Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 128 Darah Berangka


__ADS_3

Dor!


Prank!


Cordelia tersentak begitu juga semuanya, terutama Reon. Anak itu terpaku karena peluru asli baru saja melewatinya.


Reon berbalik secara perlahan dengan wajah kaget, melihat peluru tadi memecahkan keramik di belakangnya. Ia menelan saliva bagaimana kalau peluru itu mengenainya barusan.


Kaji mengerutkan dahi tanda kesal. ‘’Reon-san, katakan di mana Shion-kun?’’


‘’Reon tidak akan memberitahumu,’’ kata Cordelia.


‘’Reon-san?’’ tanya Kaji sekali lagi.


‘’Kau ingin peluruku ini meladenimu sekali lagi?’’ tanya Kane.


Reon menggertak gigi sambil mengepalkan tangan, hingga akhirnya menghela nafas panjang. ‘’Dia….’’


‘’Reon!’’ seru Cordelia melotot membuat anak itu tersentak.


‘’Cordelia! Kau ini benar-benar jahat dengan mengancam anakmu sendiri! Reon, katakan di mana anak itu? Apakah kau ingin menjadi kriminal seperti wanita buruk ini?’’ kata Vic.


‘’Seburuk apa pun wanita ini, dia tetaplah ibuku,’’ kata Reon.


Cordelia tersenyum remeh karena ia tahu Reon akan berpihak kepadanya.


‘’Rumah sakit anak … Kalian akan menemukan Shion di sana,’’ jawab Reon.


Deg!


Dengan cepat Cordelia menoleh dan menatap putranya dengan tatapan tidak percaya. ‘’Reon!’’


‘’Kita bisa apa Ibu?! Kejahatan kita sudah terungkap dan polisi ada di sini. Ibu, kita sudah membalas dendam, jadi cukup sampai di sini saja,’’ kata Reon.


‘’Cih! Dasar anak tidak berguna! Kau menghianati ibumu sendiri yang telah berjuang membalaskan dendam untuk keadilan kita,’’ kata Cordelia.


‘’Kau benar-benar tidak punya akal. Anakmu saja menyadari kesalahannya, tapi kau tetap bersih keras membalas dendam,’’ kata Vic.


‘’Wanita asing yang suka ikut campur seperti dirimu diam saja!’’ kata Cordelia.


Hakuba berdiri di depan Vic membuat wanita itu terbelalak. ‘’Dia bukan wanita asing, tapi kekasihku.’’


Untuk sesaat semua orang terdiam dengan wajah loading hingga akhirnya heboh.


Kane memasang wajah bodohnya. ‘’Heh, ini bukan situasi yang tepat untuk mengatakan hal itu Paman Hakuba. Dasar.’’


Wajah Vic langsung merona, membuatnya menyembunyikan wajah menggunakan kedua tangannya.


A-Apa yang dikatakan Hokuto-kun? Ke-Ke-Kekasih? Aku? Dia mengatakannya di depan semua orang? Argh! Aku jadi malu, kata Vic dalam hati.


‘’Kelicikanmu sudah terungkap. Membusuklah di dalam penjara,’’ kata Kane.


‘’Kenapa kau terdengar gembira? Situasi masih belum berubah,’’ kata Cordelia.

__ADS_1


‘’Apa maksudmu wanita ular?’’ tanya Vic.


Cordelia tersenyum remeh. ‘’Kejahatanku mungkin memang terungkap, tapi kalian belum menemukan anak kembar yang satunya.’’


Deg!


‘’Untuk menjaga keadaan mati suri karena Hypothermia, sangat penting menjaga dan mengendalikan suhu-nya,’’ kata Cordelia.


‘’Erimi-san! Cepat periksa dan ambil alat kontrol itu di dalam bajunya!’’ pekik Kane.


Detektif Ryugen menahan tubuh Cordelia sambil detektif Erimi mencari alat itu. ‘’Tidak ada!’’


‘’Apa?’’ tanya Kane tidak percaya.


‘’Kau tidak akan menemukan tombolnya. Jika tombol itu ditekan, kontrol suhu akan dimatikan. Lalu di suatu ruangan di sini, anak itu akan mati untuk selamanya,’’ kata Cordelia.


Ia tertawa begitu keras karena menikmati pemandangan ini. ‘’Benar, benar, benar sekali. Ekspresi itulah yang ingin aku lihat dari kalian semua. Humphehe, wajah penderitaan saat kehilangan sesuatu. Karena kalian merusak kehidupan seseorang, maka rasakanlah akibatnya.’’


‘’Katakan di mana Kein-kun!’’ seru Kaji.


Mata Cordelia memicing. ‘’Sayounara bocah iblis.’’


‘’Tidak!’’ seru Kane.


‘’Akh!’’


Semua menoleh setelah mendengar suara itu. Mata Kane membulat melihat Adam mencengkeram tangan bu Christa yang sedang memegang tombol kontrol.


‘’Bagaimana mungkin?!’’ seru Cordelia.


‘’Lepaskan,’’ kata Bu Christa meringis.


‘’Christa?’’ tatap Pak Percy tidak percaya.


‘’Sangat aneh, wanita kasar sepertinya terlalu diam dan tenang. Apalagi, Cordelia melakukan gerakan aneh dengan selalu melirik sesekali ke seseorang. Saat itulah aku sadar kalau wanita itu sedang memberi kode kepada ibunya,’’ kata Adam.


Semua terbelalak karena tidak menyangka Adam menyadari hal sekecil itu. Kane juga langsung menyadari sesuatu.


