
Kaji tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.
......................
Kediaman Kamiya di Indonesia
‘’Skakmat! Kakak menang lagi,’’ kata Kane.
Dokter Yuu menghela nafas disertai senyuman. ‘’Bukan Kane-kun, tapi kau juga selalu mengalahkan diriku bermain catur. Kalian berdua ini, apakah tidak memiliki kekurangan satu saja?’’
Kane hanya terkekeh mendengar hal itu, sedangkan Kein hanya mengangguk.
‘’Yosh! Sekarang Paman Yuu melawanku,’’ kata Kane hendak beralih posisi.
‘’Kurasa kita akhiri hari ini dulu,’’ kata Dokter Yuu.
Kane memasang raut wajah kecewa. ‘’Eh~ tapi kenapa?’’
Dokter Yuu mengkode kedua anak itu ke arah lemari jam hias. ‘’ Sudah hampir pukul sebelas siang, kita harus bersiap-siap.’’
Wajah Kane langsung cemberut. ‘’Haa, kita akan bertemu dengan keluarga Raymond sebelum kembali ke Jepang.’’
Kein berdiri menuju ke kamar, membuat Kane mau tidak mau juga menyusul kakaknya.
Namun, setelah kedua anak itu menaiki tangga, mereka terhenti. Terlihat Kaji yang tersenyum membuat anak kembar itu saling bertatapan.
......................
Kediaman Raymond
Tuan Moriarty menatap istrinya yang sedang berdiri di depan jendela besar. ‘’Sayang, apakah ada sesuatu yang mengganggumu?’’
‘’Hari ini, Eve akan kembali ke Jepang bersama kedua anak kembarnya. Sepertinya tidak ada harapan lagi Eve kembali ke keluarga ini,’’ kata Nyonya Mary.
Tuan Moriarty terdiam untuk sesaat. ‘’Aku benar-benar minta maaf.’’
Nyonya Mary mengerutkan dahi lalu berbalik melihat suaminya.
‘’Jika saja hari itu aku tidak meragukan Eve, dan bisa mencegah Adam menendangnya keluar, mungkin keluarga kita tidak akan hancur seperti ini karena ulah Cordelia,’’ kata Tuan Moriarty.
‘’Tidak ada gunanya mengeluh saat ini. Sebaiknya kita segera bersiap,’’ kata Nyonya Mary.
......................
Sebuah mobil terhenti sambil sang supir keluar untuk membuka pintu mobil. Adam dan Sekretaris Rey terbelalak melihat tempat pertemuan yang sudah diatur oleh Tuan Yuki.
Dari semua tempat, Tuan Yuki memilih tempat ini, kata Adam dalam hati.
Sepertinya aku akan bertemu dengan wanita itu lagi, kata Sekretaris Rey dalam hati.
Tidak lama kemudian setelah Adam dan Sekretaris Rey memasuki restoran tersebut, sebuah mobil menyusul yang memperlihatkan sosok Tuan Moriarty dan Nyonya Mary.
‘’Eh? Tempat ini?’’ tatap Nyonya Mary.
‘’Tuan Yuki memilih tempat ini, tapi kenapa?’’ tanya Tuan Moriarty.
Namun, pasangan itu hanya bisa pasrah dan berjalan masuk. Salah satu pekerja restoran menuntun mereka ke sebuah ruangan VVIP.
__ADS_1
‘’Silahkan masuk Tuan Besar, Nyonya Besar … Tuan Muda sudah ada di dalam,’’ kata pria pekerja restoran.
Ceklek!
Seperti yang dikatakan pekerja restoran tadi, di dalam sudah terlihat Adam yang duduk di kursi sambil Sekretaris Rey berdiri di sampingnya.
Sekretaris Rey membungkuk memberi hormat untuk menyambut kedatangan tuan dan nyonya Raymond.
Dari pintu utama, sebuah limousine terhenti. Saat supir membuka pintu limousine, muncul Tuan Yuki dan yang lainnya.
Eve terbelalak melihat bangunan di depannya sambil melirik ke arah Kaji. ‘’Kaji-kun, tempat ini….’’
Kaji tersenyum dan meletakkan tangan Eve di lengannya. ‘’Tetap seperti ini.’’
Mereka pun berjalan masuk dan menuju ke ruang VVIP yang sudah dipesan.
Ceklek!
Wajah Adam langsung kusut, berbeda dengan Kaji yang tersenyum.
Apakah dia sengaja ingin membuatku cemburu? Apa-apaan tangannya itu? Kenapa dia menggandeng lengan pria lain di depanku? Cih, kata Adam dalam hati.
‘’Tuan Yuki sudah tiba,’’ kata Tuan Moriarty.
‘’Apakah kalian sudah menunggu lama?’’ tanya Tuan Yuki.
