
Kediaman Raymond
Hari pertama saat dirinya menjadi menantu keluarga Raymond. Setelah pernikahannya kemarin, tidak ada apa pun yang terjadi di antara mereka berdua. Adam Raymond suaminya hanya langsung istirahat setelah membersihkan badan.
Pagi yang cerah diawali dengan dirinya memasak sarapan untuk keluarga Raymond. Tanpa ambil pusing, ia menyajikan hidangan yang sama saat tuan Moriarty memberinya ujian saat pertama kali datang kemari.
Melihat perlengkapan meja makan sudah lengkap sepagi ini, membuat nyonya Mary terkesan.
‘’Ah~ hidangan kesukaanku!’’
Dengan cepat, wanita itu menyatap Jidori farce buatan Eve. Tuan Moriarty tersenyum dan juga mulai menyantap bagiannya. Eve yang menyadari hal tersebut, akhirnya mengerti alasan tuan Moriarty memberinya ujian untuknya dengan tema hidangan rumah. Itu karena hidangan tersebut adalah kesukaan istrinya. Sungguh romantis.
‘’Jadi bagaimana menurutmu dengan menantu kita?’’
Wanita tadi menatap Eve sekilas dan beralih kembali ke suaminya. ‘’Aku tidak tahu kalau dia pintar memasak, bahan-bahan dan tekstur hidangan ini hampir tidak ada yang salah. Menjadikannya sebagai menantu kita adalah pilihan yang tepat.’’
Rasanya sangat bangga saat seseorang memuji hasil masakan kita. Ya, itulah yang dirasakan Eve saat ini. Melihat cara bicara pasangan itu membuatnya yakin kalau mereka adalah keluarga yang baik.
Tidak lama kemudian, Adam akhirnya datang.
‘’Kebetulan kau di sini. Ada hal menarik yang harus kau lihat.’’
Mendengar ucapan ibunya, pria itu ikut bergabung. Saat duduk, ia melihat hidangan yang menjadi sarapan pagi membuatnya menghela nafas.
‘’Ibu memasak ini lagi? Aku akan membuat sarapanku sendiri.’’
‘’Bukan aku yang membuatnya, tapi istrimu.’’
Adam seketika terhenti saat berdiri dari tempat duduknya. Ia melirik ke arah Eve yang sejak tadi sudah berdiri di depannya. Ia baru menyadari keberadaan wanita itu. Pandangannya kembali ke hidangan di meja makan.
Jadi dia yang memasaknya? Hm, ucapnya dalam hati.
Ia kembali duduk dengan tenang lalu meraih garpu dan pisau, dan hendak mencicipi hidangan buatan istrinya. Sebelah alisnya terangkat saat dirinya mengiris permukaan kubis yang memperlihatakan isiannya. Entah kenapa nafsu makannya menjadi meningkat.
Setengah dari kubis itu sudah dimakannya tanpa mengeluarkan suara, seolah-olah dunia hanya miliknya sendiri dan hidangan itu. Namun, kenikmatan itu tidak berlangsung lama, saat ibunya merusak suasana tersebut.
‘’Hoo, bukankah tadi ada yang ingin membuat sarapannya sendiri?’’
Deg!
Adam tersadar. Ia langsung menatap ibunya yang sudah tersenyum miring.
__ADS_1
‘’Istriku membuatkannya untukku. Aku seharusnya menghargai usahanya. Jika tadi ini masakan Ibu, baru aku membuat sarapanku sendiri.’’
Nyonya Mary memasang wajah datarnya.
Apakah dia benar-benar putraku? Si balok es ini, ucapnya dalam hati.
‘’Eve, ikutlah sarapan bersama kita juga.’’
Eve mengiyakan ajakan tuan Moriarty dan ikut bergabung ke meja makan. Ia dan Adam duduk berhadapan, meskipun pria itu tetap fokus ke makanannya. Senyuman langsung terukir di bibirnya.
Syukurlah dia menyukainya, ucapnya dalam hati.
......................
Rumah Keluarga Laurence
Pak Percy hanya diam menatap masakan yang tersedia di meja makan. Melihat penampilannya yang gosong membuatnya menatap 2 wanita di depannya.
‘’Apakah ini masakanmu, Cordelia?’’
Cordelia mengangguk pelan, dengan raut wajah yang sedikit tidak puas.
Mengingat keluarga sebelumnya, ia dan Cordelia sama sekali tidak pernah menyentuh dapur, karena semua urusan memasak dilakukan oleh mendiang suaminya. Hal itu membuat Cordelia tumbuh menjadi anak yang manja, tidak pernah memasak, mencuci atau melakukan pekerjaan rumah.
