
‘’Dilihat dari situasi, seseorang sengaja ingin membunuh kakak dengan mencampurkan racun ke dalam teh. Masalahnya adalah siapa dan bagaimana cara pelaku mencampurkan Botulinum Toxin ke dalam teh?’’ tanya Kane.
‘’Yang pertama harus dicurigai adalah orang yang membuat teh hari itu,’’ kata Inspektur mengulang kembali kasus tersebut.
‘’Kita mencurigai pelayan yang terakhir menuangkan teh untuk Tuan Kein kalau dialah yang memasukkan racun itu. Tapi, teh yang dituangkan olehnya adalah teh dari teko yang sama untuk semua orang. Jika teh yang disajikan mengandung Botulinum Toxin di dalamnya, maka kita semua sudah mati. Lalu, kenapa hanya kakak yang terkena efek racunnya?’’ tanya Kane.
‘’Racunnya mungkin sudah dituangkan terlebih dahulu ke cangkir, dan itu tidak benar,’’ kata Dokter Yuu.
‘’Kita semua memilih secara acak cangkir teh yang kita sukai dari lemari koleksi Kaji. Mustahil untuk memperkirakan cangkir mana yang akan Kein-kun pilih, dengan racun yang sudah dimasukkan ke cangkir tersebut. Jika perkiraan pelaku meleset, maka orang lain yang akan mati,’’ kata Tuan Toki.
‘’Ada begitu banyak cangkir di lemari koleksi yang kita pilih secara acak, jadi mustahil pelaku bisa mengetahui cangkir mana yang akan kita ambil,’’ kata Adam.
‘’Eve-chan memberi gula batu, karena Kein-kun selalu menggunakannya saat minum teh atau kopi. Karena Eve-chan yang meminum teh itu lebih dulu, seharusnya orang pertama yang langsung terkena efek racun tersebut adalah dia sendiri,’’ kata Kaji.
‘’Dari keseluruhan cerita, jadi bagaimana Kein-kun bisa diracuni?’’ tanya Hakuba yang telah mengerti situasi.
‘’Bagaimana kalau Botulinum Toxin tidak dicampur ke dalam teh, tetapi dilumuri pada ... Pinggir cangkir?’’ tanya Kane.
Deg!
Semua tersentak mendengar ucapan Kane terutama Cordelia.
‘’Itu berarti….’’
Kane membenarkan dugaan Inspektur. ‘’Ya, lebih tepatnya setengah cangkir. Jika mengangkat cangkir menggunakan tangan kanan, minum di sepanjang area yang tidak dilumuri racun tidak akan tersentuh oleh bibir. Dengan begitu, walaupun ibu mencoba teh milik kakak, dia tidak akan mati.’’
‘’Meski begitu, bagaimana Tuan Kein dengan sengaja meminum teh di bagian area yang dilumuri racun?’’ tanya Petugas Reiki.
‘’Biasanya, kita memegang cangkir dengan tangan kanan yang dominan. Cobalah ingat bagaimana cara kakak minum di setiap afternoon tea yang dilakukan setelah tiba di sini,’’ kata Kane.
Semua orang terdiam setelah menyadari ucapan anak itu. Sekali lagi Kane mengangguk membenarkan.
‘’Ya, kakak satu-satunya di jamuan afternoon tea yang menggunakan tangan kiri. Kakak minum menyerupai gaya salah satu karakter di anime Attack on Titan, Levi Ackerman. Memegang seluruh sisi atas cangkir bagian kanan, lalu meminum bagian kiri yang dilumuri racun. Jadi, apa pun yang kakak pilih dari lemari, hasilnya hanya kakak yang terkena racun Botulinum Toxin. Dia memantau kebiasaan kakak,’’ kata Kane.
‘’Itu berarti semua cangkir di lemari itu dilumuri racun di bagian kiri?!’’ pekik Yuki.
‘’Cordelia-san, kau berniat membunuh kami semua?! Bagaimana jika aku salah sedikit menyentuhnya?’’ tanya Dokter Yuu.
__ADS_1
‘’Jadi seperti itu, ya?’’ tanya Inspektur.
‘’Kalau memang benar, bagaimana dia bisa melakukan hal itu sedangkan lemari khusus Tuan Kaji berada di dapur? Seharusnya para koki yang ada di sana bisa langsung tahu ’’ tanya Detektif Ryugen.
Kane menatap ke salah satu orang sambil tersenyum. ‘’Bagaimana kalau wanita ini memiliki rekan? Apalagi kalau rekannya berada di dapur terus.’’
