Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Antara Senjata Dan Rindu


__ADS_3

Langkah kaki yang terdengar lebih dari satu orang terus mendekat, Tim Soldier dengan Senjatanya sudah siap membidik musuh.


Angin malam yang menusuk kulit, membuat para Prajurit tak gentar untuk menghadapi musuh yang tiba - tiba datang.


Putra memberi kode dengan tangan nya dengan menunjukkan jari untuk menyerang, dan setelah aba - aba yang di tunjukkan oleh Putra siap semua pasukan Tim Soldier keluar dengan menodong kan Senjata.


" Angkat tangan, turunkan Senjata kalian." Ucap Arya dengan nada tinggi.


Mereka adalah kelompok gerombolan yang sudah di incar oleh Negara karena kejahatan nya bekerja sama dengan ******* international.


Mereka pun yang terdiri dari 6 orang itu menurunkan Senjata Api mereka, namun salah Satu dari kelompok tersebut seperti memberikan sebuah kode.


" Gagak Hitam turun ke bukit...!! "


" Apa yang kamu katakan hey...!! " Teriak Putra.


Namun tiba - tiba Tim Soldier di berondong dengan tembakan, dan mereka langsung berlindung menghindari tembakan.


" Saling berlindung...!! " Teriak Putra.


Door....


Door....


Tembakan saling membabi buta, baku hantam pun terjadi antara Tim Soldier dan kelompok gerombolan tersebut yang tertangkap.


Putra terus menghajar, dan dengan beberapa Anggota yang melindungi dengan Senjata yang di tembakan ke setiap arah lawan.


" Kapten awas...!!! " Teriak salah Satu Prajurit.


Door...


Door...


Sebuah tembakan berasal dari arah lain, seketika kelompok tersebut tumbang dan sebagian melarikan diri.


" Kalian semua berhutang nyawa dengan Tim Snow White." Serda Niken datang bersama dengan 10 Prajurit lain nya yang membantu menembaki musuh yang tadi menyerang.


" Sayangnya, mereka ada yang lari bahaya sudah di depan mata." Ucap Putra sembari tersenyum.


*******


Sudah Satu bulan Putra pergi tugas, kini usia kandungan Senja memasuki usia 8 bulan ada rasa rindu yang semakin besar disaat kini kandungan nya yang sudah besar.


Tendangan kecil membuat sedikit meringis dan sakit, rasa sakit itu dia selalu tahan demi bayi yang di kandungnya.


" Bang, cepat lah pulang anak dan calon anakmu ini kangen sama Abang."


Senja terus mengusap perut buncitnya, dan masih dengan sesekali meringis sakit dan sesak di dadanya.


*******


" Kita sudah Satu bulan melakukan pengintaian, kita harus ekstra hati - hati setelah kejadian bulan kemarin baku tembak, pimpinan mereka bisa kabur kalau kita bergerak gegabah. Dan terus melakukan penyamaran sebagai warga biasa. " Ucap Putra sembari memeluk Senjata.


" Kita juga sudah Satu bulan di dalam gua,apakah markas masih menghubungi kita?" Tanya Niken.

__ADS_1


" Kita tidak bisa menghubungi markas, terkendala sinyal." Jawab Arya.


" Besok Saya akan naik ke bukit, Saya akan memberi kabar pada markas besar dan Saya rindu dengan Istri Saya sebentar lagi melahirkan." Ucap Putra lirih.


" Tapi kita tidak boleh berbicara langsung dengan nya Kapten, mungkin kita bisa kirim sandi." Ucap Arya.


********


" Bagaimana sudah Ada kabar dari Tim Soldier?" Tanya Andra.


" Belum Pak, kami masih mencari sinyal mereka terakhir terjadi baku tembak dan mereka bilang akan bersembunyi di sebuah gua dengan mengirim sebuah sandi." Jawab salah Satu Prajurit.


Andra membaca sebuah sandi tersebut, dan dia mengetahui bahwa mereka berada di medan yang sangat sulit sehingga tidak bisa terlacak oleh satelit.


" Kasih kabar kalau Tim Soldier mengirim


pesan."


" Siap Pak."


