Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Tanpa Dirimu Tak Ada Artinya


__ADS_3

Senja menatap lekat rumah Dinas yang pernah dia tempati bersama Putra, semua istri para Anggota merasakan sangat sedihnya dengan perpisahan yang sudah terjalin erat seperti saudara.


" Di luar sana yang kuat Bu, yang tegar." Ucap Ibu Danyon.


" Makasih Bu, Insya Allah."


Senja bersalaman dan berpelukan dengan para istri prajurit lain nya, tak hanya Senja yang menangis tapi semua Ibu - Ibu lain nya pun ikut menangis.


Andra membantu menaikan koper milik Senja, dan mengantarnya kembali ke Panti dimana tempat tinggal Putra.


Senja terus memandangi rumah dinasnya yang pernah dia tempati hampir satu tahun. Suasana Asrama yang akan selalu dia rindu kan.


" Sudah siap? " Tanya Andra.


" Sudah Bang." Jawab Senja sembari meneteskan air matanya.


Andra pun menjalankan mobil nya, mengantarkan Senja ke Panti Bunda Mutia dimana dulu dia dan Putra pertama kali bertemu. Hanya mereka yang kini menjadi keluarganya tempat untuk bersandar dan berteduh.


" Setelah ini apa yang akan kamu lakukan." Tanya Andra saat sudah mobil nya keluar dari Batalyon.


" Saya ingin melahirkan anak Saya dengan selamat." Jawab Senja lirih.


" Bang terima kasih, mungkin selama ini Saya banyak salah sama Abang. Maafkan semua nya selama Saya dulu bersama Abang."


Andra menoleh sekilas ke arah Senja, dan lalu fokus kembali mengemudikan mobil nya.


" Harapan Saya satu, kamu bisa melanjutkan hidup bersama dengan anakmu." Ucap Andra dengan mata yang sudah memerah.


****


" Nak, bagaimana kondisi kamu?" Sambut Ibu Mutia saat Senja sudah tiba di Panti Bunda Mutia.


" Hampa Bunda." Ucap Senja.


Ibu Mutia pun merangkul pundak Senja dan mengiringnya menuju kamar Putra.


" Bund, kamar ini selalu mengingatkan Abang. Hati Senja rapuh, Senja nggak kuat hiks.. hiks.. hiks.. " Senja memeluk tubuh Ibu Mutia saat sudah berada di depan pintu kamar.


" Masuklah Nak, menangislah di dalam luapkan semua isi hatimu." Ucap Ibu Mutia.


******


" Tari bagaimana Bu, hmm.. maksudnya Senja." Tanya Andra .


" Dia masuk ke kamar nya, biarlah dia disana. Ibu juga merasakan bagaimana rasa nya kehilangan, Putra sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri, dia anak yang kuat, dia anak yang tekun apa yang ingin dia capai dia berusaha semaksimal mungkin."


" Saya pribadi sangat kehilangan sosok prajurit tangguh seperti Bang Putra, tidak hanya kita tapi negara pun kehilangan para prajurit tangguh yang gugur."


***


Hiks... hiks... hiks...


" Hampa hati ini Bang, malam - malam Saya tidur tanpa selimut hangatmu, terima kasih sudah menjadi cinta pertama dan terakhir, terima kasih sudah menitipkan benih cinta ini."


Hiks... hiks...


Senja memeluk erat seragam milik Putra, Seragam terakhir yang Putra berikan saat akan berangkat tugas.


Eggghhhh....


Senja mencengkeram sprei nya, dan memegang perut nya, wajah pucat keringat dingin pun keluar.


" Ya Allah, jangan kau ambil buah cinta kami. Kuat kan dia, seandainya untuk memilih lebih baik Allah mengambil nyawa Saya. Hamba rela menggantikan nyawa ini, demi anak yang hamba kandung."


Egghhhhh.....


*******


" Bagaimana sudah ada perkembangan? " Tanya Andra.


" Semua Anggota mengarah ke sebuah kota kecil, kemungkinan mereka ada disana." Jawab seorang Prajurit.


" Terus kasih kabar setiap hari, dan jangan sampai identitas mereka di ketahui. Karena kemungkinan anak buah mereka masih ada."


