Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Dekap Aku Untuk Yang Terakhir Kalinya


__ADS_3

Hatiku kini rapuh sudah tak berdaya


Darah seakan berhenti mengalir


Air mata pun seakan sudah kering


Begitu tega kamu terhadapku


Kamu akan membuat ku selalu merindu tak menyentuh.


Bagai hantaman badai menerjang tubuh


Seakan hanyut tak lagi di temukan


Dirimu kini hanya sebatas bayangan, tak lagi bisa di sentuh


Dengan kursi roda Senja berada di Bandara, Putra dan Senja akan terbang menuju Papua. Keberangkatan mereka di antar oleh Ibu Mutia dan Pak Wahyu.


" Bang, sebelum ke pesawat Saya ingin memeluk Avan dulu." Pinta Senja.


Putra melirik ke Ibu Mutia, lalu Ibu Mutia menyerahkan Avan ke dekapan Senja. Dan Senja langsung mencium kedua pipi Avan, seketika Bayi mungil ini langsung mengeliat geli.


" Sayang maaf kan Bunda Nak, Bunda lakukan ini demi kamu sayang. Jangan nakal, jadi anak yang sholeh ya sayang, jaga Ayah."


Semua yang melihat nya tak kuasa menahan haru, Putra mengadahkan wajahnya ke atas untuk menahan air mata agar tidak jatuh.


" Bunda, Ayah maafkan kesalahan Senja. Dan terima kasih untuk semua nya. Senja minta tolong titip Avan, jaga Avan seperti cucu kalian."


" Iya nak, Bunda sama Ayah akan jaga Avan." Ucap Ibu Mutia sembari meneteskan air mata nya.


Panggilan suara informasi pun terdengar, bahwa pesawat yang akan menuju Papua akan segera lepas landas.


Dengan rasa berat Senja menyerahkan Avan ke Ibu Mutia, dan Avan tiba - tiba menangis seperti dia tahu akan berpisah dengan Bunda nya.


Owaaaa.... Owaaaa.....


Avan menangis kejer, hingga Senja tak kuasa menahan tangis, dan merasa tak tega meninggalkan buah hati nya.


Owaaa... owaa.....


" Tunggu Bang." Ucap Senja saat Putra akan mendorong kursi roda yang di duduki Senja.


" Bunda, sekali lagi Senja ingin memeluk Avan." Pinta Senja.

__ADS_1


Lalu Ibu Mutia pun menyerahkan Avan kembali, seketika Avan berhenti menangis saat berada di pelukan Senja.


" Sayang, sholeh nya anak Bunda jangan menangis. Bunda tidak akan pernah meninggalkan kamu, tapi Bunda akan selalu ada di hati kamu nak. Jangan nangis lagi ya sayang."


Avan pun berhenti menangis, dia diam tak seperti tadi, setelah mencium kedua pipi Avan Senja menyerahkan nya pada Ibu Mutia.


" Ayo Bang." Ucap Senja.


Putra pun mendorong kursi roda tersebut menuju ke pesawat yang akan membawa mereka ke Papua.


****


Didalam pesawat, Putra memilih kelas Eksekutif dia ingin penerbangan kali ini karena kondisi Senja yang sakit ingin merasa nyaman.


" Bang, terima kasih telah memenuhi permintaan Senja kali ini."


" Iya sayang, Abang juga ingin mengingat masa - masa itu lagi. Walau disana dimana masalah itu di mulai." Ucap Putra dengan menggenggam erat tangan Senja.


Didalam pesawat setelah percakapan singkat, Senja hanya tidur. Dan Senja lebih memilih tidur menyandarkan Kepala nya di pundak suaminya.


Putra pun memejamkan mata nya, sesaknya hati yang kini dia rasakan, bagai di tusuk oleh puluhan tombak. air mata pun tak bisa lagi di bendung, tangis diam tanpa suara.


******


Andra duduk di bawah pohon besar di sekitar Batalyon. Dia memandang kosong ke arah lurus, hati yang begitu sesak yang dia rasakan saat ini.


Andra menundukkan wajah nya, seketika tubuhnya bergetar tangis yang dia tahan seketika meluap juga .


" Hiks... hiks.. Tari, Abang memang masih mencintai kamu sampai detik ini hiks.. hiks... kamu adalah Cinta pertama Abang yang sungguh sulit untuk di lupakan. Abang jujur belum bisa membuka hati, karena Cinta ini hanya untuk kamu, walau memang Abang salah. Hiks... hiks.. hiks... "


*******


Hiks... hiks.. hiks..