‘’Tidak, kami baru saja tiba,’’ senyum Tuan Moriarty.
‘’Syukurlah, aku kira kalian sudah menunggu lama,’’ kata Tuan Yuki.
Saat itu juga, seorang wanita datang membawakan pesanan yang sudah dipesan. Semuanya sedikit terkejut melihat wanita itu, begitu juga dengan wanita pekerja restoran.
‘’Hai Kane,’’ senyum Vic.
Pandangannya langsung mengarah ke Sekretaris Rey yang ada di belakang Tuan Moriarty.
Sekretaris Rey melambaikan tangan membuat Vic kesal.
‘’Jadi Nona Vic yang mengantar makanan in—‘’
‘’Berhenti menyapaku!’’ kesal Vic yang lalu tersadar.
Semua saling bertatapan bingung, berbeda dengan Vic yang sudah meringis karena frustasi.
‘’Tidak, kalimat itu bukan untuk Tuan Besar. Sa-Salam,’’ senyum Vic.
Vic melirik Sekretaris Rey yang tampak menikmati dirinya dipermalukan. Hal itu membuat Vic kembali kesal, namun ia menahannya.
‘’Nona Vic benar-benar bekerja di sini, ya?’’ tanya Tuan Moriarty.
Vic mengangguk dengan perasaan kaku. ‘’Benar, Tuan Besar.’’
Sekretaris Rey hendak menyentuh sesuatu sambil Tuan Moriarty mengulurkan tangan untuk mengambil garpu.
‘’Jangan sentuh apa pun! Kau tidak berhak melakukannya!’’ tegur Vic membuat Tuan Moriarty terhenti.
Vic meringis kesal. Ia menghela nafas dengan wajah masam. ‘’Percayalah, aku tidak menegur Tuan Besar.’’
__ADS_1
‘’Nona Vic, apakah kau baik-baik saja?’’ tanya Tuan Moriarty.
‘’Ya Tuan Besar, saya baik-baik saja,’’ jawab Vic.
Semua orang saling memandang satu sama lain dengan tatapan bingung.
‘’Kalau begitu, silahkan nikmati jamuannya,’’ kata Vic.
Urat-urat di kening Vic kembali menegang karena melihat Sekretaris Rey mengajaknya bicara menggunakan isyarat.
‘’Sudah berapa lama Nona Vic bekerja di—‘’
‘’Aku bilang diamlah! Jangan katakan apa pun!’’ kesal Vic sekali lagi memotong ucapan Tuan Moriarty.
Sekretaris Rey hanya diam dan kembali tenang. Sedangkan Vic menatap ke arah Eve.
Eve, habislah aku, ucapnya dalam hati.
‘’Hiks, Eve,’’ isak Vic membuat semua orang semakin bingung.
Eve segera berdiri dan menghampiri sahabatnya yang terisak itu. ‘’Ahaha, maaf, aku akan membawanya keluar.’’
‘’Hiks, hiks, Eve,’’ rengek Vic karena merasa hidupnya sudah berakhir.
‘’Tuan Besar, tolong jangan hukum aku. Semua yang aku katakan tadi bukan kepada Tuan Besar, hiks,’’ isak Vic sambil dibawa keluar oleh Eve.
Ceklek!
Semua hanya diam sambil memandang satu sama lain.
‘’Apa yang sebenarnya terjadi di sini?’’ tanya Tuan Moriarty.
Sekretaris Rey yang berdiri di belakangnya hanya menahan tawa. Adam yang melihat hal itu langsung mengerti dan hanya menghela nafas.
......................
Koridor Restoran
‘’Apa yang terjadi denganmu?’’ tanya Eve.
Vic yang merengek langsung menghela nafas kasar. ‘’Semua ini gara-gara dia!’’
‘’Dia? Dia siapa?’’ tanya Eve.
‘’Sekretaris itu! Dia sengaja membuatku emosi. Karena dia berdiri di belakang Tuan Besar, maka semua orang menganggap ucapanku itu ditujukan kepada Tuan Besar,’’ kata Vic.
Eve mengerutkan dahi. ‘’Kau memiliki hubungan dengan Sekretaris Rey?’’
‘’Tidak! Aku tidak memiliki hubungan dengannya,’’ kesal Vic.
‘’Lalu kenapa dia melakukan hal seperti itu kepadamu?’’ tanya Eve.
Vic menghela nafas panjang dan menceritakan kejadian di supermarket kepada Eve. Setelah mencerna situasi, akhirnya Eve mengerti.
‘’Dia membenciku, karena itulah dia sangat menikmati kalau aku sengsara,’’ kata Vic.
‘’Dia tidak membencimu … Dia hanya suka menggodamu, ’’ kata Eve.
__ADS_1
Vic terbelalak sambil menatap Eve. ‘’Apa katamu?’’