Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Pergolakan Batin


__ADS_3

" Avan.. nggak punya Mamah.. Avan nggak punya Mamah... "


" Kata Mamah Saya kamu anak piatu, terus bukan anak Om Putra. "


" Avan.. nggak punya Mamah.. Avan nggak punya papah... "


Suara ocehan teman - teman Avan meledeknya yang berusia di atas Avan. Anak gembul yang belum genap berusia 2 tahun belum mengerti apa - apa hanya menangis saat teman - teman nya tidak mau bermain dengan Avan.


**


Putra setelah pulang Dinas memutuskan langsung pulang ke rumah dan ingin bersama dengan buah hati satu - satu nya.


" Avan mana Kinan? " Tanya Putra saat baru pulang.


" Avan ada di dalam kamar, dia demam Bang." Jawab Kinan.


" Akh.. demam." Putra langsung menuju kamar utama dimana Avan berbaring.


" Sejak kapan demam? " Tanya Putra.


" Baru Bang, Saya sudah memberinya obat penurun panas." Jawab Kinan.


" Saya bawa ke rumah sakit dulu." Putra pun menggendong Avan, yang tubuh nya sedikit demam menuju ke mobil nya.


***


" Demam nya nanti juga reda, jangan terlalu capek anak nya subur begini." Ucap Miko.


" Tapi nggak ada gejala apa - apa kan? " Tanya Putra.


" Nggak ada, dia hanya demam biasa." Jawab Miko.


" Alhamdulilah.. saya sampai khawatir takut ada apa - apa."

__ADS_1


" Di kasih penurun panas juga sembuh, nanti jangan banyak bermain dulu."


*******


" Ayah."


Tangan kecil itu menyentuh wajah Putra yang tengah berbaring di samping nya, Putra pun yang setengah tertidur pun bangun saat Avan menyentuh wajahnya.


" Kenapa Bang? " Tanya Putra.


" Teman - teman nggak Mau main sama Avan lagi."


Putra lalu memiringkan tubuh nya ke samping saat Avan memulai obrolan nya.


" Kenapa? "


" Mereka nggak Mau main sama Avan karena katanya Avan nggak punya Bunda terus Ayah bukan orang tua Avan."


Putra pun kaget saat Avan yang masih belum mengerti apa - apa mengatakan seperti itu. Rasa amarah pun memuncak, dan dengan tenang Putra menjelaskan pada Avan.


" Mau Ayah." Terukir senyum dari wajah polos Avan.


" Sekarang Abang jangan sedih, mereka cuman iri sama Abang Avan."


*******


" Andra, kamu tahu Avan bilang kalau teman - teman nya bilang Avan bukan anak Saya, dan nggak Mau pada berteman dengan Avan karena dia anak piatu." Ucap Putra kesal.


" Serius Bang, siapa yang mengajari mereka. Para orang tua mereka kan tahu kondisi Senja saat itu, dan tahu kronologis kejadian nya." Ucap Andra.


" Saya harus cari tahu."


***

__ADS_1


" Maaf Ibu - Ibu sama Bapak - Bapak disini, Saya mengumpulkan kalian ada sesuatu hal yang tidak enak di hati Saya . Anak Saya Avan masih kecil, dia masih belum mengerti apa yang menimpa pada orang tua nya, memang anak Saya tidak memiliki seorang Ibu, tapi dia hidup dengan kasih sayang dari orang - orang sekitar. Saya sangat marah, saat anak - anak Bapak dan Ibu tidak Mau main dengan anak Saya karena dia piatu dan bilang saya bukan Ayah nya, anak Bapak dan Ibu tidak mungkin bicara seperti itu kalau tidak ada yang mengajari. Jadi saya mohon didik anak kalian semua, ajarkan cars bicara yang baik dan benar. "


" Maaf Pak Putra untuk kelancangan anak Saya, nanti Saya akan tegur anak saya." Ucap Sertu Andi.


" Om..!! "


Putra menoleh saat seorang anak kecil datang menghampirinya dan anak kecil itu bernama Lia putri dari Letnan Setta.


" Lia kamu Mau ngapain? " Ucap Letnan Setta saat putri nya mendekati Kapten Putra.


Putra memberi kode agar Letnan Setta diam, dan memberi ruang bicara pada putri nya.


" Ada apa? " Tanya Putra sembari berjongkok menyamai tinggi anak kecil tersebut.


" Kita semua nggak boleh main sama Avan kata Om Mario, katanya Avan anak orang lain , Ibu nya meninggal terus Om Putra bukan Ayah nya."


Seketika Putra terduduk lemas, bagaimana tidak suka nya dengan perbuatan Mario dengan mengadu domba anak kecil yang tidak tahu apa - apa.


*****


Buuughhh...


Buughhhh...


" Kamu bawa - bawa anak Saya dalam permasalahan ini, apa nggak waras otak kamu hah.. " Bentak Putra sembari mencengkram krah seragam Mario.


" Saya sudah bilang, jangan bikin masalah dengan Mario. Siapa pun yang bermasalah dengan Mario hidup nya tidak akan tentram. "


" Tapi jangan bawa anak Saya, dan menghasut anak kecil." Ucap Putra.


" Kamu harus tahu, kalau kamu masih dendam gara - gara Sinta Saya akan jelaskan. Kita dulu bertiga berteman saat masih pendidikan, kita berteman sejak SMP, dan saat itu Sinta menyukai Saya, tapi saya menolaknya karena Saya mencintai istri Saya. Lalu kamu pun mencintai dia kan, dia juga belajar mencintai kamu, tapi apa setelah kamu renggut kehormatannya, bahkan hamil kamu malah menikah dengan Hanum yang Saya baru ketahui wanita itu Hanum, kamu masih pacaran dengan Sinta saat itu walau kalian sudah menjadi suami istri, bahkan saat tahu Sinta Hamil kamu nggak pernah lagi menemuinya dia deprsesi dan akhirnya kita pura - pura menjalin hubungan dengan saya dan anak yang dia kandung itu bukan anak Saya tapi


itu adalah darah daging kamu. "

__ADS_1


***


" Aarrghhh... maafkan Abang sayang, Avan ikut terbawa masalah Abang, maafkan Abang Senja maafkan..!! "


__ADS_2