" Bunda nggak sanggup Ayah, ini seperti sebuah perpisahan." Ibu Mutia menangis sembari memeluk Avan.


" Ayah juga sama Bund, sesak dada Ayah. Senja melakukan ini demi Avan, dan dia rela mentaruhkan nyawa nya. Nasib nya pun sungguh dia jauh dari rasa bahagia, hanya Putra dan Avan sumber ke bahagian nya." Ucap Pak Wahyu sembari mengusap punggung istri nya.


Avan seakan mengerti, Bayi kecil itu mata nya berkaca - kaca seakan ingin menangis. Ibu Mutia dan Pak Wahyu pun langsung membelai manja dan menghibur Avan.


*******


Senja dan Putra kini berada di rumah Dinas Senja yang dulu, dimana kini mereka berada di sebuah kamar dimana mereka tak sempat untuk menikmati malam - malam bersama.

__ADS_1


" Bang, Senja merasa kembali ke masa itu tapi.." Senja menghentikan ucapan nya.


" Jangan ingat masa buruk itu, ingatlah masa - masa yang indah saja sayang." Ucap Putra sembari mencium lembut bibir milik istrinya.


" Bang, Senja ingin menikmati sepuasnya bersama Abang, banyak waktu yang terbuang untuk kebersamaan kita."


" Abang juga sama ingin selalu mendekap kamu sayang, Abang kangen sama kamu lama Abang tak merasakan manis madu dengan kamu sayang."


Putra mencium lembut bibir Senja, dan Senja pun membalas ciuman lembut suaminya. Mereka pun saling ******* dan membalas memainkan lidah dan bertukar saliva.


" Abang takut meminta lebih, tapi tak mungkin." Bisik Putra.


" Senja akan melakukan nya Bang, seperti yang pernah kita lakukan, Istri Abang yang akan bermain." Ucap Senja dengan suara manjanya walau tubuhnya sangat lemah namun disisi lain Senja ingin membahagiakan suaminya.


" Tapi sayang." Dengan jari telunjuknya Senja menempelkan pada bibir Putra.


" Ssst.. Abang diam saja." Senja yang mulai nakal tangan nya sudah menari - nari di dada Putra.


***


Putra membelai lembut rambut istrinya yang kini tertidur pulas di pelukan nya, seperti baru kemarin mereka bertemu, dan mengingat awal pertemuan mereka. Kisah Cinta yang terpisah oleh waktu, kisah Cinta yang terpisah oleh suatu yang kelam, kisah Cinta yang begitu sangat pilu.


" Ya Allah sesak hati ini, dia adalah belahan Jiwa Saya, kekuatan Saya dan nyawa hidup Saya. Hati ini sungguh sangat ingin menjerit keras. "


Dari kedua sudut kelopak mata nya, meneteskan air mata, seketika menyandarkan Senja yang tertidur namun dengan tetap mata terpenjam.


Istri mana yang tak ikut menangis bahwa suaminya itu merasakan apa yang Senja kini rasakan. Nafas nya begitu sangat sesak, seakan menahan tangis agar diri nya tak mendengar nya.


" Cinta ini sangat begitu besar, perjalanan Cinta kita berdua sangatlah berat. Terima kasih Bang, sudah menjadi imam untuk Saya, hingga mata ini tertutup.


NB :


Cerita ini hasil karya asli Author, tidak ada hasil karya mencontek atau memplagiat hasil karya orang lain. Mungkin ada kesamaan nama tokoh atau tempat itu tidak di sengaja dan kebetulan sama, dari Alur ceritanya juga dari awal sampai sekarang juga beda.


Saya juga membuat Novel Ujung Timur ( Penantian Sang Prajurit) sangat luar biasa untuk menggunakan otak Saya untuk berpikir sehingga agar bisa dinikmati oleh Reader's Sahabat Puspa.


Karena usaha dan kerja keras bisa menghasilkan sebuah karya .




Karya real Saya yang bikin dengan kerja keras dan perjuangan yang sangat luar biasa hingga sudah menghasilkan dua karya. Jadi kalau menemukan sesuatu yang sama di karya Saya itu tidak di sengaja seperti nama tokoh atau tempat karena dari Alur ceritanya saja juga sudah berbeda.

__ADS_1


Baca dahulu tiap Part nya baru berkomentar..!!


Skip kalau tidak suka Karya Saya..!!!


__ADS_2