
‘’Apa maksudmu anak kecil?’’ tanya petugas pria.
‘’Tidak masuk akal kalau kedua orang itu tewas karena bingkai kacanya menimpa mereka. Meski bingkai kaca itu memang terjatuh dan menimpa mereka, seharusnya kedua orang itu hanya menderita luka kecil. Tapi, pecahan kaca dari bingkai tersebut bahkan menancap di leher keduanya. Bukankah itu sangat aneh?’’ tanya Kane.
Petugas pria tadi menghela nafas. ‘’Apa yang dilakukan anak kecil di tempat seperti ini? Hei, cepat bawa anak ini keluar!’’
‘’Menyeret cucu dari keluarga Kamiya di hadapanku secara langsung, nyalimu besar juga,’’ senyum Nyonya Vaioretto.
Inspektur membungkuk dan meminta maaf atas kejadian tadi.
Petugas yang mengingat perkataan nyonya Vaioretto dan tingkah Inspektur tadi, langsung tersadar sambil menatap Kane. ‘’Eh? Jangan bilang dia adalah….’’
‘’Benar. Dia adalah Kamiya Kane-sama, Si Iblis Deduksi, anggota Divisi Detektif termuda dalam kepolisian,’’ kata Inspektur.
Petugas tadi langsung menghadap ke nyonya Vaioretto dan membungkuk. ‘’Moushiwake arimasen Vaioretto-sama. Saya Nakamura Reiki telah melewati batas.’’
‘’Tapi Kane-kun, kalau ini memang kasus pembunuhan, siapa yang membunuh suami dan pembantu Nyonya Kohide, sedangkan rumah dalam kondisi terkunci dari dalam?’’ tanya Inspektur.
‘’Nyonya Kohide, Anda di mana dan kenapa meninggalkan rumah?’’ tanya Petugas Reiki.
‘’Ini hampir siang, jadi aku membawa makanan untuknya. Tapi, aku terkejut karena ada begitu banyak orang dan mobil di depan rumahku,’’ jawab Nyonya Kohide.
‘’Membawa makan siang? Anda bisa memasaknya di rumah. Apakah Nyonya Kohide tinggal berpisah dengan suami Anda?’’ tanya Petugas Reiki.
‘’Tidak. Hubungan kami bahkan sangat baik. Hanya saja, suamiku tidak ingin diganggu saat menulis lagu, jadi aku memasak makanan di rumah tetangga sebelah,’’ jawab Nyonya Kohide.
‘’Bukankah Anda memiliki pembantu? Kenapa tidak menyuruhnya dan malah Anda yang melakukannya?’’ tanya Petugas Reiki.
Nyonya Kohide terisak. ‘’Ceritanya panjang. Kumohon segera temukan pembunuhnya.’’
......................
Sudah satu jam berlalu setelah polisi menggeledah rumah tersebut dan tidak menemukan bukti, membuat nyonya Kohide hendak pergi.
‘’Aku ingin mengurus pemakaman suami dan pembantuku dulu. Shitsurei shimasu(Permisi),’’ kata Nyonya Kohide.
Namun, belum sempat wanita itu meninggalkan ruangan, Kane mencegahnya. ‘’Kohide-san, Anda tidak boleh meninggalkan tempat ini dulu.’’
‘’Ada apa anak kecil? Aku harus bertemu dengan keluarga Hanaru-san,’’ kata Nyonya Kohide.
‘’Sebelum itu, ada sesuatu yang ingin aku minta kepada Anda,’’ kata Kane.
Nyonya Kohide mengerutkan dahi. ‘’Sesuatu?’’
Kane tersenyum. ‘’Jika Anda tinggal sedikit lebih lama, Kohide-san akan mengetahui siapa pembunuhnya.’’
__ADS_1
Semua terbelalak saat mendengar ucapan anak itu.
‘’Kane-kun sudah mengetahui siapa pelakunya?’’ tanya Inspektur.
‘’Bisakah kalian membawa bingkai kaca besar yang berukuran sama?’’ tanya Kane.
Namun, petugas Reiki melarang semua orang keluar.
‘’Minta kepada Ibu Suri Agung saja,’’ kata Kein.
Kane tersenyum di depan petugas Reiki sambil memiringkan kepalanya untuk melirik seseorang di belakang pria itu dengan mata menyipit. ‘’Ibu Suri Agung, bisakah aku membeli sebuah bingkai kaca dengan ukuran yang sama?’’
Semua terbelalak dan saling bertatapan bingung. ‘’I-Ibu Suri Agung?’’
Ibu Suri Agung ... Jadi Nyonya Vaioretto adalah Ibu Suri Agung-nya. Aku baru ingat kalau mereka memiliki hierarki aneh. Tapi, aku tidak tahu kalau kedua putraku juga mengetahui hierarki ini, kata Eve dalam hati dengan wajah bodohnya.
‘’Kalian dengar itu? Pesan sebuah bingkai yang berukuran sama dengan bingkai yang pecah barusan!’’ perintah Nyonya Vaioretto.
......................
Sebuah bingkai berukuran besar dengan ukuran yang sama dalam kondisi baru pun tiba. Kane menyuruh para petugas untuk menggantung bingkai besar tadi di atas sofa.
‘’Kita akan menyaksikan Si Iblis Deduksi secara langsung memecahkan kasus pembunuhan,’’ kata wakil Komisaris.
‘’Aku hanya mendengar musik dan tidak ada yang terjadi,’’ kata Petugas Reiki.
