
Putra membuka amplop tersebut, bukan surat peringatan tapi sebuah surat dari Jendra Abas, berisi tentang pemanggilan nya.
" Kenapa Pak Jendral langsung mengirim surat, dan bukan surat peringatan?" Putra memandang bingung isi surat tersebut saat setelah membacanya.
" Hanum kan anak Pak Jendral, apa mungkin berhubungan karena dia sebagai Ayah nya."
Putra menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, dengan segala pikiran yang bercabang.
*****
Dengan seragam lengkap nya Putra berjalan menuju ruangan Jendral Abas dengan di antar oleh Ajudan nya menuju ruangan Jendral Abas.
" Silahkan masuk Pak Kapten, di dalam Pak Jendral sudah menunggu anda. " Ucap Ajudan Jendral Abas.
Putra mengetuk pintu dan memasuki ruangan Jendral Abas dan disana sudah ada Danyon yang sedang duduk dengan Jendral Abas.
Putra pun memberi hormat pada kedua Pria tersebut yang berbeda pangkat.
" Silahkan duduk Kapten Putra, kita tidak usah formal kita santai saja." Ucap Jendral Abas.
Putra pun lalu duduk di samping Danyon nya, dengan serius Putra tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
" Kapten Putra Saya sudah tahu permasalahan nya tentang kemarin dengan Kapten Mario." Ucap Jendral Abas.
" Siap Salah Pak." Ucap Putra.
" Saya disini sebagai seorang Ayah bukan sebagai seorang Jendral di mata kamu sekarang, saya sudah tahu ceritanya dan Saya sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik buat anak nya."
" Siap Salah maaf Pak, Saya memang tidak seharusnya mencintai Putri Bapak. Untuk selanjut nya karena kesalahan saya, dengan ikhlas Saya terima hukuman nya. " Ucap tegas Kapten Putra.
" Kapten Putra Saya sebagai Danyon menyerahkan surat mutasi anda ke suatu tempat yang jauh yaitu wilayah ujung Timur, mungkin dengan ini bisa menghindari kejadian yang kemarin. Semoga betah di tempat yang baru. " Ucap Danyon.
Putra menarik nafas nya saat mendengar wilayah ujung Timur, dimana semua kenangan terindahnya berada disana.
" Maaf, saya sebagai orang tua harus melakukan yang terbaik demi anak nya dan ke utuhan rumah tangga nya.
" Siap Pak, saya terima di tempatkan dimana saja." Ucap Kapten Putra.
*****
Putra memandang surat pemindahan tugas nya, dimana letaknya di daerah dimana penuh kenangan dengan masa lalu yang indah.
" Ternyata Saya di tugas kan disini, entah ini bahagia atau sedih seakan memutar masa lalu yang dulu." Putra tersenyum pilu saat memandang surat perintah mutasi nya ke tempat yang baru.
Putra pun lalu berjalan keluar dari gedung dimana Jendral Abas Dinas, Putra pun lalu melajukan mobil nya menuju ke Panti Bunda Mutia.
Di perjalanan Putra memikirkan dengan anak nya Avan, antara di dilema membawanya atau meninggalkan nya disini saat ini Putra di pindah tugas kan.
__ADS_1
***
Ibu Mutia melipat kembali surat mutasi Putra, lalu Ibu Mutia memegang tangan Putra yang sedang duduk tertunduk.
" Pergi lah, biarlah Avan bersama Ibu. Bila suatu saat nanti Andra di tugas kan kesana Avan pasti akan di bawa kesana menemui kamu. Di saat seperti ini tidak mungkin kamu membawa Avan." Ucap Ibu Mutia.
" Ini memang Salah Saya Bund, jadi Saya harus berpisah dengan Avan dimana Saya harus kembali berada di mana kenangan masa lalu itu dimulai."
" Yang sabar ya, semoga ini bisa jadi pembelajaran kamu di Kemudian hari."
" Mungkin ini juga cara terbaik buat Saya agar bisa jauh dari Hanum, Saya memang Salah jatuh Cinta pada istri orang."
*******
Andra, Kinan dan Aswin berkumpul di rumah Dinas Putra. Mereka sudah mengetahui tentang mutasi Putra ke wilayah ujung Timur.
" Saya titip Avan untuk sementara waktu, tolong jaga dia saya tidak bisa membawa nya dalam situasi seperti ini." Ucap Putra pada Andra dan Kinan.
