Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Antara Bahagia Dan Sedih


__ADS_3

" Bang.. perut Senja sakit." Ucap Senja sembari meremas perut nya di balik selimut yang dia pakai.


" Abang kan sudah bilang sayang, kalau merasa sakit bilang." Ucap Putra cemas saat melihat Senja sudah pucat dan keluar keringat dingin.


" Nggak Bang, tadi permainan Abang nggak kasar, Senja nyaman nggak bohong." Ucap Senja.


" Ya sudah, nanti ke Dokter ya." Bujuk Putra sembari mengusap perut Senja.


Hoooekk... hooeeeekkk....


Senja beranjak dari tempat tidur melangkahi suami nya yang sama - sama ikut berbaring. Dengan masih melilitkan selimut di tubuhnya, Senja berlari menuju kamar mandi.


" Yank... kamu kenapa!! "


Teriak Putra segera beranjak dari tempat tidur dan memakai celana pendek dengan bertelanjang dada,lalu ikut berlari menuju arah kamar mandi.


Hooeeeekkk... hooeeeekkk...


Putra memijat tengkuk leher Senja, dilihatnya sang istri memuntahkan isi perut nya, dengan lemas dan sedikit meremas perut nya.


" Abang... hiks.. hiks.. sakit." Isak Senja.


Putra lalu mengangkat tubuh Senja, dan membaringkan nya di atas tempat tidur lalu mengusap kembali perut istri nya.


" Ke Dokter ya, Abang takut ada apa - apa." Ucap Putra sangat khawatir.


" Senja mau di peluk dulu sama Abang, nggak kuat buat ke Dokter nya Bang." Isak Senja.


" Iya, nanti sebentar lagi kita ke Dokter ya." Bujuk Putra


***


" Bagaimana Dok, dia mengeluh sakit dan malah ada muntah." Tanya Putra cemas.


" Apakah setiap hari kalian melakukan hubungan suami istri?" Tanya Dokter kandungan tersebut.


" Iya Dok, tapi Saya main pelan,dan hanya bilang nyeri sedikit terus hilang." Jawab Putra.


" Bapak kan tahu, apa dampaknya buat istri Bapak ya mungkin praktek tidak bisa seperti enak bilang begitu saja." Ucap Dokter.


" Ya Dok, awal nya Saya Menolak tapi Mau bagaimana lagi kalau istri sudah merayu suami nya, dan maaf mungkin Dokter juga sama." Ucap Putra dengan menundukkan wajah nya.


" Istri anda hamil."


Putra lalu memandang wajah Dokter tersebut, ada rasa bahagian dan tidak percaya kalau Senja hamil.


" Hamil Dok!!! " Ucap Putra.


" Ini sebuah mukzijat Pak, tapi ini juga sangat berbahaya untuk Ibu nya. Bapak tahu kan rahimnya luka dan sempat kemarin Saya minta untuk di angkat, tapi istri anda memaksa ingin hamil." Ucap Dokter kandungan tersebut.


" Astaghfirullah!!! " Ucap Putra sembari menutup wajah nya dengan kedua tangan nya. Lalu dia melirik Senja yang terbaring lemas. Karena selama perjalanan Senja muntah terus menerus.

__ADS_1


" Dengan muntah nya bagaimana Dok, apakah berhubungan dengan rahimnya." Tanya Putra.


" Muntah nya wajar, karena itu bawaan hamil. Selama hamil, Saya sarankan jangan melakukan hubungan suami istri dulu." Jawab Dokter kandungan yang menangani Senja.


*******


" Abang wajah nya kenapa di tekuk begitu?" Tanya Senja saat sudah berada di rumah.


" Nggak apa- apa sayang!! " Jawab Putra sambil mengusap perut Senja.


" Abang nggak senang ya Senja hamil?" Tanya Senja.


" Astaghfirullah sayang, Abang senang kamu hamil sayang. Ini anak Abang sudah ada di perut Bunda." Jawab Putra.


" Tapi kenapa Abang tidak bahagia, Abang pasti bohong." Ucap Senja dengan wajah sedihnya.


" Sayang, Abang bahagia akhirnya kamu menjadi wanita yang sempurna seperti apa yang sayang doa kan sebelum nya, tapi Abang takut dengan kehamilan ini bisa membuat kamu bahaya" Ucap Putra.


" Saya nggak akan pernah buang kandungan ini Bang, atau rahim ini di angkat. Apa pun resikonya anak yang Saya kandung harus sehat dan selamat hingga melihat dunia." Ucap Senja.


