
“Sebelum mencicipi sushi itu, silahkan Anda sekalian memakan sushi yang ada di sebelah kiri atas,” kata Kein.
Bookmaster menatap sushi di barisan paling atas adalah sushi dengan tema hasil laut. Para penguji tidak ragu memperlihatkan reaksi menikmati dari wajah mereka.
“Sushi ini membentuk perpaduan rasa yang sempurna di dalam mulut, selama Anda memakan sushi ini secara berurutan,” kata Kein.
Setelah sushi di barisan atas habis, selanjutnya mereka memakan sushi di barisan kedua, yaitu sushi sayur mayur.
“Benar-benar lezat,” puji Koki bintang 3.
Bookmaster menatap sushi di barisan ketiga. “Sepertinya ini hidangan utamanya.”
“Benar. Sushi dengan daging sapi yang diawetkan,” kata Kein.
Para penguji langsung terdiam saat mencicipi sushi itu.
“Lagi-lagi rasa yang luar biasa,” puji Kepala Koki.
Selanjutnya makanan terakhir. Para penguji terdiam sambil melihat sushi yang terakhir di atas sendok.
“Bola apa yang diletakkan di sebelah kiri sushi ikan air laut ini?”
Deg!
Semua tersentak begitu sushi tersebut masuk ke dalam mulut mereka. “Bola ini … Kaldu yang dipadatkan.”
Dengan masakannya, dia mampu menghibur para tamu dari awal sampai babak ini, kata Nyonya Mary dalam hati.
......................
Ruang VVIP
Tuan Yuki tersenyum melihat hal itu dari atas.
“Paman Yuki, kau sedang membuat apa?” tanya Kein.
“Oh ini, aku sedang membuat temari sushi,” jawab Tuan Yuki.
“Apakah harus sampai menggunakan laboratorium makanan seperti ini?” tanya Kein.
Tuan Yuki tersenyum dan mengangguk membenarkan. “Ya, itu karena temari sushi ini sangat penting dan berharga. Aku membuatnya untuk hadiah ulang tahun Kaji.”
“Paman Kaji ulang tahun?” tanya Kein.
“Benar. Dia menyukai sushi jadi aku membuatkan sushi spesial ini untuknya,” kata Tuan Yuki.
Kein hanya diam sambil memperhatikan aktivitas pria itu.
__ADS_1
“Kebetulan kau di sini. Aku membuatkan satu untukmu, jadi kau bisa menilai temari sushi ini. Douzou,” kata Tuan Yuki menyodorkan wadah stainless yang ditutupi penutup transparan, dimana di dalamnya ada kotak berisikan 12 sushi dengan tema berbeda.
“Ada asap dibalik penutup ini,” kata Kein.
“Sebelum kau memakan sushi itu, sebaiknya kau mulai makan sushi yang ada di barisan paling atas, lalu makan secara berurutan,” kata Tuan Yuki.
Ia pun menjelaskan semuanya sambil Kein mencicipi sushi tersebut.
Kein terdiam setelah mencicipi temari sushi tadi.
“Bagaimana rasanya? Apakah sudah sempurna atau malah justru ada kekurangannya?” tanya Tuan Yuki.
Kein hanya diam membuat pria itu tetap tersenyum menunggunya bicara.
“Bisa perlihatkan proses pembuatan sushi ini dari awal?” tanya Kein.
Tuan Yuki terbelalak hingga akhirnya menghela nafas sambil tersenyum.
Dasar, aku meminta untuk mengeluarkan pendapat mengenai sushi ini. Tapi dia malah memintaku untuk memperlihatkan proses pembuatannya. Haa, aku jadi harus membuat temari sushi ini untuk ketiga kalinya. Si Iblis Makanan ini, kata Tuan Yuki dalam hati.
“Baiklah, pertama-tama lakukan ini,” kata Tuan Yuki yang memulai. (Tuan Yuki teringat)
Jadi dia menggunakan temari sushi itu untuk babak ini, ucapnya dalam hati.
Berbeda dengan Tuan Yuki yang memiliki kesan indah dibalik hidangan sushi di babak ini, bagi Adam, Eve dan Kaji, hidangan sushi itu mengingatkan mereka dengan kesan yang sedih.
Karena jam sudah menunjukkan tengah hari membuat mereka beristirahat sebelum melanjutkan babak selanjutnya.
......................
Koridor Akademi
Adam berjalan sambil mengingat kejadian tadi pagi.