‘’Ini dia,’’ kata Kane menyentuh semua tombol speaker dan menariknya turun.
‘’Kane-kun, kenapa menurunkan musiknya?’’ tanya Dokter Yuu.
Kane tersenyum sambil menekan salah satu tombol speaker dan mendorongnya hingga pertengahan. Terlihat setengah batang di bagian frekuensi 20k.
Guk! Guk! Guk!
Semua mendengar suara anjing menyalak dan terbelalak melihat bingkai kaca besar itu bergetar.
‘’Eh? Apakah ini kekuatan gaib?’’ tanya Petugas Reiki.
Kane mendorong tombol speaker hingga rapat ke atas, dan setengah batang di layar tadi juga full ke atas. Anjing menyalak begitu sangat keras.
Prank!
‘’Kaca bingkai itu pecah! Bagaimana bisa?!’’ pekik semuanya.
‘’Kane-sama tidak melakukan apa-apa,’’ kata Inspektur.
__ADS_1
‘’Frekuensi Natural ... Itulah trik untuk memecahkan kaca,’’ jawab Kane.
‘’Apakah yang Kane-sama maksud adalah resonansi?’’ tanya Petugas Reiki.
‘’Benar. Semua benda akan bergetar jika beresonansi dengan frekuensi tertentu. Musik yang diputar di ruangan ini distel pada frekuensi tertentu sehingga menggetarkan kaca bingkai. Di trik ini, diletakkan speaker di belakang bingkai foto yang sengaja dipasang agar frekuensi suara itu bisa keluar,’’ jawab Kane.
Inspektur mengerutkan dahi. ‘’Suara? Tapi kita tidak mendengarkan suara apa pun.’’
‘’Apa pun di atas 20.000 hertz, tidak akan terdengar oleh telinga manusia. Walaupun manusia tidak, tetapi anjing bisa. Makanya anjing itu menyalak terus dan ribut. Untuk anjing, itu suara yang sangat keras,’’ jawab Kane.
‘’Kaca di bingkai itu tidak bisa bertahan lagi terhadap getaran yang ditimbulkan frekuensi, dan akhirnya pecah. Pelakunya menggunakan senjata yang tidak terlihat untuk membunuh kedua orang itu, dan senjatanya adalah resonansi. Bukankah itu benar ... Kohide-san?’’ tanya Kane.
Semua terbelalak sambil menatap nyonya Kohide dengan wajah tidak percaya. ‘’Jangan bilang….’’
‘’Ha(Iya). Han'nin wa anata-desu(Pelakunya adalah Anda). Saat memasuki ruangan ini, Anda berpura-pura terkejut sambil menjauh, agar Anda bisa mematikan speaker. Petugas Reiki, silahkan periksa bagian kontrol, sidik jarinya pasti ada di sana,’’ kata Kane.
Nyonya Kohide menghela nafas panjang. ‘’Ketahuan, ya?’’
‘’Kohide-san, kenapa Anda tega membunuh suami dan pembantu Anda? Mereka berdua tidak pantas menerima kematian seperti ini. Anda bisa melaporkan kesalahan mereka ke polisi,’’ kata Petugas Reiki.
‘’Hukum tidak pantas bagi pembunuh seperti mereka, hanya kematian yang pantas!’’ kata Nyonya Kohide.
‘’Pembunuh?’’ bingung Inspektur.
‘’Mereka berdua lalai menjaga bayi Anda dan memilih berselingkuh,’’ jawab Kane.
Deg!
‘’Saat menyusuri rumah ini, perhatianku teralihkan oleh salah satu ruangan. Dari semua ruangan di rumah ini, hanya kamar itu yang memiliki aroma. Meskipun tidak masuk karena menjaga privasi Anda, aku mencium aroma seperti pohon Boswellia. Tidak mungkin pohon itu ditanam di dalam kamar. Setelah dipikir-pikir, jika getah pohon Boswellia diolah, maka menghasilkan kristal yang digunakan untuk pewangi ruangan. Tapi itu akan aneh, kalau hanya satu ruangan di rumah ini yang diberikan pewangi. Akhirnya, aku menyadari aroma itu bukanlah pewangi ruangan, melainkan dupa,’’ kata Kane.
Nyonya Kohide tersentak sekali lagi.
‘’Dupa? Eh? Jangan bilang di ruangan itu,’’ tebak Petugas Reiki.
‘’Dia menyalakan dupa untuk memperingati kematian bayinya,’’ kata Kane.
Mata Nyonya Kohide langsung memerah dan berkaca-kaca. ‘’Kosuke-kun ... Aku menitipkannya kepada suamiku dan Hanaru-san saat aku hendak ke pasar. Tapi, saat aku pulang, aku terpaku melihat bayiku sudah terkapar di depan teras bergelimang darah. Ya, Kosuke-kun terjatuh dari atas. Aku mengecek ruangan suamiku dan melihatnya berselingkuh dengan pembantu kami sendiri. Dan mereka mengabaikan penjagaan terhadap bayiku!’’
‘’Karena itulah, Anda menunggu untuk membunuh suami dan pembantu Anda tepat di hari yang sama bayi Anda meninggal hari ini,’’ kata Kane.
Nyonya Kohide menangis dengan sangat histeris. ‘’Kosuke-kun, hiks, Kosuke-kun, humph, humphehe, Kosuke-kun? Aku sudah membalas kematianmu, hiks, hiks….’’
...Visual Petugas Reiki...
__ADS_1