
Sendok yang dipegang Eve terhenti setelah mendengar ucapan Kaji. “Apa? Besok malam?”
Kane dan Kein yang sibuk mengunyah hanya menyimak. Eve menatap kedua anak kembarnya sekilas hingga akhirnya menghela nafas.
“Aku tidak bisa hadir. Katakan saja kepada mereka kalau aku tidak enak badan,” senyum Eve.
“Tapi….”
“Lagi pula aku tidak tertarik dengan acara seperti itu. Bukankah sudah ada kau yang menjadi wali dari Kein. Jadi aku tidak perlu datang,” kata Eve.
“Tapi aku memberitahu Tuan Adam kalau aku akan hadir bersama calon istriku,” jawab Kaji polos.
Deg!
“Uhuk! Uhuk!” batuk Eve tersedak.
Dengan cepat, Kaji memberinya segelas air. “Minum dulu.”
Eve meneguk air itu dan kembali menatap Kaji dengan alis berkerut. “Kenapa kau berkata seperti itu?!”
“Kau memang calon istriku. Calon Nona Muda dari keluarga Kamiya,” kata Kaji.
Eve memberinya isyarat agar menjaga mulut di depan kedua anaknya, dan Kaji melirik kedua anak kembar yang hanya diam itu.
“Aku setuju dengan apa yang dikatakan Paman Kaji,” kata Kane ikut bicara.
Kaji dan Eve spontan menatap kedua anak kembar itu bersamaan.
“Benar. Selama ini Paman Kaji selalu terang-terangan mengungkapkan perasaannya kepada Ibu. Kenapa Ibu tidak menerimanya saja?” tanya Kane.
“Ka-Kane, apa yang kau katakan?” tanya Eve tidak percaya.
“Dia memberi restu kepadaku untuk meminangmu,” jawab Kaji polos.
Eve tersenyum sambil mengernyitkan alis. Ia menatap Kein yang hanya diam dan sibuk dengan kegiatannya. “Setidaknya ada Kein di pihakku. Jadi hasilnya seri ... Iya, kan? Kein.”
“Kapan aku berkata memihak kepada Ibu?” tanya Kein langsung.
Kaji tersenyum penuh kemenangan. “Kalau begitu aku mendapat lampu hijau.”
“Kalian berdua masih anak-anak, belum mengerti kehidupan orang dewasa. Jadi tidak perlu memikirkan hal ini,” kata Eve.
“Jadi kau tetap tidak ingin menghadiri acara Tuan Raymond?” tanya Kaji sekali lagi.
“Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya?” tanya Eve balik.
__ADS_1
Kaji hanya menghela nafas. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya sehingga terukir senyuman miring.
......................
Kediaman Raymond
Tidak ada satu pun yang bicara di meja makan, dan hanya fokus dengan kegiatan masing-masing. Reon sesekali melirik Adam.
“Kalau ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, katakan saja. Tidak perlu melirikku seperti itu,” kata Adam membuat Reon tersentak.
Tuan Moriarty dan Cordelia menatap kedua orang itu secara bergantian.
“Aku selalu juara 1 dalam kompetisi masak yang diadakan sekali tahun itu. Apalagi kompetisinya diadakan di negara kita. Jika aku juara 1 di kompetisi ini lagi, bisakah kita satu keluarga pergi liburan?”
Cordelia yang mendengarnya langsung angkat bicara. “Tentu saja. Kenapa Adam tidak akan mengabulkan permintaanmu itu.”
Adam diam untuk sesaat sambil menatap Reon. “Baiklah.”
Reon tidak menyangka ayahnya akan setuju. Padahal selama ini pria itu selalu bertingkah dingin.
Akhirnya aku memiliki waktu bersama Adam! Kami akan pergi berlibur, dan ini adalah honeymoon pertama semenjak kami menikah. Tapi tidak apa-apa. Ini berkat Reon, kata Cordelia dalam hati.
......................
“Bagaimana dengan Kakak?” tanya Kane.
Kein diam untuk sesaat membuat kembarannya menyangga kedua tangannya di pinggang.
“Ayolah, saat di hotel aku sempat melihat Ibu pergi dan malah menyuruh bibi Vic menghampiri kita. Di meja makan tadi, Ibu juga berusaha menghindar sampai akhirnya paman Kaji mengalah,” kata Kane.
“Haa ... Aku memilih tidak,” jawab Kein langsung.
“Ha? Kenapa begitu? Kakak ini berpihak kepada siapa? Paman Kaji atau ayah kita yang jahat itu?” tanya Kane tidak terima.
