Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Rasa Itu Kembali Ada


__ADS_3

Buugghh...


Aawww...


" Maaf nggak sengaja."


" Iya nggak apa - apa."


" Biar Saya bantu, gara - gara Saya lari terburu - buru jadi nggak kelihatan."


" Aswin!! "


" Kanaya!! "


" Kamu ngapain Ada di depan Asrama bawa kardus banyak numpuk begini? " Tanya Aswin.


" Ini Mau ngasih ke Avan beberapa mainan dia yang di Panti minta di bawa sini soalnya Avan merengek nangis jadi Kinan suruh bawa kemari sekarang."


" Seharusnya Kinan suruh Bang Andra atau Pak Kapten, lihat bawa an nya banyak sekali biar Saya yang bawa."


" Terima kasih."


****


" Kinan nih mainan anak Pak Kapten, lain kali jangan suruh Kanaya bawa kardus sebesar ini walau enteng tapi besar." Protes Aswin pada Kinan yang sedang mengawasi Avan mengobrak abrik mainan nya.


" Saya kira mainan nya nggak segede ini kardus nya Bang, kalau segede ini Saya tunggu suami Saya atau Ayah nya Avan." Ucap Kinan membela diri.


" Nggak apa - apa jangan di permasalahan kan, nggak apa - apa kok."


*******


Aswin duduk sembari tidak tenang, dia duduk berdiri dan kembali duduk sehingga Andra dan Putra melihat nya sangat kesal.


" Kamu kenapa sih? " Tegur Andra.


" Iya kaya orang wasir." Ucap Putra.


" Saya jatuh Cinta lagi...!!!


*******


Beberapa Anggota di turunkan ke lapangan di sebuah Desa, ada sebuah acara Adat yang di selenggarakan setiap tahun nya di saat musim panen tiba.


Putra, Mario, dan Danyon serta Wadanyon pun hadir pada acara tersebut. Dan Hanum pun ikut sebagai Dokumentasi yang memotret setiap kegiatan.


Saat Hanum memotret acara tersebut, tak sengaja kamera Hanum mengarah ke Putra tanpa sengaja dia zoom kamera tersebut dan dengan jelas wajah tampan Putra yang sedang mengobrol dan sesekali tersenyum dengan Salah satu tokok masyarakat.


" Jantung ini berdebar - debar, tidak pernah Saya rasakan dengan Bang Mario. Apakah Saya jatuh Cinta pada Bang Putra? "


Hanum bergumam dalam hatinya dan saat kamera masih fokus ke arah Putra Mario menyadari itu, dan dengan cepat Hanum mengalihkan arah kamera nya.


" Jangan bilang kamu punya rasa terhadap Putra."

__ADS_1


Mario bergumam dalam hatinya dan melirik ke arah Putra dengan tajam, dan mendapatkan balasan tatapan mata saat mata mereka saling bertemu.


*****


" Sini kamu kamera nya." Mario merampas kamera milik Hanum, Hanum mencoba merebut kamera tersebut namun Mario mengangkat tinggi Kamera tersebut.


" Kembalikan Bang." Pinta Hanum.


" Kenapa takut ketahuan." Ucap Mario sambil mengecek galeri photo satu persatu.


Saat sedang mengecek Mario menemukan beberapa photo Putra yang candid camera.


" Ini..!!! Mencoba untuk merampas kamera yang sudah ada di tangan Saya hah...!! Bentak Mario.


" Jangan hapus file di kamera tersebut." Ucap Hanum sedikit takut karena Mario yang sudah mode marah.


" Kamu jatuh Cinta sama Putra?? " Ucap Mario sembari melangkah maju mendekati Hanum.


Hanum pun mundur dengan tubuh yang sudah gemetar dan sudah membayangkan bagaimana Mario bila sedang Marah.


" Katakan...!! " Bentak Mario yang masih terus maju mendekati Hanum, dan Hanum pun berhenti mundur saat tubuh nya tersudut di sebuah tembok.


" Saya tidak punya hubungan apa - apa dengan Bang Putra." Ucap Hanum memberanikan diri nya menatap Mario.


" Oh ya, benar kah. "


Braaakkkk....


" Katakan yang jujur ******..!!! " Mario mencengkram dagu Hanum dengan kasar.


