Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Separuh Hatiku Hilang


__ADS_3

Samar - samar Putra melihat seberkas cahaya, hingga mata nya memercing silau. Putra pun perlahan membuka mata nya, dan Putra dengan jelas sesorang yang amat sangat dia saying terbaring dengan beberapa alat bantu yang menempel di tubuh Senja.


" Sayang, wajah ini yang Abang sangat rindu kan. Ya Allah kenapa dalam moment seperti ini kita bertemu." Putra terus menciumi jemari Senja.


" Bangunlah sayang, bangun apa kamu tidak Mau melihat Abang dan apakah kamu tidak Mau melihat Avan sayang. Abang sudah memberikan nama sesuai waktu itu Kavan Arrio Nagara. Kita panggil dia Avan sayang, anak kita sangat tampan seperti Ayahnya."


Putra terus menciumi tangan yang dingin dan melihat wajah Senja yang sangat Pucat.


*******


Putra menggendong Avan yang sedang tertidur setelah meminum susunya, Putra mendekati Senja yang masih setia tertidur.


" Bunda, liat Avan sudah minum susu. Sekarang Ayah menggendong Avan, cepat bangun Bunda Avan sama Ayah sudah kangen sama Bunda."


Putra terus menimang Avan, hingga Avan merasa nyaman dalam timangan Putra. Mata kantuk demi sang anak agar tertidur pulas Putra rela menahan nya.


Setelah hampir satu jam lebih, Avan dalam gendongan Putra lalu dia letakkan pada box Bayi.


" Abang."


Putra menoleh ke arah sumber suara yang dia dengar, dan Putra sangat bahagia saat melihat Senja sadar.


" Ya Allah sayang, Abang rindu sama kamu." Putra mencium kening Senja lalu mengusap lembut pipi kiri Senja.


" Senja bahagia Bang, Senja masih di beri kesempatan untuk melihat suami yang hampir Senja tak akan pernah lihat kembali. Senja rindu sama Abang."


Putra mencium kening Senja kembali, lalu menatap lekat kedua mata istrinya yang sangat dia rindukan selama ini.


" Abang juga rindu, Abang tak sanggup sayang saat melihat istri Abang terbaring lemah."


Senja tersenyum, tangan nya perlahan mengusap wajah suami nya, yang kini terlihat sangat kurus.


" Bunda bahagia, sekarang Bunda bisa menjadi wanita yang sempurna. Bunda bahagia dalam kondisi seperti ini, anak kita lahir dengan selamat."


Putra mengusap lembut pipi Senja, lalu mencium bibir bawah istrinya.


" Kavan Arrio Nagara, anak kita nama nya itu sayang. Kita panggil Avan, itu kan nama yang dulu pernah kita sepakati." Ucap Putra.


" Makasih Bang, nama yang indah kan." Ucap Senja tersenyum.


Putra lalu mendorong box Bayi tersebut dan di dekatkan pada Sisi kanang ranjang yang di tempati Senja.


" Avan imut Bang, mirip sama Abang." Ucap Senja dengan suara Yang masih lemah.


" Iya sayang, tadi Abang yang menimang Avan hingga dia tidur pulas." Ucap Putra.


********


Andra dan Aswin membesuk Senja, setelah mendapatkan kabar dari Putra bahwa Senja telah sadar. Namun saat Andra dan Aswin tiba, Senja hanya terbaring lemah, dan memejamkan matanya.


" Bang, katanya sudah sadar? " Tanya Andra.

__ADS_1


" Nggak tahu, Saya bingung dia seperti itu lagi." Jawab Putra dengan wajah yang khawatir.


Lalu Dokter pun datang memeriksa kondisi Senja, dengan wajah yang penuh tanda tanya di mata Putra membuat nya sangat begitu khawatir.


" Bagaimana Dok?" Tanya Putra.


" Kondisinya semakin menurun." Jawab singkat Dokter yang menangani Senja.


" Apakah perlu mengangkat rahim nya agar tak lebih bahaya."


" Terlambat Pak, operasi juga percuma kondisi Ibu sangat lemah. Melahirkan normal tidak di sarankan, tapi Ibu memaksa untuk melahirkan normal. Dan rahim nya sangat bermasalah hingga seperti ini." Ucap Dokter menjelaskan.