“Tanpa aku beritahu, kau bisa mengandalkan deduksi milikmu untuk mengetahui jawabannya,” kata Kein.
“Aku tahu, tapi kita ini saudara kembar. Jadi harus menerima resiko bersama,” kata Kane.
“Kalau sudah tahu kenapa masih ingin melakukannya? Aku harus fokus dengan kompetisi masak nanti, jangan menggangguku!” tegur Kein datar yang sibuk dengan aktivitas memasaknya.
Kane hanya memasang raut wajah bodohnya.
Dasar, Si Iblis Makanan itu hanya fokus dengan tujuannya sendiri, umpat Kane dalam hati.
Tiba-tiba ia tersadar setelah menggerutu dalam hati, sambil melihat kakaknya menyusun resep untuk persiapan kompetisi.
__ADS_1
“Hem! Saat ini semua orang disibukkan untuk menyambut acara yang diadakan Tuan Raymond. Direktur Pengelola, Komisaris dan wakil, Pendiri, Kritikus Restoran, Sponsor, CEO, dan Koki kelas atas, mereka pasti adalah tamu yang hadir. Semua akan merayakan acara dan bertemu orang berpengaruh itu,” kata Kane curi-curi pandang.
“Bookmaster dari W.O.G,” kata Kane.
Pisau yang dipegang Kein langsung terhenti.
Kane yang melirik sesekali langsung mengibas wajahnya.
“Di Jepang sangat sulit untuk bertemu dengan beliau karena begitu sibuk. Saat ini Bookmaster pasti menghadiri acara penting dan akan pulang saat pukul 7 malam dan tiba pukul 1 dini hari di Indonesia, lalu malam pun tiba dan acara dimulai. Saudara paman Kaji sangat dekat dengan beliau, jadi akan mudah untuk bertemu. Sekian, deduksi-ku sudah selesai. Aku ingin tidur,” kata Kane bangkit.
Dak!
“Aku ikut,” kata Kein langsung, setelah menancapkan pisau yang ia pegang ke buah semangka di sampingnya.
Kane tersenyum lebar menampilkan deretan giginya. “Hihi, kalau begitu aku akan memberitahu paman Kaji. Semangat memasaknya.”
Si Iblis Deduksi itu tahu saja kelemahanku. Memangnya aku salah satu pelaku di kasusnya sampai membuatku harus jujur? Dasar, kata Kein dalam hati.
......................
Kane tertawa setelah membuat kakaknya berubah pikiran.
“Kenapa Kakak begitu berambisi mengikuti kompetisi masak itu?” tanya Kane.
“Untuk menjadi koki nomor 1 di dunia,” kata Kein datar.
Kane tersenyum kaku mendengar jawaban kakaknya. “Jawaban Kakak terdengar sangat meragukan. Tapi semua koki dari berbagai negara sudah mengetahui kalau Kakak ini tidak memiliki saingan, bahkan juga mendapat julukan.”
Kein terdiam sambil mengepalkan tangan.
“Ho~ apakah Kakak merasa tersaingi dengan anak laki-laki yang selalu menduduki juara 1 di kompetisi ini?” tanya Kane.
“Tidak. Ini karena orang itu,” jawab Kein.
Kane mengerutkan dahi dan mengandalkan deduksi miliknya. “Kemampuan menguji masakan Kakak dilirik publik saat umur 4 tahun. Semenjak itu Kakak menjadi penguji masakan dan semua orang mulai mengenal Kakak. Para seniman yang terkenal pun merasa tidak percaya diri karena kemampuan Kakak. Para tokoh yang berpengaruh di dunia seni dan dunia masak, tidak ada yang tidak mengenal Kakak, kecuali satu orang.”
*Kein menatap layar TV yang menampilkan seorang wanita dewasa memberi trofi kepada seorang anak laki-laki seumurannya.
Kane juga melirik ke arah TV sambil tersenyum*.
“Satu orang yang tidak pernah hadir karena super sibuk. Meskipun begitu, beliau tentu saja tahu mengenai Kakak, tapi kalian berdua tidak pernah bertemu. Lalu, beliau hanya hadir di kompetisi masak yang diadakan sekali setahun, karena itulah Kakak berambisi untuk bertemu dengannya. Ya, dia adalah Bookmaster dari W.O.G,” kata Kane.
“Mary Raymond,” kata Kein. (Kane teringat)
“Hehe, kebenaran selalu hanya ada satu,” kata Kane dengan sombongnya.
__ADS_1