
Eve terdiam sambil menikmati angin menerpa wajahnya di balkon kamar.
Flashback on
‘’Terima kasih Kaji-kun. Kau menepati janjimu dengan menemukan pelakunya. Terima kasih sudah membersihkan namaku dan menyelamatkan kedua putraku,’’ kata Eve memeluk Kaji.
Kaji hendak membalas pelukan itu tapi tangannya terhenti setelah mengingat semuanya. Tangannya yang hendak mengelus pucuk rambut Eve langsung mengepal.
‘’Kalau ingin berterima kasih, jangan kepadaku,’’ kata Kaji.
Eve melepas pelukannya padahal Kaji sangat ingin membalasnya. ‘’Apa maksudmu? Sudah sepantasnya aku berterima kasih kepada orang yang telah menyelamatkan keluargaku.’’
‘’Tapi aku tidak pantas menerima ucapan terima kasih itu,’’ kata Kaji dengan wajah sendu.
‘’Kaji-kun, kenapa wajahmu seperti itu?’’ tanya Eve.
‘’Kali ini, bukan aku yang melakukannya. Aku … Aku tidak melakukan apa pun untuk membantu Kane-kun memecahkan kodenya atau membersihkan namamu, menemukan pelaku sebenarnya yang memegang alat kontrol untuk membunuh Kein-kun, membuat Kane-kun menyadari pelaku yang membunuh ibumu, bahkan mengetahui niat Cordelia-san yang akan menembak. Itu semua, bukan aku yang melakukannya,’’ ungkap Kaji dengan mata berkaca-kaca.
Eve menatap Kaji tidak percaya setelah mendengar ucapan pria itu. ‘’Kaji-kun….’’
Kaji memejamkan mata sambil menghela nafas tertahan. Tangannya mengepal. ‘’Orang yang berdiri di depan Kane-kun dan menerima peluru itu dengan telak adalah … Tuan Adam.’’
Deg!
‘’Apa?’’ tanya Eve terkejut.
‘’Ya, dialah yang melakukan semua itu. Jadi, ucapan terima kasih itu tidak pantas untukku,’’ kata Kaji meskipun ia juga tidak sudi mengatakannya.
Flashback off
Tangan Eve mengepal mengingat semua itu.
......................
Kamar Kane & Kein
‘’Ibu datang?’’ tatap kedua anak itu.
Eve tersenyum. ‘’Bagaimana kondisimu Kein?’’
‘’Ibu tidak perlu khawatir,’’ jawab Kein.
Aku sudah mengirim pesan kepada Vic untuk menghubungi Adam agar menemuiku di sini. Kalau kami bertemu di tempat yang lain, itu terlalu beresiko. Setidaknya aku ingin berterima kasih kepadanya, kata Eve dalam hati.
Kedua anak kembar itu hanya saling bertatapan karena melihat ibu mereka yang selalu melirik ke arah pintu.
‘’Aku tidak menyangka kalau mantan suami Ibu itu yang melakukan semua ini,’’ kata Kein.
‘’A-Aku juga berpikir seperti itu,’’ kata Eve.
Tapi di saat semua orang tidak berpikir jernih, hanya pria itu yang dengan tenangnya menyadarkan Kane, kata Kein dalam hati.
Ia tersenyum remeh membuat Kane menatapnya. ‘’Setelah dia menendang kita, dia menyelamatkan kita. Dasar, ayah yang bodoh.’’
__ADS_1
Deg!
Eve dan Kane tersentak mendengar ucapan anak berambut putih itu.
Aku tidak salah dengar, kan? Barusan Kakak menyebut kata ayah? Eh? Tunggu, kata Kane dalam hati.
Ayah? Kein menyebut Adam sebagai ayah? Eh, kata Eve dalam hati.
‘’Dia membantumu memecahkan kodenya dan membersihkan nama Ibu, menemukan pelaku sebenarnya yang memegang alat kontrol untuk membunuku, membuatmu menyadari pelaku yang membunuh nenek, bahkan menerima peluru itu dengan telak untuk melindungimu,’’ kata Kein.
‘’Kakak bilang apa?’’ tanya Kane.
‘’Aku bilang dia memban—‘’
‘’Bukan yang itu, tapi saat Kakak tadi mengatakan ayah yang bodoh,’’ kata Kane memotong ucapan kakaknya.
Kein langsung tersadar saat melihat reaksi dua orang di depannya, membuat wajahnya menjadi kaku.
Mata Kane memicing sambil tersenyum mencurigakan. ‘’Heh~ apakah ini artinya Kakak telah menerima pria itu sebagai ayah kita?’’
‘’Ba-Barou(Bo-Bodoh), aku sedang menjelek-jelekan dirinya,’’ jawab Kane.
‘’Hm~ sungguh?’’ tanya Kane meledek.
