Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 59 Pertanyaan Mark


__ADS_3

Reon yang mendengarnya memasang raut wajah kusut karena tidak menyukai komentar dari Sendawara.


Hheh? Mahakarya dalam dunia kuliner? Mereka terlalu melebih-lebihkannya. Aku tidak melihat hal istimewa dari dalam dirinya sampai diberi julukan Si Iblis Makanan. Caranya memasak juga sama seperti para koki pada umumnya. Hanya satu pengecualian, karena dia juga ahli dalam seni, dia merubah hidangan layaknya seperti karya seni dan aku tidak akan membatah hal itu. Jadi apa yang membuatnya sampai diberi julukan Si Iblis Makanan? Heh, kata Reon dalam hati.


‘’Kalau begitu para juri akan mengumumkan keputusan mereka,’’ kata MC yang memberi aba-aba untuk menampilkan voting di layar.


‘’Peserta yang lolos ke babak final adalah….’’


Reon Raymond : 10 9 10 10


Sarrah Sean : 10 9 10 9


Kamiya Kein : 10 10 10 10


‘’Selamat! Reon Raymond dan Kamiya Kein, kalian berdua lolos ke babak final yang akan dilanjutkan pada pukul 15:00 sore nanti!’’ kata MC.


Reon terbelalak melihat hasil dari keputusan keempat juri. Apalagi orang-orang berbisik karena Bookmaster benar-benar tidak memandang bulu. Bahkan cucunya pun ia beri penilaian dengan jujur.


Apa? Nenek memberiku nilai 9 dari hidangan buatanku, tapi memberikan nilai 10 kepada hidangan milik Kein. Cih, beda 1 poin, ucapnya dalam hati.


......................


Perjalanan…


Cordelia yang menyaksikannya lewat streaming juga memasang raut wajah tidak suka. Ia benar-benar kesal dengan penilaian yang diberikan Nyonya Mary kepada Reon cucunya sendiri.


Padahal Reon jelas-jelas adalah cucunya. Tapi Nyonya Besar selalu saja memberikan penilaian yang tidak sempurna, kata Cordelia dalam hati.


......................


Akademi Chrysos


Karena babak semi-final selesai dan sudah tiba makan siang, semuanya bubar seperti biasa dan siap menantikan babak final yang akan dilanjutkan saat pukul 3 sore nanti.


93 peserta sebelumnya memberikan selamat kepada Kein dan Raymond yang lolos ke babak final. Tidak lupa dengan Sarrah yang hanya bisa sampai di babak semi-final.


‘’Kein-sama, akhirnya bisa sampai ke babak final, omedetou!’’

__ADS_1


‘’Tuan Reon semangat di babak final, ya?’’


‘’Kami benar-benar menantikan hal ini, saat Tuan Reon dan Tuan Kein bertemu di kompetisi yang sama.’’


‘’Tuan Reon yang merupakan kebanggaan dari keluarga Raymond.’’


‘’Lalu Tuan Kein yang merupakan anak didik dari keluarga Kamiya sekaligus Si Iblis Makanan.’’


‘’2 kandidat dari 2 keluarga ternama di dunia kuliner bertemu. Ini benar-benar sangat langka.’’


‘’Aku jadi bingung siapa yang akan berada di posisi puncak kali ini.’’


‘’Tuan Reon dan Tuan Kein sama-sama memiliki kemampuan yang begitu hebat.’’


‘’Meskipun hebat di dunia kuliner, tapi kalau lawanmu memiliki orang dalam, maka itu tetap mustahil untuk mencapai puncak,’’ kata seseorang menyela pembicaraan.


Semua orang menoleh terutama Reon dan Kein saat mendengar kalimat itu. Ya, orang yang ternyata melontarkan kalimat itu tidak lain adalah Mark.


Mereka masih menatap Mark yang sibuk dengan makanannya.


Mark tersenyum remeh. ‘’Menyindir Tuan Reon? Aku bahkan tidak menyebut nama seseorang, kenapa malah Anda yang tersinggung? Kecuali Tuan Reon memang memiliki orang dalam sehingga bisa mengetahui tema hidangan yang akan dibuat.’’


