
Aku mungkin bukan lah sempurna, namun dalam diri ini ada cinta yang ku jaga.
walau raga ini tak lagi berpijak, namun cinta ini tak akan pernah hilang.
Setiap langkah ku ada doa
Dimana cahaya itu adalah sebuah harapan dari doa.
Dengan langkah tegap, Aku mengikuti arah cahaya itu, dimana cahaya itu membawa raga ini untuk kesana
Cinta dalam doa
Dimana penantian panjang pun sudah menanti
Namun Aku tak bisa menggapainya, karena raga ini terpisah.
Hanya penantian panjang, dengan terus melangkah hingga cahaya itu di depan mata dan berakhir redup untuk selama nya.
Suara ambulance memasuki halaman rumah sakit, dimana Mobil ambulance tersebut terparkir tepat di IGD, sebuah blankar di turunkan dengan tubuh yang di atas nya penuh luka dan darah.
" Cepat siapkan ruang operasi karena harus segera di tangani." Teriak Dokter Hilman saat menerima laporan atas kecelakaan yang terjadi pada Putra.
" Denyut nadi nya sangat Lemah, benturan di kepalanya sangat parah." Ucap seorang perawat.
" langsung ke ruang operasi, Pak Kapten harus segera di tangani, sampai kan pada istrinya untuk langsung menanda tangani."
Dokter Hilman mendorong blankar tersebut ke arah ruang operasi, dengan darah yang terus mengalir.
Saat itu Dahlia melintas saat setelah visit ke kamar para pasien nya.
" Ya Allah Abang....!!! " Dahlian segera mengikuti arah blankar tersebut.
" Hiks.. hiks.. hiks.. apa yang terjadi dengan suami saya? "
" Dia kecelakaan saat bertugas." Ucap Dokter Hilman singkat.
Lampu pun di nyalakan dan beberapa perawat membersihkan darah yang mengucur dari kepalanya.
" Hiks.. hiks.. Abang.. bangun Bang... hiks hiks... "
" Kamu lebih baik keluar, biar saya yang menanganinya."
" nggak Dokter, biar saya ikut mengoperasi suami saya."
" Kalau tak sanggup mundur dari sekarang, jangan sampai mundur pas di tengah jalan." Ucap Dokter Hilman tegas
Semua alat terpasang di tubuh Putra, beberapa kantong darah pun sudah di siapkan setelah terlebih dahulu mengecek darah saat akan melakukan operasi.
__ADS_1
Dahlia menjahit bagian luka yang membuka, dan Dokter Hilman yang menangani bagian kepala Putra yang retak, dan darah terus keluar.
" Tolong sumbat terus agar darah tidak terus keluar." Ucap Dokter Hilman.
" Dokter, kondisi pasien menurun."
Tit.. tit.. tit..
Suara yang keluar dari layar monitor yang mendeteksi jantung dengan angka yang semakin menurun.
Konsentrasi Dahlia terganggu saat mendengar kondisi Putra yang semakin menurun.
" Abang harus kuat, Abang harus bangun." Dahlia berusaha untuk tetap tegar di depan meja operasi yang terdapat tubuh suaminya.
*******
Kinan sudah berada di rumah sakit sambil menggendong putri kecilnya Maharani, dan Avan yang berada di pangkuan Andra.
" Hiks... hiks.. Ayah papi hiks... hiks... "
Andra memeluk erat tubuh Avan, yang terus menangisi Ayah nya, saat tahu Ayah nya kecelakaan.
" Avan jangan nangis terus, Avan doain Ayah biar bisa di selamatkan."
" Hiks.. hiks.. apakah Avan masih bisa ketemu sama Ayah papi hiks.. hiks. "
" Insya Allah Ayah nggak akan ninggalin Avan."
*******
Kaki terus berjalan tanpa alas kaki, pakaian yang serba putih dan mencium wangi yang sangat Putra ingat, wangi dimana saat detik - detik terakhir Senja meninggal.
Putra melihat sebuah cahaya yang menyilaukan mata, namun terasa kaki ini untuk terus mendekati.
Bau harum wangi terus menyengat ke hidung,saat kaki terus mendekati cahaya itu. Dan saat semakin dekat, terlihat seorang wanita berambut panjang dengan pakaian yang putih panjang menjuntai kebawah.