Avan yang belum mengerti yang sedang terjadi pada Ayah nya, hanya diam santai sembari mewarnai gambar super hero nya.
" Avan akan aman bersama Kinan dan Saya Bang, doa kan saya di tugas kan kesana agar kalian berkumpul." Ucap Andra.
" Bang, semoga betah di tempat yang baru." Ucap Aswin.
***
" Avan, Ayah dapat tugas nggak mungkin Ayah bawa Avan nanti suatu saat Avan akan berkumpul kembali dengan Ayah jadi sementara Avan tinggal sama Papi Mami ya."
Hiks... hiks... hiks....
" Avan Mau ikut sama Ayah, Avan nggak Mau sama mami papi."
Hiks... hiks... hiks....
Avan mengeratkan kedua tangan nya yang dia kalung kan di leher Putra, hingga Putra pun tidak tega untuk meninggalkan anak satu - satu nya selama 2 tahun baru sekarang pertama dia akan meninggalkan Avan bahkan pindah tugas yang entah sampai berapa lama.
Hiks... hiks... hiks....
" Avan Mau ikut sama Ayah."
Hiks.. hiks.. hiks...
Yang melihat pun ikut bersedih saat seorang anak harus berpisah dengan Ayah nya, Putra pun tak kuasa meneteskan air matanya di kecup nya kedua pipi Avan, dan di peluk erat tubuh gembul Avan.
Putra menyerahkan Avan pada Andra setelah lama dia gendong, saat Avan akan di gendong Andra, Avan memberontak menangis kejer.
" Nggak Mau... Avan mau ikut sama Ayah..!! "
__ADS_1
Hiks... hiks.. hiks...
" Ayah... jangan pergi... Avan ikut.... Ayah... hiks... hiks.. hiks . "
" Saya pamit, titip Avan." Ucap Putra pada Andra dan Kinan.
" Kalau sampai kasih kabar Bang." Ucap Kinan.
" Iya, Abang pasti selalu berkabar buat melihat jagoan Abang."
" Aswin, sampai jumpa lagi." Ucap Putra pada Aswin.
" Selamat bertugas di tempat yang baru Bang, biarlah disana ada masa lalu tapi Abang harus tetap kuat. Dan doa kan semoga saya dengan Kanaya bahagia, minta doa nya walau nanti tidak bisa hadir." Ucap Aswin pada Putra.
" Alhamdulilah, semoga lancar." Ucap Putra .
Putra mengangkat ranselnya dan menarik kopernya meninggalkan rumah Dinas nya, Putra tidak menoleh ke belakang saat Avan masih terus menangis memanggilnya, sampai Putra masuk kedalam taksi online meninggalkan Asrama masih terdengar suara tangisan Avan yang sangat keras.
" Maaf kan Ayah Nak, sementara kita berpisah dulu. "
*****
Hiks... hiks.. hiks..
Hanum menangis di sebuah gudang Senjata, saat mengetahui hari ini Putra telah berangkat menuju tempat tugas yang baru.
Hiks.. hiks.. hiks...
" Kenapa hati ini sakit sekali ya Allah, sakit rasanya."
Hanum duduk sembari memeluk kedua kakinya dengan wajah dia sembunyikan, isak tangisan pun memenuhi gudang Senjata.
" Saya memang benar sangat mencintai Abang hiks.. hiks.. Saya merasa sangat ke hilang an hiks.. hiks... sakit rasanya hiks.. hiks.. "
****
Putra pun sembari memandang awan Putih yang bagai kapas saat pesawatnya telah lepas landas. Terakhir dia berangkat ke wilayah Timur bersama dengan Senja, masih teringat saat terakhir menaiki pesawat dengan nya Senja tidur bersandar di bahu nya.
" Abang kembali sayang, tunggu Abang sebentar lagi akan menemui kamu di rumah keabadian."
Info Promo Karya ke 3
❤ Satu Hati Untuk 2 Prajurit ❤
Sudah Up ya... mampir baca di Karya ke 3 Saya, jadikan Favorite di rak buku Reader's kalian, dukung juga Karya ke 3 saya Satu Hati Untuk 2 Prajurit Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐, vote dan hadiah dan dukung terus Karya saya jadikan Favorite ya...
__ADS_1
Salam Sahabat Puspa....
Karena kalian Saya selalu semangat berkarya...