‘’Eve, saat umurnya 5 tahun, dia sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri tanpa membiarkan aku dan mendiang istriku melakukan perkerjaan itu. Dia juga bisa bekerja di salah satu restoran mewah. Selama ini Eve membiayai hidupnya sendiri dan keluarga ini. Kalau hanya mengandalkan gajiku sebagai kepala pelayan, maka kebutuhan kita tidaklah seperti ini. Semuanya berkat Eve, sedangkan dirimu? Kau sudah berumur 22 tahun tapi masih belum memiliki pekerjaan sama sekali.’’
Cordelia mengepalkan tangan mendengar ayahnya membandingkan dirinya lagi dengan Eve. Membanggakan anak kesayangannya itu tanpa memikirkan perasaannya.
‘’Sayang, Cordelia masih mencari pekerjaan, tapi belum ada pekerjaan yang cocok untuknya,’’ kata bu Christa.
‘’Itu pasti karena dirinya tidak bisa melakukan apa pun.’’
Ia berdiri sambil menghela nafas. ‘’Aku makan di luar saja, dan Christa? Ajarkan anakmu itu agar bisa seperti kakaknya.’’
Bu Christa mengangguk sambil menatap kepergian suaminya. Setelah pria itu hilang, Cordelia langsung hilang kendali. Ia membanting masakannya ke lantai.
‘’Cordelia!’’
‘’Ini baru 1 hari setelah kakak meninggalkan rumah, dan ayah sudah membandingkan diriku dengannya!’’
‘’Ini juga salahmu! Seharusnya kau bisa mengambil hati ayahmu setelah kakakmu meninggalkan rumah ini! Tapi kau justru mengecewakannya!’’
__ADS_1
......................
Kediaman Raymond
Setelah sarapan selesai, beberapa pelayan datang membersihkan meja makan dan merapikannya.
Eve kembali ke kamar miliknya dan Adam. Ia menarik koper dan berniat merapikan pakaiannya. Tidak lupa, bingkai foto ibunya juga diletakkan di meja lampu dekat kasur.
Saat membuka lemari, ia baru ingat kalau isinya sudah tergantung puluhan baju mewah. Pandangannya beralih ke koper tempat pakaian miliknya yang diambil dari rumah. Terlintas rasa minder melihat perbedaan keduanya terpaut jauh.
Tanpa sadar, Adam sudah berdiri di dekat pintu melihat semua itu.
‘’Kalau tidak mau membuangnya, kau bisa menyimpan kopermu di bawah kolong kasur.’’
Eve tersentak kaget karena pria itu ternyata sudah masuk ke dalam kamar. Baru saja pria itu berbincang dengan ibunya, dia sudah ada di depannya. Seperti hantu saja, muncul tiba-tiba.
‘’Segeralah bersiap, kau harus menemani ibu ke Bandara. Aku tidak sempat karena ada urusan mendadak jadi harus ke kantor.’’
‘’Memangnya ibu mau ke mana?’’
‘’Ibu harus kembali ke Jepang untuk menangani para koki di sana.’’
‘’Eh? Tapi ibu baru saja datang kemarin dan sudah mau pergi lagi?’’
Adam menatapnya datar membuat Eve sedikit gugup. Seharusnya ia mengerti dengan kesibukan yang dimiliki keluarga Raymond, membuatnya tidak bertanya lagi dan segera masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit setelah dirinya bergantian dengan Adam. Saat lelaki itu keluar dari kamar mandi, Eve membantunya berpakaian.
Cepret!
Keduanya terbelalak menyadari ada suara kamera berbunyi, membuat kedua orang itu melirik ke arah pintu. Dilihatnya nyonya Mary sudah berdiri sambil tersenyum memegang kamera.
Eve yang tadinya merapikan dasi Adam langsung menarik tangannya.
‘’Apa yang Ibu lakukan?’’ tanya Adam dengan alis berkerut.
‘’Mmhehe tidak ada. Silahkan lanjutkan moment abadi kalian.’’
Sambil menatap kepergian wanita itu, Eve hanya terbelalak.
Apakah sikap Nyonya Besar seperti ini? Rasanya tidak mungkin. Kenapa setiap orang di keluarga Raymond memiliki sifat yang aneh? Sangat berbeda dengan yang dibicarakan oleh orang, ucapnya dalam hati.
__ADS_1