" Siap Pak, akan Saya arahkan pada mereka. "


*********


" Saya kemari ingin mengembalikan milik Pak Kapten." Ucap Andra sembari menyerahkan sebuah plastik warna putih gelap.


Senja membuka plastik yang di berikan oleh Andra, dan membuka nya di lihat nya sebuah Dog Tag dan cincin pernikahan milik Putra yang bertuliskan nama Mentari.


Senja menutupi mulut nya, seakan tak kuasa menahan tangis, di rabanya cincin serta Dog Tag milik suaminya itu.


" Abang menemukan nya saat memeriksa Jenazah, dari situlah bahwa kita mengetahui itu jasad Bang Putra. " Ucap Andra.


" Abang pernah bilang apa sebelum dia pergi?"


" Dia hanya bilang, kalau Abang harus jaga Tari dan anak yang Tari kandung, Abang berpesan seperti itu, pesan yang dia sampai kan seperti sebuah isyarat bahwa dia akan pergi meninggalkan kita untuk selamanya."


" Abang hanya berpesan seperti itu saja?"


" Iya, tak ada lagi."


*********


Senja menaburkan bunga di atas pusaran makam, setiap hari dia selalu ke makam suaminya. Semua keluh kesah dia keluarkan di depan nisan suaminya.


" Bang, tinggal menghitung hari anak kita akan segera lahir ke dunia, pasti Abang tahu rasa sakit yang luar biasa ini. Mungkin Abang akan marah seandainya harus mana yang di pilih, maaf Bang Senja lebih memilih anak kita lahir ke dunia dan menikmati indah nya dunia serta punya tujuan cita - cita untuk dia capai di masa depan. Tunggu Saya Bang, tunggu Saya di disana kita berjalan bergandeng tangan kembali melewati kabut putih tebal."


Senja mengusap nisan suaminya, terlihat jelas ukiran nama suami nya dan tanggal meninggalnya.


" Semoga mereka yang kejam melakukan ini pada Abang dan para Prajurit lain nya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal."


********


Mengapa waktu


Tak pernah berpihak kepadaku


Apakah aku terlalu

__ADS_1


Terlalu banyak berkelana


Mengapa kita


Masih saja tak pernah bersatu


Selalu saja bertemu bertemu saat


Kau milik yang lain


Mungkin kau bukanlah jodohku


Bukan takdirku


Terus terang


Aku merindukanmu


Setengah mati merindu


Tiada henti merindukanmu


Masih hatiku untukmu


Aku tetap menunggumu


Mengapa waktu


Tak pernah berpihak kepadaku


Apakah aku terlalu


Terlalu banyak berkelana


Mungkin kau bukanlah jodohku


Atau bahkan bukan takdirku


Terus terang


Aku merindukanmu


Setengah mati merindu


Tiada henti merindukanmu


Masih hatiku untukmu


Aku tetap menunggumu


Oo-oo-oo


Wo-oo wo-oo (merindukanmu)


Wou-wou-wo


Aku merindukanmu


Setengah mati merindu


Masih hatiku untukmu


Aku tetap menunggumu


Ku tetap menunggu setengah matiku


Menunggumu (wo-ow)


Menunggumu


Aku tetap menunggumu


Alunan musik dengan lagimu yang sama di putar berulang - ulang, Senja memejamkan matanya di dalam tempat tidur yang sudah terbang ke alam mimpi sembari memeluk seragam loreng milik Putra.


" Abang.....!!! "


Langkah kaki terus menelusuri gelap nya malam dengan kabut tebal, tanpa alas kaki bergaun putih panjang Senja terus mencari dan memanggil suaminya.


" Abang...!!! Senja ingin Abang... "


Suara langkah kaki begitu sangat samar, Senja terus menoleh kanan dan ke kiri. Terus mencari dari mana arah sosok yang akan mendekati nya.


" Bunda.....!!! "


Terdengar teriakan suara anak kecil laki - laki, Senja pun terus mencari dari mana asal suara tersebut.


Senja berjalan sangat jauh, suara yang memanggil Bunda pun terdengar begitu sangat dekat.


" Bunda... kemari...!!! Teriak panggilan anak kecil itu.


Langkah yang begitu jauh, membuat sumber suara tersebut sangat dekat, dan Senja melihat samar - samar dua orang memakai pakaian serba putih di sebuah jembatan.


