
" Yank, Abang jujur nggak bisa ninggalin Bunda sendiri disini. Abang akhir - akhir ini sibuk karena ada penjagaan keamanan di Hotel xxxx." Ucap Putra sambil mengusap perut Senja.
" Iya Bang, Senja nggak apa - apa kok." Ucap Senja sambil tersenyum.
" Tapi sayang, perut Bunda kan sering sakit. Bunda sama Bunda Mutia saja ya, biar kalau ada apa - apa ada Bunda Mutia sama Ayah Wahyu."
" Senja nurut kata Abang saja, yang penting selama Bunda di panti Ayah pulang kesana kan?"
" Iya sayang, nanti Ayah bawa seragam kalau baju sehari - hari masih ada banyak disana."
*******
Senja dan Putra pun telah sampai di Panti, mereka langsung di sambut Ibu Mutia sama Pak Wahyu.
" Sayang, sudah mulai kelihatan." Ucap Ibu Mutia sambil mengusap perut Senja.
" Iya Bund, ini sudah masuk 2 bulan lebih." Ucap Senja.
" Bunda, Putra titip Senja sama Bunda dan Ayah. Karena Putra sedang sibuk, takut sewaktu - waktu perut nya sakit. " Ucap Putra pada Ibu Mutia dan Pak Wahyu.
" Iya nak, tenang saja kami berdua akan jaga istri kamu." Ucap Pak Wahyu.
***
Senja lalu masuk kedalam kamar Putra, setelah Putra menaroh koper di kamar Putra pun langsung pamit untuk Dinas..
" Kamu ngapain disini? " Tiba - tiba Kinan masuk kedalam kamar Putra.
" Kinan!!! " Ucap Senja.
" Masih ingat juga nama saya." Ketus Kinan.
" Ingat lah, masa nggak ingat." Ucap Senja masih dengan nada santai nya.
" Bikin repot saja, hidup kakak. Dari awal datang selalu bikin Bang Putra sedih, dan kewalahan dengan istri nya. Mulai dari hilang, depresi sekarang hamil juga nyusahin." Sindir Kinan.
" Maaf Kinan, Kakak juga kalau bisa menentang takdir nggak akan mau seperti ini, dan bila kejadian itu tidak terjadi Kakak juga nggak bakalan seperti ini." Ucap Senja sembari menahan emosinya.
" Abang tuh, terlalu sayang sampai dia masih mau mempertahankan barang bekas, malah Abang bukan orang pertama yang membuka segel kakak. " Ucap Kinan sembari berlalu meninggalkan kamar.
__ADS_1
Senja duduk lemas di Sisi tempat tidur, memegang dada nya yang sesak dan lalu dia pun mengeluarkan inhalernya.
" Saya juga nggak mau Kinan, Abang adalah yang kedua, tapi Saya tidak bisa menentang takdir." Ucap Senja yang sudah meneteskan air mata nya.
*******
" Kinan kamu panggil kan Kak Senja, sudah jam 10 siang belum juga keluar kamar." Suruh Ibu Mutia .
" Males akh Nek, Nenek saja yang ke kamarnya." Ucap Kinan terus memakan cemilan di dalam toples.
" Ikh.. dasar anak ini."
Ibu Mutia lalu menuju kamar Putra, di ketuknya pintu namun tak kunjung di buka.Ibu Mutia pun lalu mencoba membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci.
" Ya Allah Senja." Ibu Mutia panik saat melihat Senja sedang meringis kesakitan.
" Kamu kenapa nggak panggil Bunda." Ucap Ibu Mutia panik.
" Nggak apa - apa Bund, Senja sudah biasa." Ucap Senja.
" Bukan begitu, Putra menitipkan kamu sama Bunda dan Ayah. Kami juga bertanggung jawab kalau ada apa - apa sama kamu." Ucap Ibu Mutia sembari mengusap perut Senja.
*******
" Sayang kenapa nggak bilang sama Bunda? " Tanya Putra panik.
" Maaf Bang, Senja tidak mau merepotkan semua orang disini. Begitu juga Abang, mungkin Abang juga lama - lama bosan." Jawab Senja.
" Bunda ngomong apa, Ayah nggak pernah merasa bosan, ngeluh ngerawat Bunda. Ayah sayang sama Bunda, Ayah ikhlas dan Ridho merawat Bunda. " Ucap Putra.
" Tapi tetap saja, Senja merasa nggak enak. Dari awal Abang bertemu Senja yang ada Abang selalu kewalahan tentang kejadian yang menimpa Senja. Apalagi Bang Putra sebagai seorang lelaki mungkin tidak puas mencoba yang bekas."
" Bicara apa itu, siapa yang mengajari Bunda bicara seperti itu." Ucap Putra tegas.
" Bunda tidak ada yang ajari, ini keluar dari hati Bunda sendiri." Ucap Senja yang sudah dengan mata berkaca - kaca.
" Dengarin Abang, Bunda janda atau perawan Ayah tidak mempermasalahkan hidup Bunda. Mungkin Ayah kecewa, marah atas apa yang menimpa Bunda. Tapi semua surah takdir, Ayah menikahi Bunda karena Cinta, dan sudah Ayah berniat menikahi Bunda, beribadah bersama, suka duka bersama." Ucap Putra sembari memegang kedua tangan Senja.
" Katakan siapa yang sudah meracuni otak Bunda??? "
__ADS_1
_____________
_____________
______________
*******
" Kinan.....!!! " Teriak Putra.
" Ada apa Putra kamu teriak - teriak panggil Kinan, dia ada di dapur sama Bunda.
" Abang ada apa panggil Kinan? " Tanya Kinan sembari membawa nampan berisi aneka cemilan.
" Sini kamu!!! " Bentak Putra yang berkancak pinggang.
Kinan pun meletakkan nampan tersebut di atas meja, lalu mendekati Putra dengan sorot mata yang ingin menerkam mangsa.
" Kamu bicara apa sama Kak Senja?? " Tanya Putra sambil menekan lengan Kinan.
" Auw... sakit Bang." Kinan meringis sakit saat Putra memegang kuat pergelangannya.
" Putra lepasin. " Teriak Ibu Mutia.
" Bunda harus tahu, cucu Bunda sama Ayah ini sudah keterlaluan sudah mencuci otak istri saya." Ucap Putra penuh emosi.
" Kinan apa benar itu? " Tanya Pak Wahyu.
" Ti - Tidak kak, ini salah paham." Jawab Kinan dengan wajah gugup.
" Salah paham apa Kinan, jelas - jelas kamu yang merusak rumah tangga Abang." Bentak Putra kembali.
Kinan hanya menunduk tak berani menatap kearah Kakek Nenek dan Putra yang ada di depan nya.
" Iya saya meracuni otak Kak Senja, kenapa? Karena Kinan kasihan lihat Kakak selalu hidup menderita merawat istri Kakak, kalau di bilang tinggal menghitung hari saja."
" Cukup Kinan, kenapa kamu bisa berbicara seperti ini." Bentak Putra.
" Karena Kinan cinta dan sayang sama Abang. Kinan dari dulu mencintai Abang.. hiks.. hiks.. " Ucap Kinan sembari menangis.
__ADS_1
" Maafkan Abang, kalau Abang tidak bisa membalas cinta Kinan, Abang sangat mencintai istri Abang. Kamu hanya anggap sebagai adik Abang." Ucap Putra sembari mencium kening Senja.
" Tapi Abang adalah cinta pertama kinan hiks.. hiks.. " Ucap Kinan yang sembari menangis.