Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Biar Nyawaku Taruhan nya


__ADS_3

" Kita semua di suruh kembali, malam nanti 2 helicopter akan menjemput kita di titik pendaratan awal." Ucap Sertu Ahmad.


" kita sudah Satu bulan tidak ada hasil, bagaimana nasib mereka berdua, hidup atau mati." Ucap Praptu Akbar.


" Dua rekan kita Hilang, kita semua berdoa andai mereka masih hidup lindungi mereka, andai mereka sudah meninggal semoga jasad mereka segera di temukan."


" Amin....!!! "


*********


Senja mencari Ibu Mutia dan Pak Wahyu, di setiap ruangan bahkan Panti pun tidak ada. Peluh membasahi kening nya, wajah pun sudah pucat serta menahan rasa sakit yang luar biasa.


Eeggghhh...


" Ya Allah ini benar - benar sakit, semua nggak ada saya nggak sanggup sakit sekali." Ucap Senja sembari meremas perutnya.


Senja lalu mengambil ponselnya yang ada di saku baju nya, dia mencoba menghubungi Ibu Mutia namun tidak ada respon bahkan dia pun mencoba menghubungi Pak Wahyu sama sekali tidak di jawab juga.


Dia pun lalu mencoba menghubungi Andra, dan panggilan nya pun tersambung dan Andra pun mengangkat panggilan dari Senja.


" Assalamualaikum Bang."


" Walaikumsalam Tari." Ucap Andra dari seberang.


" Bang, tolong Tari perut Tari sakit sekali, seperti nya mau melahirkan." Ucap Senja.


" Tunggu Abang, sabar ya Abang segera kesana."


Senja menutup ponselnya, dia terus meringis antara sakit dan mulas, kedua tangan nya pun mencengkeram kedua sisi kursi yang Senja duduki.


Eegghhh.....


" Sabar ya Nak, kamu harus lahir dengan selamat."


********


" Ingat kita memasuki hutan kembali, waspada mata." Ucap Sertu Ahmad.


" Siap..!! " Ucap serentak 10 Prajurit yang akan memasuki hutan.


" 3 jam kita berjalan ke daratan luas, sehabis kita lewati hutan pinus. Dan Helicopter akan menjemput kita disana, sebelum kita memasuki hutan Mari kita berdoa semoga kita semua selamat dan di lindungi oleh Tuhan." Ucap Sertu Ahmad.


" Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing - masing."


Para Prajurit menundukkan kepalanya untuk memanjatkan doa sebelum kembali markas.


" Mari kita lanjutkan, ingat awas mata musuh ada di sekitar kita. "

__ADS_1


Mereka pun melangkahkan kakinya memasuki hutan, dengan senjata yang mereka sembunyikan di balik pakaian mereka.


" Tunggu....!!!


******


" Bang, sudah nggak kuat."


Senja mencengkram lengan Andra sangat kuat, dan sesekali merintih kesakitan.


" Ibu mana? " Tanya Andra mencari Ibu Mutia.


" Sedang keluar, tadi ponselnya tidak di respon pas Tari hubungi." Jawab Senja.


" Kita ke rumah sakit." Andra pun membopong tubuh Senja menuju mobilnya.


Eegghhh.....


Senja terus mencengkram lengan Andra yang sedang menyetir mobil, dan dengan paniknya Andra pun sampai mengeluarkan keringat dingin.


" Sabar Tari, sebentar lagi kita sampai."


" Nggak kuat Bang, ini sakit sekali."


" Iya sabar, ini Abang sudah ngebut."


********


" Ayah juga sama Bunda, seperti nya ini penting coba Bunda hubungi kembali Senja nya."


Ibu Mutia pun segera menghubungi Senja namun tak ada respon dari nya, sehingga membuat khawatir Ibu Mutia.


" Ayah nggak di angat, bagaimana ini Yah."


" Kita segera pulang, takut ada apa - apa."


*******


" Suster tolong ada yang mau melahirkan." Teriak Andra sembari membopong Senja menuju ke arah IGD.


Senja pun lalu di baringkan di atas blankar, dan menuju ke ruang bersalin.Sedangkan Andra tampak Panik, dia terus berjalan mondar mandir di depan pintu ruang bersalin.


Saat dirinya sedang Panik, ponsel Andra berdering, dan melihat nama panggilan tersebut Ibu Mutia.


" Hallo Assalamualaikum." Sapa Andra.


" Walaikumsalam." Balas Ibu Mutia dari seberang.

__ADS_1


" Nak, tadi Senja menelepon Bunda sama Ayah berkali - kali, ini kami masih di Jalan, bisa tolong kasih tahu Senja tadi Bunda mencoba hubungi ponsel nya tidak di angkat, dan ini kami sedang menuju pulang."


" Ibu ke rumah sakit Xys Saya, Soalnya Senja mau melahirkan." Ucap Andra.


" Baik Nak, kami akan segera kesana sekarang."


" Pak!! " Andra menoleh saat seorang Dokter menghampiri nya.


" Iya Dokter!! "


" Kalau boleh tahu suami nya mana, Ibu Senja terus memanggil nama suaminya."


" Dia sudah meninggal Dok, baru mau dua bulan."


" Kondisi Ibu Senja kritis, persalinan normal tidak mungkin kami perlu persetujuan dari keluarganya untuk persalinan secara Cesar."


" Tunggu Dok, keluarganya sedang dalam perjalanan." Ucap Andra dengan wajah Panik nya.


" Tapi kita nggak bisa menunggu lama, kalau bisa Bapak saja, soak nya kondisi Ibu Senja sangat menurun." Ucap Dokter penuh penjelasan.


" Dok, pasien memanggil nama Pak Andra." Salah Satu suster tiba - tiba menghampiri Andra dan Dokter.


Andra pun memasuki ruang bersalin, dimana Senja terbaring lemah, dengan wajah pucat menahan kesakitan.


" Abang.. Eegghhh.. " Tangan Senja ingin meraih tangan Andra, dan Andra pun meraih tangan Senja.


" Temani Tari disini, Abang menyuruh Bang Andra selalu untuk disisi Tari kan? "


Andra menganggukkan kepalanya sembari dengan mata yang sudah memerah.


" Apa yang bisa Abang bantu."


" Temani Tari, hingga jagoan Tari lahir.Biarkan Tari melahirkan normal, Tari ingin sebelum mata ini menutup, Tari ingin berjuang melahirkan normal."


Senja sudah meneteskan air mata nya, sembari meremas erat jemari Andra.


" Nggak, kondisi Tari lemah, nggak mungkin secara normal. Hanya jalan Satu - Satu nya Persalinan ini harus Cesar, bisa bahaya kalau melahirkan normal."


" Bantu Tari Bang , Seperti pesan terakhir Bang Putra."


" Iya tapi bukan dengan banyak resiko seperti ini."


********


" Makan ini, dan minum pelan - pelan."


Wajah garang, tinggi tegap pakaian yang compang camping, terlihat kusam dan kurus pemandangan saat ini yang para Prajurit menyaksikan di depan mata.

__ADS_1


Rasa bahagia pun terpancar di wajah Para Prajurit saat melihat teman seperjuangan mereka di temukan.


" Hubungi Markas, katakan pada mereka kita sebagian pulang dan sebagian tinggal, karena kita menunggu ke ajaiban dan doa kita terkabul."


__ADS_2