" Bunda...!!! "


Lambaian tangan itu mengarah padanya, Senja melihat begitu samar - samar. Saat sudah dekat dia melihat sosok suaminya yang sangat dia rindukan, Putra suami yang selama ini dia rindukan, suami yang selama ini ingin dia peluk. Namun langkah nya terhenti saat seorang anak kecil yang bergandengan tangan dengan Putra, sosok anak kecil laki - laki.


" Abang....!!! "


" Bunda... kita berdua sangat bahagia, terima kasih Bunda hadir di tengah - tengah kami berdua. "' Ucap Putra sembari tersenyum.


" Abang...!!! "


" Bunda jangan bersedih, Adek akan jaga Ayah untuk Bunda, Adek sayang Bunda terima kasih sudah mau berjuang untuk Adek lahir ke dunia ini."


Hiks... hiks... hiks...


" Boleh kah sekali memeluk kalian...!!! "


Mereka tersenyum kepada Senja, dan tubuh mereka berdua semakin hilang tampak nya.


" Bunda akan selalu ada di hati kami berdua, dalam doa kami akan selalu men doakan untuk Bunda.Tunggu kami sayang... tunggu kami berdua akan saat nya nanti kita bersama." Ucap Putra yang kini menghilang dengan sosok anak kecil yang dia gandeng.

__ADS_1


Hiks... hiks.. hiks....


Abang... Adek.....


" Abang.... Adek....!!! "


Senja berteriak dan bangun dari mimpi nya, masih terdengar suara alunan musik yang tadi dia putar dengan berulang - ulang entah sudah berapa kali dia Putar.


Senja meraba perut nya, yang usia kandungan 9 bulan dan hanya tinggal menghitung hari.


" Apakah karena rasa rindu yang sangat mendalam hingga Saya merasakan seperti nyata bermimpi tentang dirimu Bang, sangat nyata sekali mimpi ini."


********


" Abang pagi - pagi sudah datang kemari, Abang nggak Dinas? " Tanya Senja saat melihat Andra sudah datang ke Panti dengan menggunakan pakaian santai nya.


" Abang kemari ingin mengajak kamu ke sesuatu tempat."'Jawab Andra.


" Kemana Bang, Senja lagi malas keluar rumah."


" Ayolah, biar kamu tidak sedih terus Abang ingin memanjakan kamu."


" Saya bukan istri Abang, dan bukan apa - apa Abang."


" Iya benar, Abang bukan apa - apa kamu, tapi ayok sekali ini saja. "


Senja akhirnya mau menuruti keinginan Andra, dan dia pun segera berpamitan kepada Ibu Mutia.


***


" Abang ngapain ajak Senja ke Mall? "


" Ssttt.. jangan berisik temanin Abang belanja."


Senja seketika mengernyitkan dahinya, Andra menarik pelan tangan Senja, dan saat itu juga mereka sampai lah di sebuah Baby Shop yang ada di dalam mall.


" Abang mau beli perlengkapan bayi untuk siapa? " Tanya Senja polos.


" Untuk calon anak Tari." Jawab Andra dengan senyuman manisnya.


" Abang nggak perlu, Senja akan beli sendiri." Tolak Senja lalu beranjak untuk keluar dari Baby Shop tersebut.


Namun dengan segera Andra menarik kembali tangan Senja hingga menabrak dadanya yang bidang.


" Jangan tolak pemberian dari Saya, please!! "


" Maaf nggak bisa."


" Tolong, jangan melihat siapa Saya. Terima pemberian dari Saya, anggaplah ini titipan dari Almarhum Bang Putra."


Akhirnya Senja pun luluh, dan memasuki Baby Shop tersebut. Andra membelikan beberapa baju Bayi motif untuk bayi laki - laki, dan beberapa perlengkapan bayi lain nya, hingga dua buah troly penuh dengan perlengkapan bayi.


" Bang ini kebanyakan, dan tadi lumayan nominal yang Abang keluarin. Nanti kalau Senja gajian pasti akan ganti." Ucap Senja sembari menatap barang belanjaan nya.


" Tadi Abang kan sudah bilang, ini Abang berikan cuma - cuma untuk calon anak kamu, simpanlah uang kamu, suatu saat nanti akan berguna."


****


" Banyak banget Senja, ini Andra yang belikan semua? " Tanya Ibu Mutia.