Harum wangi bunga semakin kuat di hidung, dan semakin kuat apa yang ada di pikiran Putra. Lambaian tangan itu mengarahkan pada Reza.
******
Pendarahan pun berhasil di hentikan, dimana Putra saat ini tengah akan di bawa ke ruang observasi sebelum masuk kedalam ruang rawat.
Dahlia duduk di depan Putra yang masih belum sadar, dan masih terpasang alat bantu pernapasan.
" Bang, bangun sayang jangan bikin Bunda panik terus."
Dahlia terus menatap Putra dengan air mata yang sudah menggenang di kedua kelopak mata nya.
" Hiks.. hiks... Abang Dahlia minta jangan tidur lama hiks hiks.. Bunda sama Bang Avan menunggu Ayah."
__ADS_1
*******
Dari balik kaca Avan melihat tubuh ayah nya yang berbaring dan belum sadarkan diri, dimana alat - alat masih terpasang di mana - mana.
" Ayah... hiks.. hiks.. hiks.. hiks... "
Dahlia mendekap tubuh Avan sama - sama menangis melihat orang yang mereka sayang terbaring tak berdaya.
" Ayah kapan bangun Bunda? "
" Bunda tidak tahu nak, kita sama - sama semoga Ayah cepat bangun."
" Ayah nggak bakalan tinggalin Avan kan Bunda, Avan nggak mau kehilangan Ayah."
Dahlia memeluk tubuh Avan, dimana tangis nya tumpah saat mendengar kata - kata kehilangan.
" Ayah pasti bangun sayang, kita berdoa semoga Ayah cepat bangun dan bersama kita lagi."
********
Langkah kaki ini menghantarkan pada sebuah hamparan yang sangat luas dimana sebuah cahaya seperti mentari bersinar, Putra menoleh ke kanan dan kiri saat aroma wangi itu berhenti dimana Putra berdiri.
Putra melihat seorang wanita berdiri tak jauh dari nya, dengan sebuah senyuman dengan wajah yang bersinar.
Putra mendekati nya, senyum mengembang disaat sama - sama saling ber hadapan.
" Dimana sebuah rindu saat ini terobati."
Tangan Senja meraih tangan Putra, di cium kedua punggung tangan suaminya itu.
" Ciuman tangan ini mewakili berbakti istri menuntun menuju surganya, tangan ini akan saling menggenggam dimana kita sudah saat nya untuk bersama."
Di belainya rambut Senja yang terasa nyata, terlihat dari dekat wajah yang cantik dan bersinar dengan aroma wangi bunga tubuh nya..
" Terima kasih sayang, tunggu kita di keabadian, kita memang belum saat nya untuk bisa bersama."
" Senja sudah bahagia disini, terima kasih untuk setiap doa yang Abang berikan, doa suami membawa istri kebahagian yang tak ternilai. Terima kasih sayang untuk semua cinta mu, dimana cinta mu dan cinta saya bersatu hingga di keabadian. Senja akan tunggu disana." Senja menunjuk ke arah cahaya yang benderang itu dengan wajah bahagia.
" Senja akan pergi, jagalah orang - orang yang terkasih, cintai lah dimana sekarang pendamping hidup Abang tengah menangis, dia juga bidadari nya Abang, usai sudah tugas Senja di samping Abang, cinta yang di hati Abang Senja ambil dan Senja bawa untuk Senja tunggu di pintu keabadian dan semoga kelak surga tempat kita. Jagalah juga pangeran kecil kita, dia adalah anugerah terindah, ada separuh nyawa Senja di tubuh nya. "
" Terima kasih sayang, kamu menunggu untuk penantian yang panjang."
Tangan Senja menjauh, langkah nya mundur dengan wajah yang tetap tersenyum ke arah suaminya hingga sebuah cahaya tepat berdiri di atas nya.
" Cahaya ini akan bersinar lagi, dimana sudah saat nya kita bersama."
Perlahan Senja dan cahaya itu perlahan menghilang dengan wangi aroma tubuh nya, seutas senyuman di wajah Putra saat melihat tubuh istrinya hilang bersama dengan cahaya yang bersinar seperti mentari.
" Berjalan lah sayang ke arah cahaya yang ada di belakang mu, dimana cahaya itu banyak sebuah harapan."
__ADS_1
Putra menoleh ke arah belakang dimana dirinya harus kembali, dimana dirinya harus menyelesaikan semua nya.