
Andra menyuruh Salah Satu Tentara untuk membuka kantong Jenazah tersebut, Andra memeriksa cincin yang terpasang di jari manis Jenazah tersebut memastikan kembali bukan Kapten Putra, dan menarik dua Dog Tag yang masih melingkar di leher Jenazah.
Saat melihat cincin tersebut, bertulisan Mentari dan terdapat dua kalung Dog Tag, membuat Andra menatap ke arah Para Prajurit.
" Apakah kalian tidak menemukan Letda Arya? "
Semua yang berada di depan Jenazah tersebut, saling memandang.
" Maaf, seperti nya tidak ada lagi Jenazah yang dimaksud." Ucap Salah Satu Tentara.
" Berarti Yang hilang Letda Arya, dan Praptu Angga. Untuk di leher pada Jenazah ini, ada dua Dog tag milik Kapten Putra dan Letda Arya, tapi dengan bukti sebuah cincin pernikahan yang bertulisan nama Mentari, bahwa Jenazah di depan nya adalah Kapten Putra.
" Terus kalian sisir hutan ini, Saya yakin mereka masih hidup." Perintah Andra.
********
" Arrrgghhh.... Abang.... hiks.. hiks... nggak mungkin itu Jenazah Abang, dia masih hidup hiks... hiks... " Senja menangis histeris saat mendengar kabar tentang gugur nya Kapten Putra Nagara.
" Yang ikhlas nak, yang ikhlas." Ucap Ibu Mutia sembari menenangkan Senja.
" Hiks.. hiks.. . Abang.... jangan pergi...!! "
Senja terus berteriak histeris, dan membuat semua Ibu persit yang bertandang ke rumah nya ikut merasa terhanyut dalam kesedihan.
******
Penyambutan Jenazah di Bandara penuh tangis dan haru , sehingga langit yang cerah pun menjadi mendung.
Saat pesawat Hercules dengan Para Prajurit yang membawa delapan belas peti Jenazah turun tangis histeris mewarnai suasana Bandara.
Senja tak tahan menahan sesak di dadanya, saat melihat photo yang terpajang di atas peti Jenazay tersebut adalah suaminya.
Senja berjalan ke arah peti Jenazah tersebut, dan langsung memeluk peti Jenazah suaminya.
" Hiks... hiks.. Abang kenapa tega meninggalkan Senja dan anak kita Bang.. hiks.. hiks.. mana Janji Abang selama ini hiks.. hiks.."
Senja terus menangis histeris saat melihat peti Jenazah para Prajurit yang telah gugur akibat di tembak oleh kelompok gerombolan.
__ADS_1
Andra berjalan menuju ke arah Senja yang sedang menangis, dia peluk tubuh Senja dari belakang, rasa sesak di dada Andra rasakan begitu sangat berat.
" Maafkan Abang yang tidak bisa membawa suami kamu."
Andra terus mendekap tubuh Senja yang terus menangis sembari memandang sebuah peti Jenazah suaminya.
" Hiks.. hiks... kenapa tega sekali kamu Bang, meninggalkan istri dan calon anak kita hiks.. hiks... "
Dalam dekapan Andra, Senja terus menangis dan memanggil nama Putra, hingga akhirnya Senja pingsan di pelukan Andra.
*******
Suara tembakan di letusan saat upacara pemakaman Putra, isak tangis menghiasi proses pemakaman. Senja yang terus menangis, bahkan sempat histeris saat gundukkan tanah basah menutupi peti Jenazah.
Tabur bunga semerbak wangi, menutupi gundukkan tanah basah dan nisan yang bertuliskan Putra Nagara.
Hingga para pelayat satu persatu pergi, hanya Senja, keluarga Ibu Mutia, Aswin dan Andra yang masih setia mendampingi Senja.
" Kini hanya nama yang selalu di kenang, jasadmu kini sudah terkubur di dalam tanah. Tak akan pernah bisa merasakan kembali aroma tubuh dan pelukan hangatmu lagi. Apalah arti hidup ini, tanpa dirimu sekian lama kita menanti bersama kini kita berpisah untuk selamanya."
" Kita pulang." Ajak Andra.
Senja menggelengkan kepala nya, dia terus mengusap nisan tersebut dengan air mata yang terus membasahi kedua pipi nya.
" Tinggalkan saya disini sendiri, biarkan saya terus berada disini menemani suami saya yang sedang tertidur pulas."
Ada rasa getir dan menyanyat hati dengan ucapan Senja, Andra tak kuasa menahan tangis nya. Tanpa dia sadari air mata dari ujung kedua kelopak matanya jatuh.
Dia pun masih mengingat dan membayangkan nya bagaimana tragisnya para Prajurit gugur, bagaimana saat detik - detik nyawa mereka akan berakhir. Sakit, jeritan kesakitan yang mereka rasakan Andra membayangkan itu semua.
Hari mulai gelap, semuanya masih setia mendampingi Senja yang masih duduk di samping malam, hingga air matanya pun sudah mengering.
" Nak kita pulang, hari sudah mau maghrib. Besok kita kesini lagi." Ucap Ibu Mutia.
" Iya Senja, kita harus pulang, dan menyiapkan doa bersama untuk suami kamu." Ucap Andra.
Senja pun lalu berdiri, dengan di bantu oleh Andra. Senja terus menoleh ke makam suaminya tanpa memandang lurus ke depan.
__ADS_1
****
" Abang,tega sekali kamu meninggalkan istri kamu yang sedang hamil, anak kamu akan lahir Bang sebentar lagi. Saya mempertahan kan nyawa ini demi anak kita, tapi kamu pergi dahulu."
Senja memeluk erat seragam loreng milik suaminya, masih kental harum perfume maskulin yang melekat di seragam.
" Wangi ini akan selalu saya kangenin Bang, hanya ini yang akan terus menemani tidur sepanjang hari."
Doa bersama di adakan di Aula Batalyon, tampak para istri prajurit yang gugur dengan wajah ikhlas nya melepaskan kepergian suami mereka,dan hanya anak - anak mereka yang kecil dan masih belum mengerti dengan kepergian ayah mereka sangat begitu menyanyat hati.
" Sabar ya bu yang kuat, seorang istri prajurit harus bisa tegar karena resiko kita harus bisa siap menerima apapun seperti kejadian yang menimpa suami Ibu dan istri anggota lain nya." Ibu Danyon yang duduk di samping Senja, terus memberi semangat pada istri anak buah nya. Sedangkan Senja hanya menatap lurus dan pandangan kosong.
*******
" Apakah ada kabar dari mereka yang tengah menyisir hutan? " Tanya Andra.
" Belum Pak, seandainya mereka masih hidup mereka tak jauh dari tempat kejadian. " Jawab salah satu Prajurit.
" Saya masih berpikir kenapa bang Arya menitipkan Dog Tag ini pada Putra? ."
Andra terus menggemgan dua Dog Tag dan satu cincin milik Putra yang dia masukan kedalam kantong plastik.
" Apakah yang kemarin kirim sandi Bang Arya, bukan Bang Putra?? "
Selamat jalan para Prajurit sejati
Harum namamu sepanjang sejarah
Pengorbanan mu tak akan pernah di lupakan
Walau ragamu tak lagi berpijak
walau ragamu tak lagi tersentuh
Tapi namamu akan selalu di kenang.
Hingga anak cucu kita.
__ADS_1