" Iya Bund, Senja sudah menolaknya tapi Bang Andra maksa Bund, jujur Senja juga nggak enak menerima semua pemberian nya." Jawab Senja.


" Ini nama nya rejeki buat calon anak kamu Senja, jadi jangan pernah tolak rejeki buat anak."


*****


Andra berjongkok di hadapan pusaran makam Putra, terlihat bunga yang masih segar dan makam yang terawat Andra pun sudah bisa menebak bahwa Senja setiap hari datang ke makam.


" Bang, anak kamu tinggal menunggu hari saja akan lahir ke dunia, dan istri kamu pun Bang dia sangat ingin cepat menanti kelahiran Putra pertama kalian. Saya sudah melakukan apa yang Abang pesankan pada Saya, jujur Bang saya sangat sedih melihat dia selalu menangis, dalam diam hati nya rapuh kehilangan sebelah belahan jiwanya."


Andra mengusap nisan Putra, ada tangis di dalam hati nya, dan ada rasa sesak pun di dadanya setelah kehilangan sahabat Seperjuangan nya.


********


Senja menatap semua pemberian dari Andra, semua perlengkapan bayi yang dia belikan untuk calon jagoan nya yang akan segera lahir.


" Nak, Bunda sangat yakin tanpa Bunda dan Ayah banyak yang akan menyanyangi kamu."


Senja mengusap perutnya ada sedikit tendangan yang dia rasakan, dan Senja tak kuasa menahan haru saat merasakan tendangan dari dalam perutnya.


" Bang lihatlah calon jagoan kita, tendangan nya sangat kuat, dia pasti seperti kamu Bang, kuat dan tampan. "


Senyum getir terlihat di wajah Senja, rasa sepi yang dia rasakan saat dimana detik - detik menanti kelahiran sang buah hati tanpa ada sang suami di samping nya.


Dari balik pintu, Ibu Mutia menatap dengan mata yang berkaca - kaca, melihat anak asuhnya harus berjuang sendiri disaat dimana seharusnya sosok suami ada di samping nya.


*******


" Apakah sudah ada kabar? " Tanya Andra.


" Belum Pak, apakah mereka suruh pulang saja? " Tanya seorang Prajurit.


" Baiklah, bila pencarian tidak menemukan hasil suruh mereka kembali."


********


Senja mengusap perutnya, masih rasa yang sama dan masih dengan hati yang seperti kemarin. Sembari duduk di kursi panjang menatap anak - anak yang sedang bermain.


" Seandainya tidak terjadi, suatu saat tidak mungkin kamu akan seperti mereka, maafkan Bunda, bukan Bunda tidak sayang,suatu saat kamu akan mengerti arti dari sebuah pengorbanan."


Saat sedang duduk sebuah bola menggelundung ke arah kaki Senja, dengan susah Senja ingin meraih bola tersebut. Namun tangan kokoh tersebut mengambilnya, dan menyerahkan bola tersebut pada anak kecil yang berlari ke arah mereka berdua.


" Anak seperti mereka butuh sosok kedua orang tua lengkap, berdoa lah semoga ke ajaiban itu datang, jangan pernah di rasakan pada anakmu nanti, kuasa Allah lah yang mengaturnya dan Dokter hanya memprediksi. Jangan lagi kamu bicara seperti itu, seakan kamu akan memilih lebih baik mempertaruhkan nyawa, kamu harus lihat calon anakmu butuh sosok figure orang tua. Kamu harus yakin ke ajaiban itu pasti ada." Ucap Andra yang tiba - tiba datang menghampiri Senja.


*****


" Hey... dasar bisa nya minta - minta Sana kamu, enak saja minta makan gratis, badan tinggi tapi kerja nya minta - minta dasar pemalas. "


Pemilik warung itu terus memaki pria yang berperawakan tinggi tegap dengan pakaian compang camping, dengan wajah yang kusam dan penampilan kucel.


" Saya lapar..!! "

__ADS_1


🌞🌞🌞🌞🌞


Special Bab 74 Pecah rekor 1 Bab 2000 kata, special Bab 74 untuk Reader's setia Ujung Timur ( Penantian Sang Prajurit) Selalu jadikan Favorite, jangan lupa kasih bintang ⭐⭐⭐⭐⭐, vote dan hadiah.


__ADS_2