‘’Lalu bagaimana dengan dirimu? Pria itu sudah menyelamatkan nyawamu, apakah kau sudah berterima kasih padanya?’’ tanya Kein.
Kane langsung diam seribu bahasa. Semenjak kejadian itu, ia belum pernah mengucapkan terima kasih kepada Adam. Bahkan tidak tahu bagaimana kondisi pria itu sekarang. ‘’Humph! Kenapa aku harus berterima kasih padanya?’’
‘’Hm~ sungguh?’’ tanya Kein menyerang balik.
Sebelah alis Kein terangkat. ‘’Tapi raut wajahmu memperlihatkan kau sangat ingin berterima kasih kepadanya?’’
‘’Kakak!’’ kesal Kane mempoutkan kedua pipinya.
Dari luar kamar terlihat Kaji yang hendak masuk. Namun, niatnya terhenti saat mendengarkan pembicaraan itu.
‘’Ahaha, kalian berdua ini,’’ kata Eve yang kembali menatap ke arah pintu.
Kane mengerutkan dahi. ‘’Ibu menunggu seseorang?’’
‘’Eh?’’ tanya Eve tersentak.
‘’Sejak tadi, Ibu selalu menatap ke arah pintu. Apakah menunggu seseorang?’’ tanya Kane sekali lagi.
Ceklek!
‘’Ada—‘’ ucapan Eve terpotong saat melihat sosok Kaji yang juga sedikit terbelalak.
‘’Oh? Kaji-kun,’’ kata Eve hampir keceplosan.
‘’Aku mencarimu, jadi kupikir Eve-chan pasti ada di sini,’’ kata Kaji.
‘’Kenapa mencariku?’’ tanya Eve.
__ADS_1
Kaji menatap kedua anak kembar itu sekilas lalu kembali ke arah Eve. ‘’Kakek memanggil untuk membahas pernikahan kita. Semua keluarga Kamiya juga sudah menunggu.’’
‘’E-Eh? Tapi….’’
‘’Ada apa?’’ tanya Kaji yang melihat Eve sepertinya ingin menolak.
Eve tersenyum. ‘’Baiklah, ayo pergi.’’
Kaji tersenyum kepada kedua anak kembar itu sebelum pergi bersama Eve.
Setelah melihat kepergian ibu mereka bersama pria tadi, kedua anak itu kembali saling bertatapan.
‘’Barusan … Ibu ingin menyebut nama Adam, kan?’’ tanya Kane.
Kein mengangguk membenarkan yang juga berpikiran sama dengan adiknya.
......................
Lokasi Syuting
Karena pengakuan Hakuba waktu itu, membuat Vic selalu canggung saat bersama dengannya.
Kekasih, aku benar-benar sudah menjadi kekasihnya? Hokuto-kun dan aku berpacaran? Dibandingkan bintang Hollywood, sepertinya sutradara film tidak buruk, kata Vic dalam hati.
Vic menatap Hakuba yang mengarahkan para aktor mengenai adegan mereka. Setelah kasus pembunuhan aktornya beberapa bulan yang lalu, akhirnya Hakuba bangkit kembali.
Hakuba menoleh ke arah Vic membuat wanita itu tersentak. Ia tersenyum sebelum kembali memulai aktivitas.
Vi-chan, terima kasih. Berkat dirimu, aku kembali seperti semula. Terima kasih telah menemaniku sampai semuanya kembali normal, kata Hakuba dalam hati.
Sedangkan Vic yang menerima senyuman itu langsung terhanyut suasana. ‘’Dia sangat manis saat tersenyum. Humph! Ternyata strategiku berhasil, sekretaris dari manusia es itu tidak pernah menggangguku lagi setelah mengetahui kami pacaran.’’
Matanya melirik ke layar ponsel, melihat pesan notif dari Eve. ‘’E-Eh? 10 menit yang lalu? Argh maaf Eve, aku tidak melihat pesanmu karena fokus dengan sutradara-ku.’’
......................
Kein melirik wajah adiknya. ‘’Kenapa kau memasang raut seperti itu?’’
‘’Wajah Paman Kaji….’’
‘’Ada apa?’’ tanya Kein.
‘’Sepertinya Paman Kaji mendengar pembicaraan kita dan sadar dengan apa yang hendak Ibu katakan tadi,’’ kata Kane.
‘’Sadar apa?’’
Deg!
Kedua anak itu tersentak karena dokter Yuu tiba-tiba muncul di antara mereka.
‘’Paman Yuu membuat kami kaget saja,’’ kata Kane.
‘’Mengetuklah sebelum masuk ke kamar orang,’’ kata Kein.
__ADS_1
Dokter Yuu terkikik dan kembali duduk bergabung di sofa. ‘’Jadi sesuatu apa yang diketahui Kaji-san?’’