***


" Bang, apakah ada kabar tentang suami saya?" Tanya Senja saat Andra datang ke rumah nya.


" Mereka baik - baik saja, karena sinyal sangat susah memberi kabar." Jawab Andra bohong.


" Saya khawatir Bang terjadi sesuatu pada suami saya."


" Tim Soldier adalah Tim yang selalu bisa mengalahkan lawan dan medan."


" Abang juga khawatir dengan suami kamu dan Prajurit lainnya, Abang takut dengan pesan yang dia titipkan kepada Abang."


*******


Putra berjalan sendiri dengan menyamar sebagai seorang petani yang menggendong kayu bakar.


Saat tak terduga Putra pun berpapasan dengan kelompok gerombolan tersebut dengan Senjata yang di gantung di punggung mereka.


Putra pura - pura layaknya seperti warga biasa yang tengah berjalan tanpa ada rasa was - was dan curiga.


" *Kita harus waspada para Tentara itu sudah memasuki wilayah kita."


" Sudah Satu bulan tidak ada tanda - tanda mereka, berarti meraka sudah kembali."


" Kita harus berhati - hati karena mereka lebih pintar dan kita harus tetap melindungi pimpinan kita*."


Itu lah yang di dengar oleh Putra dari percakapan mereka, Putra pun terus berjalan ke arah atas bukit.


********


" Pak seperti nya dari satelit ada pergerakan dari salah Satu Tim Soldier dari sinyal sebuah radio."


Andra lalu melihat layar monitor tersebut, dan sebuah titik merah yang berkelap kelip,menuju ke sebuah tempat yang tinggi.


" Seperti nya salah Satu Tim Soldier akan mengirim sebuah sandi." Ucap Andra yang masih serius memperhatikan layar monitor tersebut.

__ADS_1


***


Putra sudah berada tepat di atas bukit, dia melihat kekanan dan kiri memastikan tidak ada pergerakan musuh.


Dengan mengeluarkan radio dan mengirimkan berupa sandi yang akan di kirim ke markas besar.


Putra mengirim sebuah sandi yang dengan berisi Garuda terbang jatuh ke lubang sangatlah gelap. Dan pesan kedua dia kirim dengan Sandi Panthers berjalan kasih irama nada rindu.


Di markas Andra menerima pesan sandi tersebut dia mengetahui siapa yang mengirim nya.


" Terus ajak komunikasi, jangan sampai terputus."


Andra berlari menuju motor nya, dengan kecapatan tinggi dia menuju ke rumah dinas Putra.


Andra pun turun dari motor nya dan berlari menuju ke arah pintu rumah sang Kapten.


Tok.. tok... tok...


" Tari buka pintu nya ini Abang." Teriak Putra.


" Iya Bang sebentar." Teriak Senja dari dalam rumah.


Senja pun lalu membuka pintu rumah nya dan terlihat Andra dengan nafas naik turun.


" Bang!! "


Andra lalu mengangkat ponsel nya, dan menyerahkan pada Senja.


" Apa ini Bang? "


" Rekam suara kamu."


" Untuk.!! "


" Harimau mengaung terus mencari teman nya, dengarkan yang sandi yang Abang berikan."


Andra memberikan sebuah secarik kertas untuk Senja ucap kan di rekaman ponsel tersebut.


" Ini untuk Abang? " Tanya Senja.


" Iya"


" Nanti kamu akan dengar "


Lalu Senja pun menekan rekaman tersebut, dan dia sangat terharu saat mendengar pesan suara yang selama Satu bulan dia sangat rindukan.


" Angin timur mengarahkan ke arah barat, sampai menerjang tubuh. Hawa dingin mengiringi malam."


Pesan singkat yang di kirim Putra sangat berharga bagi Senja, rindu yang sangat mendalam membuat nya sedikit terobati.


" Dia baik - baik saja, disana juga dia sangat merindukan istrinya."


Senyum merekah menghiasi wajah Senja, setelah dia mendengar kan pesan yang di kirim oleh suaminya.


Putra pun menerima balasan Sandi yang dia kirim, dan dengan segera dia kembali menuruni bukit dengan kembali menyamar menjadi seorang petani.

__ADS_1


__ADS_2