Reon tersenyum sambil mengernyitkan alis. ‘’Kau yang kalah di babak perempatan final kenapa malah melimpahkannya kepadaku? Jangan menyalahkan diriku. Kau kalah, itu berarti kemampuan memasakmu memang di bawah standar. Jangan membawa nama orang apalagi namaku.’’


Kein memicingkan mata mendengar ucapan Reon di akhir kalimat. Sedangkan Mark sudah mengepalkan tangan karena menahan emosinya.


‘’Meskipun aku dari keluarga Raymond, bukan berarti aku berbuat curang di setiap kompetisi. Harga diriku sebagai koki akan tercoreng dan aku tidak mau itu terjadi. Kalau kau menuduhku berbuat curang, kenapa tidak tanya langsung Bookmaster? Aku tidak akan mencegahmu, karena aku memang tidak berbuat curang apalagi menggunakan orang dalam. Mengenai hidangan yang aku buat, aku hanya mengikuti saran dari ibuku, dan aku sebagai anaknya tentu saja berkewajiban menuruti perintahnya. Itulah kenapa aku selalu meraih posisi puncak. Semua itu berkat saran dan doa dari ibuku, Cordelia Raymond,’’ kata Reon.


Semua hanya menatap kepergian Reon yang mengambil paket makanan, begitu juga dengan Kein yang menyusul.


......................


Ruang VVIP


‘’Aku sudah menyuruh koki khusus keluarga Raymond untuk membuat makan siang, jadi harap bersabar menunggu,’’ kata Tuan Moriarty.


Ceklek!

__ADS_1


Semua menoleh melihat kedatangan Nyonya Mary bersama ketiga Bookman dari Jepang yang ikut duduk bergabung. Salah satu Bookman menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah mencari seseorang. Kane yang melihatnya hanya mengangkat sebelah alis.


‘’Oh, Nona Eve sudah datang, ya? Anda sudah merasa lebih baik?’’ tanya Nyonya Mary.


‘’Benar. Karena itulah aku baru datang,’’ senyum Eve.


Pandangan Nyonya Mary beralih ke arah tangan Eve untuk memastikan wanita itu memakai gelang yang pernah ia berikan kepada menantunya.


Tidak ada? Gelang itu tidak ada di tangannya, apakah dia melepaskannya? Aku sangat yakin, dia memakai gelang itu saat acara malam yang diadakan di kediaman keluarga Raymond, kata Nyonya Mary dalam hati.


Eve yang melihat tingkah Nyonya Mary dibalik kacamata hanya menghela nafas pelan.


Syukurlah aku sempat melepaskan gelang itu sebelum datang kemari. Kalau Nyonya Besar kembali melihat aku memakai gelang itu, maka aku tidak akan bisa mencari alasan lagi, kata Eve dalam hati.


......................


Pintu Utama


Cordelia memasuki akademi dan menuju ruang VVIP di menara 3. Setelah menyaksikan pertandingan semi-final tadi, rasa frustasinya meningkat sambil ia semakin dekat ke ruang VVIP.


Cih, kenapa dia harus datang kemari? Aku harus membungkam mulutnya agar tidak mengatakan apa pun. Hhah, katanya dalam hati.


Ia terdiam untuk sesaat sebelum masuk ke dalam ruang VVIP. Ia memejamkan mata sambil menghela nafas panjang.


Ceklek!


Mata Cordelia memicing saat pandangannya langsung mengarah ke salah satu Bookman yang tersenyum miring ke arahnya.


......................


Setelah semua orang makan siang di kafetaria, mereka menyebar untuk jalan-jalan di akademi tersebut. Beberapa koki yang mengangumi Reon, mengikuti anak itu ke ruang pelatihan, sedangkan Kein memilih untuk bertemu dengan ibunya.


Namun, langkah Kein terhenti saat melihat Mark duduk sendirian sambil melihat majalah kuliner. Ia hanya berjalan melewati anak itu tanpa mengajaknya bicara.


‘’Tuan Kein,’’ panggil Mark dengan suara pelan membuat langkah Kein terhenti.


Ia menatap Kein yang masih diam membelakanginya. ‘’Hari itu, Tuan Kein mengatakan kalau saja aku tidak menuruti perintah Tuan Reon, maka yang lolos ke babak final dan bertarung dengan Anda adalah aku. Apakah itu benar?’’

__ADS_1


__ADS_2