****


" Bang." Senja memanggil suaminya dengan suara yang lemah.


" Iya sayang." Putra langsung menggenggam tangan Senja.


" Avan mana? " Tanya Senja.


" Ada sama Bunda." Jawab Putra.


" Bawa Avan kemari Bang."


" Abang ambil Avan ya."


Putra lalu keluar untuk mengambil Avan yang sedang bersama dengan Ibu Mutia. Namun saat Putra pergi, Senja merasakan sakit pada di bagian bawah perutnya, air mata nya pun menetes dari kedua sudut mata nya.


Lalu Putra mengangkat Avan, dan menggendong nya Bayi laki - laki yang kian hari semakin gemuk. Putra pun lalu duduk di samping Senja, dan Senja berusaha untuk bangun dan duduk bersandar di Kepala ranjang.


" Bunda ingin gendong Avan." Pinta Senja.


Lalu Putra menyerahkan Avan pada Bunda nya, Bayi mungil itu langsung tersenyum saat berada di dekapan Bunda nya.


" Ayah, Avan Lucu dan gemuk sekarang."


" Iya dong Bunda, liat muka nya photo copy an Ayahnya."


" Ssstt.. Bunda yang capek, malah mirip Ayah." Senja menunjukkan wajah cemberutnya.


Putra lalu mengambil ponselnya, dan dia mengarahkan ponselnya untuk berphoto bertiga.


*******


" Nggak sayang, perjalanan kesana nggak mungkin." Ucap Putra.


" Tolong Bang, bawa Senja ke padang savana. Senja ingin menikmati masa - masa itu kembali." Pinta Senja.


" Abang nggak tega, istri Abang harus melakukan perjalanan jauh."


" Senja sudah satu minggu lebih disini, Senja bosan. Tolong bawa Senja ke padang savana Bang."

__ADS_1


" Senja ingin dimana Senja merasakan setiap detik akhir dimana kita bersama. Rasa sakit ini sungguh tak sanggup untuk bertahan."


" Baiklah, besok kita bicarakan sama Dokter."


******


" Kamu jangan nekad Putra. " Ucap Pak Wahyu.


" Senja meminta paksa ingin kesana." Ucap Putra.


" Tapi Nak, kondisi dia lemah, dan lihat Avan masih terlalu kecil untuk di bawa terbang kesana." Ucap Ibu Mutia.


Putra pun menatap lekat Avan, yang sedang berada di gendongan Ibu Mutia. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


***


Senja menaruh ponsel milik Putra saat suaminya itu masuk, dan Senja pun berusaha tersenyum manis di depan suaminya.


" Bagaimana Bang? "


" Dokter mengijinkan, tapi kita tidak bisa bawa Avan karena dia masih kecil." Ucap Putra.


" Nggak apa - apa Bang, malam ini biarlah Avan tidur sama Bunda nya."


" Lusa kita berangkat."


" Besok saja Bang, Senja ingin besok kita langsung berangkat."


" Sayang..!! "


" Tolonglah Bang."


****


Senja memeluk Putra nya, dengan menangis dan berusaha agar tidak terdengar oleh Putra saat sedang tidur di sofa panjang.


" Sayang, maaf kan Bunda. Maaf... maaf Sayang. " Senja terus menciumi wajah anak nya dengan air mata yang sudah keluar.


" Selalu ingat Bunda Nak, di hatimu Bunda akan selalu ada bersama kamu dan hari Ayah. Bunda sayang kamu sayang, sayang Ayah juga."


Dengan menyembunyikan wajahnya di bantal Senja terisak menangis hingga tubuhnya bergetar.


Hiks... hiks.. hiks...


Dengan membelakangi Senja, Putra meneteskan air mata nya, dia sengaja tetap terjaga entah malam ini mata nya tak begitu mengantuk.


" Kenapa, kenapa kamu tega sayang. Abang nggak akan pernah sanggup. Seolah kamu sudah tahu, bahwa Allah sudah merencanakan nya. "


Eeggghhhh....


Terdengar suara Senja kesakitan sangat membuat Putra semakin ikut merasakan beban sakit yang sedang menimpa Istrinya.

__ADS_1


__ADS_2