Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Butterfly nya Pasukan Khusus


__ADS_3

Putra pun bergabung dengan Tim Aswin, mereka menelusuri aliran sungai yang sangat deras. Sehingga mereka harus ekstra hati - hati, apa lagi saat hujan turun air yang sedikit meluap walau bisa di lalui.


" Kamu yakin, dia tidak menjebak Kita!! Bisik Aswin pada telinga Putra.


" Dia sudah terbukti tidak bersalah." Ucap Putra.


" Tapi tetap waspada." Ucap Aswin.


Kanaya yang mengetahui diri nya sedang di perbincangkan hanya diam menundukkan wajahnya saat berjalan.


" Hey.. awas..!! " Putra menarik tangan Kanaya hingga mereka saling berpelukan, dan lalu Putra pun melepaskan pelukan nya.


" Kalau jalan pake mata, tadi ada balok lewat." Ucap Putra.


" Terima kasih." Ucap Kanaya.


*******


" Apakah sudah dapat kabar? " Tanya Jendral Abas


" Belum Pak, mereka saat ini sedang menelusuri aliran sungai dengan di bantu oleh adik kandung Walaode." Ucap Ajudan.


Mata Jendral Abas langsung terbelak kaget, saat mendengar adik dari seorang musuh besar Negara ikut dalam pencarian Letda Hanum.


*********


Aaarrrgggghhhh


Sebutir peluru terlepas dari perutnya, dengan alat seada nya Hanum melepaskan peluru tersebut dari dalam perutnya.


Dengan seragam lorengnya dia tekan luka yang banyak mengeluarkan darah,dan tubuh atas nya hanya berbalut kaos tanpa lengan.


" Tolooongg.....!!" Hanum mencoba berteriak di sebuah bebatuan dia berbaring di atas nya. Dengan tangan yang sudah bersimpah darah.


****


" Aliran ini menuju kemana? " Tanya Putra pada Kanaya.


" Kita berjalan berlawan arah dari Jatuhnya teman kalian, inilah aliran yang di lewati teman kalian jatuh dari atas tebing." Jawab Kanaya.


Para pasukan pun terus berjalan menelusuri aliran sungai yang berlawanan arah berdasarkan arahan Kanaya.


" Stop..!!! " Ucap Aswin dengan nada yang keras.


" Ada apa? " Tanya Putra.


Aswin pun berbalik menuju ke arah Kanaya yang sedang menatap tajam ke arah Aswin.


" Kamu tidak sedang berbalas dendam kan? " Tanya Aswin.

__ADS_1


" Tidak, ini murni saya sendiri yang ingin membantu kalian menemukan Letda Hanum. " Ucap Kanaya pada Aswin .


*****


" Ayah bagaimana, apa dapat kabar tentang Hanum? " Tanya seorang pria tinggi bertubuh tegap pada Jendral Abas.


" Belum."


" Belum mendapatkan info, kita arah kan Tim Sar."


Lalu pria tersebut mencoba Menghubungi Tim Sar untuk segera membantu proses pencarian Letda Hanum.


Jendral Abas hanya memandang sedih dengan menatap photo Hanum putri satu - satu nya.


********


Saat menelusuri sungai Aswin melihat aliran sungai berwarna meraih , dan memberi aba - aba untuk mengikuti arus yang berlawanan.


" Seperti nya ini darah." Ucap Aswin.


Putra pun lalu berjongkok dan mengambil air sungai yang sedikit tercemar oleh darah.


" Ini memang darah manusia, bukan hewan berarti kemungkinan ini darah Letda Hanum." Ucap Putra.


" Ayok ikuti langkah saya." Ajak Kanaya.


Mereka pun mengikuti langkah Kanaya dan aliran sungai yang berlawanan dengan Para Prajurit sembari menenteng senjata.


" Astaghfirullah Hanum." Teriak Putra.


Putra dan Aswin langsung mendekati Hanum, tubuh yang menggigil dan demam tinggi mengakibatkan diri nya tak sadarkan diri. Putra pun lalu membopong tubuh Hanum dan membawanya ke tepi sungai.


Putra pun mendekap tubuh Hanum, saat Medis memberikan pertolongan pertama tehadap Hanum.


" Bagaimana ini? " Tanya Putra dengan mimik panik.