" Ti - tidak Saya tidak punya rasa sama Bang Putra." Ucap Hanum ketakutan.


" Bohong, Saya tahu kamu suka sama Putra kan? " Mario mencengkram dagu tersebut dengan sangat kencang.


" Tidak Bang." Ucap Hanum yang sudah meneteskan air matanya.


Aaawwww...


Mario menjambak rambut Hanum dengan kasar lalu menjatuhkan tubuh Hanum ke Lantai hingga pelipis nya membentur lantai.


" Saya tidak akan tinggal diam kalau sudah berhubungan dengan Putra."


******


Hanum keluar dari ruangan Mario dengan penampilan yang acak - acakan sembari menangis.


Saat itu Putra melintas dan Hanum melewatinya, hingga membuat Putra mengejarnya Hingga di depan sebuah gudang Senjata Putra menarik tangan Hanum.


" Katakan sama Saya, Mario pukuli kamu lagi??" Putra mengintrogasi Hanum.


Hiks.. hiks... hiks..


" Katakan Hanum!! "

__ADS_1


Putra mengangkat wajah Hanum yang terlihat ada lebam dan pelipis nya yang berdarah.


Hiks.. hiks... hiks..


" Tolong biar kan Saya pergi, jangan pernah dekati Saya." Hanum mencoba untuk pergi dari hadapan Putra namun kedua tangan kekar Putra memegang kedua lengan Hanum.


" Kamu Mau menghindar dari Saya, tidak akan Saya lepaskan kamu sebelum cerita pada saya."


" Saya mohon, biar kan Saya pergi dan jangan pernah dekati Saya."


" Katakan dulu kenapa? "


Hanum mencoba melepaskan kedua tangan Putra yang memegang lengan nya, dan mendongakkan wajah nya ke arah Putra karena tubuh Putra sangat tinggi.


" Apakah Salah Saya mempunyai rasa pada seorang Pria, apakah Saya di larang jatuh Cinta di keadaan rumah tangga yang tidak sehat. Saya juga ingin merasakan kehidupan yang bahagia, bukan penderitaan seperti ini hiks.. hiks.. hiks.. Saya sudah lelah.. hiks.. hiks.. " Hanum dengan refleks menempelkan wajah nya di dada milik Putra.


Tangisan yang begitu kencang di sebuah gudang Senjata, hingga menggaung serta tubuh yang bergetar.


Putra pun menarik Hanum kedalam dekapan nya, di peluk erat tubuh Hanum yang bergetar karena menangis.


" Menangis lah yang kencang, biar hati kamu lega. Luapkan semua emosi kamu, agar tidak mengganjal di hati kamu."


****


Di ruang kesehatan Putra mengobati Hanum, beberapa kali Hanum mencoba menolak tapi Putra terus mengotot untuk mengobati luka nya.


" Bang biar Saya saja yang pasang plester nya "


" Diam, kamu diam saja."


Saat pandangan mata mereka sangat dekat dan hembusan nafas Putra yang menerpa wajah Hanum saat memasang plester di pelipis nya ada rasa getaran terhadap tubuh nya, begitu pun dengan Putra degup Jantung nya begitu sangat terasa.


Putra terus menatap mata Hanum begitu pun juga Hanum, namun entah kenapa saat wajah mereka semakin dekat Putra mencium bibir Hanum dengan lembut dan Hanum yang sadar segera menghentikan nya.


" Maaf Bang ini Salah." Hanum segera pergi meninggalkan Putra yang masih berdiam diri di posisi nya.


" Apa yang Saya lakukan." Ucap Putra sembari memegang bibir bawah nya.


Aaarrrrggghhhh......


" Siap.. sial.. sial... "


Putra terus menghantam kasur blankar lalu dia duduk di atas blankar tersebut dengan mengingat kejadian tadi.


" Kenapa Saya lakukan itu pada Hanum, Saya tidak boleh jatuh Cinta lagi, nggak boleh hati ini terbuka untuk wanita lain, hanya Senja yang Saya cintai nggak boleh ada wanita lain nggak boleh."


******


Hanum memegang bibir nya dia masih merasakan ciuman yang di lakukan Putra pada nya.


" Ini Salah saya..!! "


Hanum memejamkan matanya dengan degub Jantung yang begitu keras.

__ADS_1


__ADS_2