‘’A-Apa yang Ibu la-kukan?’’
‘’Kita berdua yang memulai semua ini. Jika aku harus pergi ke neraka, maka kau juga harus ikut bersamaku menebus dosa,’’ kata Bu Christa dengan wajah datar dengan butiran air mata.
‘’A-Akh,’’ ringis Cordela.
Bu Christa tersenyum lalu meminum air putih miliknya. ‘’Pendosa seperti kita tidak pantas menerima kesempatan.’’
Cordelia melotot yang sudah dipenuhi darah sampai akhirnya terjatuh. Tidak lama kemudian, bu Christa juga memuntahkan darah dari mulutnya sambil meringis. Butiran air matanya terjatuh sebelum ia menghembuskan nafas terakhir.
......................
Keesokan harinya…
Setelah mendengar kabar kematian bu Christa dan Cordelia, semua orang langsung menuju ke kantor polisi. Tidak ada yang menduga kalau kedua wanita itu akan bunuh diri.
__ADS_1
‘’Kematiannya terjadi pada pukul 03:12 subuh tadi. Tim forensik menemukan Potassium sianida di dalam dua gelas milik korban. Petugas yang berjaga mengatakan kalau Bu Christa meminta air untuk dua orang karena merasa haus. Wanita itu cukup lama duduk termenung sebelum Cordelia-san bangun. Sepertinya dia menunggu semua orang tidur untuk memasukkan racun itu ke dalam gelas air agar tidak ada yang melihatnya,’’ lapor Petugas Reiki.
Kaji hanya mengangguk setelah yang lainnya mendengarkan hal itu. Mereka kemudian menatap Reon yang masih terpaku melihat mayat ibu dan neneknya yang dipenuhi darah.
Dengan berat hati, Eve menghampiri anak itu. ‘’Reon, ka—‘’
‘’Jangan sentuh aku!’’ seru Reon yang sudah menangis.
Ia menggertak gigi dengan perasaan emosi menguasai dirinya. ‘’Apakah kau sudah puas? Ibu dan nenekku telah tiada karena kalian semua! Kenapa ini harus terjadi?! Sejak kecil keberadaanku tidak diakui oleh keluarga Raymond. Aku hidup di keluarga yang dikagumi semua orang, tapi tidak mendapatkan kasih sayang dari mereka, meninggalkan dunia kuliner, dan sekarang ibu dan nenekku tiada!’’
‘’Reon, aku juga sama hancurnya dengan dirimu. Aku telah kehilangan ibu dan saudariku,’’ sedih Eve.
‘’Heh? Sama hancurnya? Kau bilang sama hancurnya denganku?! Tidak!!’’ seru Reon menangis.
‘’Aku benar-benar membenci kalian semua,’’ lanjutnya terisak.
‘’Benar-benar memuakkan,’’ kata Kein.
Reon menatap anak berambut itu penuh kebencian. Berbeda dengan Kein yang melontarkan tatapan datar seperti biasa.
‘’Kau dan ibuku memang tidak sama menderitanya. Kenapa? Ibuku sudah pernah kehilangan seorang ibu, dan sekali lagi dia kehilangan apalagi saudaranya juga ikut kali ini. Menurutmu siapa yang lebih hancur?’’ tanya Kane.
‘’Siapa yang bilang kau tidak memiliki siapapun?’’ tanya seseorang muncul di antara kerumunan.
Reon menatap sosok yang datang itu tidak lain adalah Jeremy.
‘’Kau memang kehilangan ibumu, tapi kau masih memiliki seorang ayah,’’ kata Kein.
‘’Kenapa kau datang?’’ tanya Reon dengan nada tidak suka.
Jeremy menatap Reon dengan wajah sendu. ‘’Tentu saja untuk berbagi kesedihan denganmu.’’
‘’Aku tidak butuh pria yang tidak mengakuiku bahkan tidak peduli kepadaku,’’ kata Reon.
‘’Kata siapa Jeremy-san tidak peduli? Apa matamu sudah mulai buta?’’ tanya Kane.
‘’Itu memang benar! Pria ini hanya suka bersenang-senang dan tidak memikirkan perasaan orang la—‘’
__ADS_1
‘’Jeremy-san sangat peduli kepadamu!’’ seru Kane memotong ucapan Reon.
‘’Cordelia-san sendiri yang melarang Jeremy-san untuk menemui dan menghubungi kalian. Ibumu hanya menghubungi pria ini hanya jika saat butuh. Jeremy-san membantumu menang di setiap kompetisi, apakah kau masih berpikir dia tidak peduli padamu?’’ tanya Kane.
‘’Kau mudah sekali bicara karena keluargamu masih lengkap. Coba bayangkan kalau kau berada di posisiku!’’ seru Reon.
‘’Aku tahu itu sangat sakit, karena itulah kami datang untuk mengulurkan tangan kepadamu,’’ kata Kane.
Reon terbelalak sambil melihat semua orang mengulurkan tangan kepadanya.
‘’Sebelumnya kau menempuh jalan yang salah. Kali ini, kau harus berada di jalan yang benar,’’ kata Kane.
‘’Meskipun kau anak yang kurang ajar yang tidak tahu sopan santun, kau tetap sepupu kami,’’ kata Kein.
Butiran air mata Reon terjatuh. Ia menundukkan kepala sebelum menerima uluran tangan. ‘’Hiks, aku membenci kalian!’’
......................
Setelah itu Reon berusaha menerima kehidupan barunya dengan menjadi pribadi yang lebih baik. Jeremy yang tidak pernah memiliki waktu untuk Reon, berusaha menebusnya mulai saat ini. Hubungan yang rusak kini terjalin kembali.
Namun, keajaiban terjadi. Reon yang mendengarkan pintu bel rumah berbunyi, segera membuka pintu.
"Ayah sudah pu—‘’
Deg!
Mata Reon membulat besar melihat sosok wanita yang berdiri di samping Jeremy. "I-Ibu? Bagaimana mungkin?"
Ya, semua orang tidak akan percaya, sebab Jeremy menemukan wanita yang wajahnya sama persis dengan Cordelia. Jeremy juga terkejut saat tidak sengaja membentur wanita itu di Mall.
"Namanya Claudia. Dia wanita yang baik, dan sepertinya aku jatuh hati kepadanya. Mungkin aku akan berniat menikahinya. Kau tidak keberatan?"
Butiran air mata Reon langsung terjatuh. Ia pun langsung memeluk wanita itu. "Ibu!"
Claudia sudah mendengar semuanya dari Jeremy. Ia pun tersenyum lembut sambil mengelus pucuk rambut Reon.
"Tadaima(Aku pulang)," kata Claudia.
__ADS_1
"Okaerinasai(Selamat datang kembali ke rumah)," isak Reon.