" Kita harus segera bawa Letda Hanum, dia seperti nya telah mengeluarkan peluru yang menembus perutnya hingga terjadi pendarahan. " Ucap Ikbal sebagai Dokter Tentara yang selalu ada di zona berbahaya.


" Kita bawa Hanum, biar saya yang menggendong dia di punggung saya sampai ada Helikopter yang Menjemput di titik lokasi yang sudah di tentukan."


Akhir nya Para Prajurit pun menuju arah titik lokasi penjemputan, dimana tubuh Hanum Putra gendong di belakang punggung nya.


********


Putra pun kembali di rawat di rumah sakit, lukanya terbuka kembali, karena efek gerak yang mengakibatkan jahitan nya terbuka.


" Saya juga bilang apa, luka nya bengkak kan jahitan nya terbuka." Ucap Miko saat setelah menjahit kembali luka Putra.


" Saya lakukan kan demi kemanusiaan." Ucap Putra.

__ADS_1


" Ya.. ya.. iya... " Ucap Miko sembari meninggalkan Putra.


*********


Ruang rawat Hanum yang di samping ruang rawat Putra sangat di jaga ketat, beberapa Tentara berjaga tepat di depan pintu Hanum.


" Sebenarnya Hanum itu siapa sih, sampai di jaga begitu." Tanya Aswin.


" Dia itu anak nya Jendral Abas, anak semata wayangnya." Jawab Andra.


" Oh.. dia anak nya Jendral, pantas saja tapi dia biasa - biasa saja punya seorang Ayah berpangkat tinggi."


" Itulah Hanum, dan masih banyak rahasia yang kita tidak tahu tentang kehidupan pribadinya dan dia pun lebih memilih di luar tidak mengenalnya sebagai anak seorang Jendral hanya beberapa saja yang tahu, terutama Saya orangnya."


*********


Putra yang sedang bersandar di kepala ranjang tiba - tiba Andra dan Kanaya datang sembari membawa Avan, begitu pun Ibu Mutia dan Pak Wahyu datang ikut menengok Putra.


" Bagaimana keadaan kamu Put? " Tanya Pak Wahyu.


" Alhamdulillah Ayah sudah sedikit baik an, walau tadi sempat bengkak dan terbuka kembali jahitan nya." Jawab Putra.


" Avan, sini sama Ayah nak." Sapa Putra saat melihat Avan yang tengah berada di gendongan Kinan.


" Jangan Bang, nanti luka Abang kena tendangan kaki Avan." Ucap Andra.


" Iya Bang, biar Avan sama Mami dan Papinya." Ucap Kinan sembari melirik ke arah Andra yang penuh arti.


" Mami Papi?? " Ucap Putra dengan tatapan penuh tanda tanya.


*****


Hanum pun sudah sadar, di dalam kamar nya pun Hanum di temani dengan kedua orang tua nya.


" Inilah yang dari dulu Ibu tidak suka kenapa kamu masuk Tentara, hal seperti ini sudah cukup rasa was - was pada Ayah kamu, sekarang terjadi pada kamu Hanum." Ucap Ibu Rita.


" Hanum kan cuman kena luka tembak bu, dan masih hidup." Ucap Hanum.


" Ibu nggak bisa bayangin kalau benar terjadi apa - apa." Ucap Ibu Rita.


" Bu itulah resiko sebagai seorang Prajurit, kita harus kuat. Bisa saja kita sekarang bersama nya tapi besok hanya tinggal nama." Ucap Jendral Abas.


" Ayah kan punya jabatan tinggi, kenapa Hanum menjadi Pasukan khusus yang selalu berada di medan perang, tidak Ayah tempat kan di kantor nya saja." Ucap Ibu Rita protes.


" Ibu jangan marahin Ayah, ini semua kemauan Hanum. Ini adalah cita - cita Hanum, karena Hanum ingin seperti Ayah."


Ceklek...


Suara pintu terbuka, dan masuklah seorang Perwira dengan langkah tegap baju lorengnya Memasuki kamar inap Hanum.

__ADS_1


" Bagaimana sayang kabar nya..??? "


Setelah melow nangis bombay dan spot jantung, kita datar - datar dulu biar nafas nya nggak ngos - ngos an terus 😁😁😁


__ADS_2