Semua menatap ke arah sosok yang dilirik oleh Kane. ‘’Eh, maksud Tuan Kane adalah….’’
‘’Itu benar. Dialah orang yang melumuri semua bagian kiri cangkir teh … Shion-san,’’ kata Kane.
Kaji menatap anak itu tidak percaya. ‘’Shion-kun, itu tidak benar, kan?’’
‘’E-Eh? Kenapa aku?’’ tanya Shion bingung.
‘’Untuk anak kecil seperti dirimu yang juga merupakan orang kepercayaan Paman Kaji, tentu saja orang lain tidak akan curiga kalau kau mengecek lemari koleksi cangkir,’’ kata Kane.
‘’Shion-kun, kenapa kau melakukan ini? Padahal aku sangat mempercayaimu. Kenapa kau bersekutu dengan wanita jahat ini untuk menghancurkan keluargaku?!’’ tanya Kaji kecewa.
Kane menghela nafas. ‘’Tenanglah Paman Kaji, dia bukan Shion yang asli.’’
Sekali lagi semua orang dibuat terkejut, terutama Shion. Mereka menatap Kane yang mengambil selembar kertas naskah di meja tadi.
‘’Benar sekali. Jawabannya ada di akhir naskah ini,’’ kata Kane.
Kaji meraih selembar kertas naskah tadi lalu melihat akhir cerita. ‘’Fourth of February. Second of September. First of October. Third of June.’’
‘’Aku hanya mendengar nama bulan, apa hubungannya?’’ tanya Inspektur.
‘’Kalian bisa memecahkannya dengan cara yang sama seperti kita memecahkan pesan berkode kartu remi dari kakak,’’ kata Kane.
Fourth of February
Second of September
First of October
Third of June
__ADS_1
Deg!
Kane tersenyum membenarkan. ‘’Jika wanita itu adalah Cordelia, berarti yang satu ini adalah….’’
‘’Reon!’’ ucap semuanya tersentak.
‘’Kau ingin tahu kenapa aku bisa mengenalimu?’’ tanya Kane membuat wajah Shion kusut.
Shion tersenyum remeh. ‘’Sudah aku duga kau sama sombongnya dengan anak itu.’’
Deg!
Kane tersentak dengan ucapan Shion barusan.
‘’Kalian berdua tidak ada bedanya. Kalian berdua tidak memiliki hati nurani … Dasar Iblis!’’ kata Shion.
Sekali lagi Kane tersadar. ‘’Tunggu, kenapa cara bicaranya seperti….’’
‘’Kau menghancurkan keluargaku, kalian berdua tidak memiliki hati nurani … Dasar iblis!’’ seru Reon (Kane menceritakan)
‘’Kalau dingat-ingat, hanya Reon yang menyebut kami berdua dengan kata kau, dan Shion-san … Cara bicaramu sangat mirip dengan anak itu, apalagi aku mendengar kalimat yang sama dari dua orang berbeda. Tidak mungkin itu adalah sebuah kebetulan,’’ kata Kane.
Pak Percy tidak bisa menyaksikan hal ini. Perasaannya benar-benar terluka melihat putri dan cucunya begitu jahat kepada kepada keluarga sendiri.
‘’Humph! Kalau itu memang benar memangnya kenapa? Anak itu diracuni, ibumu ditangkap polisi dan kau dijadikan kambing hitam. Aku sudah puas dengan semua ini. Rencana kami untuk membalas dendam berhasil,’’ kata Reon dibalik wajah Shion.
‘’Sungguh? Apakah kau yakin setelah kau mengganti racun yang dilumuri di bagian cangkir itu?’’ tanya Kane.
‘’Apa maksudmu Kane-kun?’’ tanya Kaji.
Kane menatap Reon dengan tatapan serius. ‘’Arsenik.’’
Deg!
Reon tersentak mendengar ucapan anak berambut hitam itu.
‘’Arsenik … Racun ini juga disebut Raja Segala Racun, karena zat-nya hampir tidak terdeteksi sehingga sangat sering digunakan sebagai senjata pembunuhan. Racun itu juga dapat dengan mudah menyatu dalam air, makanan atau sejenisnya,’’ kata Tuan Moriarty.
__ADS_1
‘’Reon, kali ini saja aku akan memberimu kesempatan untuk membela diri agar hukumanmu sedikit ringan sebelum ditangkap polisi,’’ kata Kane.
‘’Membela diri? Apa maksudnya ini Tuan Kane?’’ tanya Inspektur.