‘’Christa? Jadi kau adalah pembunuhnya,’’ kata Kane membuat semua orang bingung dengan ucapan anak itu.


‘’Apa maksud Tuan Kane? Bukankah pembunuhnya adalah Cordelia-san?’’ tanya Inspektur.


‘’Aku tidak membahas soal kasus ini, melainkan kasus yang terjadi pada tanggal 8 agustus,’’ kata Kane.


Pak Percy tersentak. ‘’Bukankah itu hari kematian mendiang istri pertamaku?’’


‘’Ibu pernah menceritakan kematian nenek, yang ditemukan meninggal setelah ibu dan Kakek kembali ke rumah. Satu-satunya yang tertinggal di TKP adalah tulisan darah berangka di sekitar lantai, tempat nenek bergelimang darah,’’ kata Kane.


‘’3818919201,’’ kata Pak Percy yang masih mengingat darah berangka itu.


Kaji membuka ponsel dan melihat kasus waktu itu dan memang benar, kepolisian menemukan tulisan darah berangka. Mereka mempublikasikannya ke media sebagai satu-satunya petunjuk yang tertinggal.


‘’Lalu apa hubungannya dengan diriku? Kau ini mau berdosa karena menuduh orangtua sembarangan,’’ kata Bu Christa.

__ADS_1


‘’3-8-18-9-19-20 dan 1 … Dalam alphabet Inggris, menurutmu angka tadi membentuk kalimat apa?’’ tanya Kane tersenyum.


‘’3 adalah C,’’ kata Dokter Yuu.


‘’8 adalah H,’’ kata Vic.


‘’18 adalah R,’’ kata Yuki.


‘’9 adalah I,’’ kata Hakuba.


‘’20 adalah S,’’ kata Sekretaris Rey.


Pak Percy terbelalak. ‘’Dan 1 adalah A.’’


‘’Christa!’’ pekik semuanya.


Saat itu juga pak Percy langsung terjatuh sambil memegang jantungnya. ‘’Ka-Kau?!’’


‘’Tapi, kenapa Bu Laurence tidak menuliskan namanya secara langsung, tapi malah menggunakan angka?’’ tanya Vic.


Kane menatap bu Christa yang sudah terlihat sangat marah. ‘’Itu karena dia masih berada di sana. Kalau nenek menuliskan nama pelakunya, tentu saja pelaku itu akan menghapus pesannya. Tapi nenek menggunakan angka agar wanita ini tidak mengetahui kalau arti sebenarnya dari angka itu adalah namanya.’’


‘’Cih! Jadi dia memang menulis namaku, ya? Wanita itu … Bahkan setelah mati, dia tetap tidak membiarkan aku hidup tenang,’’ kata Bu Christa.


‘’Kalian berdua sebenarnya sudah saling mengenal sebelum bertemu Kakek. Anda merasa iri dan berniat membunuh nenek agar kau bisa masuk ke dalam keluarga Laurence,’’ kata Kane.


‘’Kenapa kau melakukan hal itu?’’ tanya Pak Percy sangat kecewa.


‘’Humph! Aku sudah muak dengan kehidupan miskinku bersama ayah biologis Cordelia. Setelah melihat keluarga kalian yang begitu bahagia dan harmonis, aku membencinya. Jadi aku membunuh wanita itu agar kehidupanku sedikit lebih baik,’’ kata Bu Christa.


‘’Dengan membunuh kakakmu sendiri?!’’ seru Pak Percy.


Deg!


Semua tersentak mendengar ucapan pak Percy terutama bu Christa.


‘’Kakak? Apa maksudmu?’’ tanya Bu Christa.


Butiran air mata pak Percy terjatuh. Ia menunduk ke lantai sambil menopang dadanya. ‘’Seharusnya aku memberitahumu sejak awal. Kina menceritakannya kepadaku, kalau dia sedang mencari adiknya yang sudah terpisah darinya selama 12 tahun. Kina yang membawamu hari itu ke rumah sakit, tidak sengaja melihat foto di dalam tasmu. Saat itulah adik yang selama ini dia cari akhirnya ketemu.’’


Bu Christa mengepalkan tangan dengan mata melotot.


‘’Kina lalu memberitahuku saat dia pulang, dan memintaku bersama Eve membeli beberapa barang untuk menyambut kedatanganmu. Dia begitu senang dan mempersiapkan jamuan untuk membawamu pulang bertemu denganku dan Eve. Tapi kau malah membunuhnya dengan kejam!’’ seru Pak Percy.


‘’Hentikan omong kosongmu! Aku sama sekali tidak memiliki kakak! Karena dia sudah lama mati!’’ seru bu Christa.


Pak Percy mengeluarkan sebuah foto yang selama ini ia bawa terus. Bu Christa terpaku melihat foto yang sama dengan miliknya.


‘’Jadi, karena itulah rumah kalian terdekorasi saat aku datang. Kupikir kalian akan berpesta,’’ kata Bu Christa.


‘’Aku membaca laporan tim forensik yang mengatakan setelah Anda membunuh nenek, mereka bilang kalau nenek sempat sadar untuk sesaat. Jika saja Anda tidak membuang waktu dan segera memanggil ambulan, mungkin nyawa saudari Anda masih bisa diselamatkan,’’ kata Kane.


Bugh!

__ADS_1


Bu Christa jatuh terduduk dengan butiran air mata. ‘’Ka-Kakak? Tidak mungkin, aku tidak membunuhnya. Bukan aku! Bukan aku hiks, hiks, hiks … Tidak … Ini pasti salah hiks, hiks….’’


__ADS_2