“Oh, Tuan Kaji, kita bertemu lagi,” kata Tuan Moriarty mengulurkan tangan.
*Kaji tersenyum sambil membalas uluran tangan pria itu, lalu beralih ke Nyonya Mary. Ia terdiam saat giliran Adam.
Kedua pria itu langsung mengingat kejadian di RayMNDS Food’s. Meskipun begitu, mereka tetap bersalaman tanpa menyapa*.
“Nona Eve tidak datang?” tanya Nyonya Mary.
Cordelia sedikit tersentak.
“Calon istriku demam jadi aku menyuruhnya istirahat saja,” kata Kaji dan sepertinya Adam tidak menyukai kalimatnya. (Adam teringat)
Dia sakit atau tidak ingin bertemu denganku? Cih, kata Adam dalam hati.
__ADS_1
Begitu juga dengan Cordelia yang terdiam sejak tadi.
Eve? Apa maksud ibu mertua mengatakan hal itu? Apakah Eve yang dia maksud adalah calon istri Tuan Kaji? Tapi, kenapa namanya sama dengan nama kakak? Tidak, tidak, mungkin hanya kebetulab nama mereka sama. Mustahil orang yang sudah meninggal kembali hidup. Aku sudah memerintahkan pembunuh bayaran itu untuk melenyapkan kakak. Argh! Meski begitu, aku penasaran ingin bertemu dengan wanita ini, kata Cordelia dalam hati.
Aku tidak salah dengar, kan? Nyonya Besar menyebut nama Eve tadi pagi yang merupakan tunangan Tuan Kaji. Apakah mungkin dia adalah Eve? Semenjak aku sadar dari rumah sakit, Christa mengatakan kalau Eve meninggal, dan itu sangat membuatku terluka. Tapi, hari ini Nyonya Besar menyebut nama Eve. Haa, calon istri Tuan Kaji, aku harus melihat wajahnya, kata Pak Percy dalam hati.
Tunggu dulu, kenapa Nyonya Besar tiba-tiba menyebut nama Eve di depan kami? Ini sudah 5 tahun semenjak Cordelia melenyapkan Eve, dan sekarang nama itu kembali muncul. Hm, apakah mungkin seseorang tanpa sengaja bisa memiliki nama yang sama? Stt, kata Bu Christa dalam hati.
......................
Kafetaria
Para peserta yang telah gagal hari ini tetap memberikan ucapan kepada 4 peserta yang lolos.
"Bagaimana kondisi Tuan Kein?"
"Kami tidak sempat menanyakan kabar Anda tadi pagi karena kompetisi langsung diadakan."
"Tuan Kein terlihat sedikit pucat. Memasak dalam kondisi seperti ini pasti mengganggu, tapi Anda sama sekali tidak ada masalah."
"Si Iblis Makanan memang hebat."
Reon yang melihat Kein lebih dikepung membuat wajahnya langsung kusut. Ia berjalan untuk mengambil paket makanan.
"Sebaiknya kita semua makan. Kondisi Tuan Kein sedang tidak baik, jadi jangan membuatnya berdiri lebih lama," kata Mark.
Kein dan yang lainnya pun juga mengambil paket makanan dan menuju ke meja untuk bergabung bersama Reon.
"Wah, wah, sebuah keberuntungan bisa satu meja dengan Tuan Reon dan Tuan Kein."
"Penampilan Tuan Reon juga tidak kalah keren seperti biasa."
"Aku yakin babak final akan seru."
"Tapi aku bingung, siapa yang akan menduduki posisi pertama kali ini?"
Reon tersenyum remeh sambil meletakkan sendoknya. "Sudah jelas kalau aku yang akan memenangkan kompetisi ini sekali lagi."
Semua menatap ke arah Kein yang makan dengan tenang tanpa terganggu sedikitpun.
"Hem! Jadi menurut Tuan Kein, siapa yang akan menduduki posisi pertama dalam kompetisi ini?" tanya Mark.
"Babak final masih belum dimulai, kenapa kau membahas posisi pertama seolah-olah sudah mengetahui pemenang kompetisi ini? Kecuali kau memiliki orang dalam untuk mencapai puncak. Benar, kan?" tanya Kein telak.
Semua yang mendengarnya langsung terdiam terutama Mark.
"Hehe, kami hanya penasaran saja karena Tuan Kein ikut kompetisi ini," kata Mark terkekeh.
__ADS_1
Sedangkan Reon mengepalkan tangan yang memegang sendok.