" Tapi say-"


Ucapan Putra langsung terpotong dengan satu kecupan singkat dari Senja, lalu Senja memeluk erat tubuh Putra.


" Senja kuat Bang, Senja sudah ikhlas dan siap bila suatu saat nanti terjadi sesuatu sama Senja, dan Abang juga harus bisa ikhlas bila terjadi apa - apa sama Senja."


**


" Kenapa kamu bilang seperti itu sayang, kenapa kamu seolah - olah akan pergi meninggalkan Abang. Jujur Abang ingin kamu dan anak kita selamat dan sehat."


Putra pun membasuh muka nya, saat setelah menangis di dalam kamar mandi. Dan saat berbalik dia menyenggol tempat sikat gigi hingga jatuh, dan Putra terfokus dengan sebuah benda warna putih kecil. Putra pun lalu mengambil benda tersebut dengan tanda dua garis warna merah.


Putra merosot kan tubuhnya, dia bersandar pada dinding Bak, dan menatap testpack tersebut.


" Kamu sebenarnya sudah tahu hamil, kenapa nggak bilang sama Abang sayang."


********


" Istri Saya hamil!! " Ucap Putra.


" Selamat nak, Bunda bahagia dengarnya." Ucap Ibu Mutia.


" Tapi Bund, Saya khawatir sama Senja."


" Bunda tahu, tapi kamu jangan bersedih di depan dia, karena hormon orang hamil sangat sensitive sekali."


" Saya bahagia Bund, tapi Saya sedih dan takut dengan kehamilan nya yang sangat beresiko." Ucap Putra.


******


" Bang... Abang...!!! " Senja membangunkan Putra yang sedang tertidur pulas.

__ADS_1


" Iya yank, ada apa? " Tanya Putra yang masih memejamkan mata nya sembari memeluk guling.


" Bang, pengen makan nasi kuning." Jawab Senja.


" Malam yank, mana ada orang jualan jam segini." Ucap Putra yang masih setiap memeluk guling dengan mata masih terpejam.


" Bang, Senja lagi ngidam loh, kalau anak kita ileran bagaimana?


Putra langsung membuka mata nya, dan beranjak untuk duduk dengan muka khas orang bangun tidur.


" Jangan lah, masa ileran!! " Ucap Putra.


" Ya sudah cari nasi kuningnya." Ucap Senja.


" Iya Abang cari !! "


Putra pun beranjak dengan mengganti kaosnya dengan pakaian yang di ambil dari lemari serta memakai jacket.


" Mau kemana, jam 3 pagi sudah manasin mobil? " Tanya Aswin.


" Nyonya lagi ngidam nasi kuning." Jawab Putra.


" Senja hamil?? " Tanya Aswin.


" Iya Senja hamil, ini lagi ngidam nasi kuning." Jawab Putra.


" Harus ekstra sabar, menghadapi orang hamil. Walau Saya belum pernah menikmati ngidam nya Tania. Tapi Saya tahu apa yang di minta atau di benci sama Ibu hamil." Ucap Aswin


" Mau ikut Saya cari nasi kuning?" Tanya Putra.


" Hayu lah, berangkat." Jawab Aswin.


Setelah mengintari kota dan pasar akhirnya menemukan penjual nasi kuning di depan lampu merah, pedagang tersebut baru membuka lapaknya. Dengan modal sabar sembari menunggu si penjual dengan menata dagangannya.


" Alhamdulillah, akhirnya dapat." Senyum merekah Putra saat membawa 2 bungkus nasi kuning satu untuk nya satu lagi untuk dirinya.


" Yank, bangun ini nasi kuning nya. Abang sudah belikan." Ucap Putra pelan sembari menoel pipi kiri milik Senja dengan jari telunjuknya.


Senja mengeliatkan tubuhnya, sambil mengucek - ucek mata nya.


" Ini nasi kuningnya, makan ya." Ucap Putra.


" Mau nya di suapin sama Abang." Ucap Senja manja.


" Iya nih Abang suapin ya, Mau sama sendok. atau sama mulut?"


Plaaakkk....


" Auw.... sakit yank" Ucap Putra sambul memegang lengannya yang di pukul Senja.


" Bisa nggak sih ngomong nya nggak ngelantur." Ucap Senja kesal.

__ADS_1


" Ya kali aja maju. !! " Dengan senyum menggoda.


__ADS_2