Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Tugas Mendadak


__ADS_3

" Telah terjadi tawuran antar kelompok, sehingga mengakibatkan satu kota lumpuh total dan terjadi penjarahan." Ucap Putra.


" Saya minta satu kompi tambahan di kirim, karena satu kompi sudah berangkat 5 jam yang lalu." Ucap Putra kembali.


" Kapten apakah Letna Arya sudah berangkat?" Tanya Aswin.


" Sudah, dia berangkat dengan kompi satu. Kamu itu dengan saya 1jam lagi kita berangkat." Jawab Putra.


Putra pun, lalu dengan motor nya menuju asrama untuk berpamitan dengan Senja. Namun saat memasuki rumah tak terlihat Senja, Putra terus mencari hingga ke dapur pun tak ada. Lantas Putra mengambil beberapa pakaian nya, dan memasukan nya pada tas ranselnya.


" Abang!! " Sapa Senja.


" Kamu dari mana Sayang? " Tanya Putra.


" Habis nyari seger - seger Bang." Jawab Senja sambil melirik ke arah sebuah ransel.


" Abang mau pergi tugas?" Tanya Senja.


" Iya, maaf ini mendadak. Abang harus pergi ke kota xxxx karena disana terjadi perang antar kelompok." Jawab Putra.


" Nggak apa - apa Bang, hati - hati Bang." Ucap Senja sembari memainkan jarinya di seragam loreng milik suami nya.


" Kenapa hem? " Tanya Putra karena sudah tahu gelagat istri nya yang akan di tinggal pergi.


" Senja bakalan kangen sama Abang." Jawab Senja.


" Abang cuman satu minggu sayang, kan bisa telponan." Ucap Putra.


" Kalau sudah selesai, cepat pulang." Ucap Senja dengan manjanya.


" Kenapa harus cepat pulang?? " Putra menarik pinggang Senja.


Senja tersipu malu,dengan wajah yang sudah memerah seperti tomat.


" Coba katakan sama Abang!! " Ucap Putra mengangkat dagu Senja.


" Kangen tidur di peluk sama Abang." Ucap Senja dengan Menempelkan wajah nya pada dada Putra.


" Kangen itu saja? " Tanya Putra.


" Semuanya." Jawab Senja sembari menutup wajahnya.


***

__ADS_1


Truck yang membawa para Anggota TNI pun sudah pergi, Senja melihat kepergian suami nya hingga tak terlihat.


Namun saat akan memasuki rumah nya, Senja merasa sangat mual hingga perut nya terasa sangat sakit.


Hoooeekkk...


Senja berlari menuju kamar mandi, mual yang membawanya hingga memuntahkan semua isi perut nya.


Eennnggghhh....


Senja, memegang perut nya dan terduduk lemas di lantai kamar mandi.


*****


Para Tentara sudah membuat pagar betis, untuk menghalangi masa yang saling baku hantam. Hose pun memancurkan air ke masa yang sedang saling melempar Bom molotov.


" Tembak kan dengan peluru karet pada masa yang melempari kita dengan Bom Molotov." Teriak Putra saat di atas mobil yang membawa air untuk di siramkan pada masa.


Asap hitam mewarnai langit, bau asap Bom molotov begitu menyengat hidung.Namun mata Putra fokus pada satu titik, pada seorang wartawan yang sedang meliput aksi bentrokan tersebut.


" Amankan warga sipil yang sedang meliput." Teriak Putra.


Lalu Putra mengambil meghaphone Toa meneriaki wartawan yang sedang meliput berita di tengah - tengah masa.


Lalu Putra berlari menerjang kerumunan masa, saling sakut dan saling tendang.


" Cepat lindungi Kapten, dia berlari ke arah wartawan yang sedang meliput berita. " Teriak Aswin.


Putra lalu langsung memeluk wartawan wanita tersebut, dan kameramen sudah merunduk terlebih dahulu saat sebuah panah mengarah ke arah mereka.


Arrrggghhh.....


Putra mengerang di balik masker dan helm nya saat anak panah menusuk punggungnya.


" Kapten Putra..!! " Teriak Arya.


" Cepat bawa Kapten." Ucap Arya mengarah pada beberapa Tentara yang ikut berlari ke arah Putra.


" Kamu lagi!! " Teriak Arya pada Sandra.


" Sudah tahu sedang genting, kenapa meliput di tengah - tengah itu bahaya, sudah dua kali gara - gara kamu Kapten Putra mengorbankan nyawa nya. " Teriak Arya kembali.


Sandra yang masih sock begitu kaget yang melindunginya adalah Putra.

__ADS_1


****


Putra terbaring, dengan tengkurap. Anak panah yang tertancap sangat dalam namun menimbulkan sedikit infeksi karena anak panah tersebut sangat berkarat.


" Tolong jangan kasih Senja, saya tidak mau di sangat khawatir." Ucap Putra dengan wajah yang pucat dan sedikit demam.


" Baik, kami akan jaga rahasia." Ucap Aswin.


Lalu Arya menarik paksa Sandra memasuki ruang inap di mana Putra di rawat.


" Coba lihat, karena ulah kamu Kapten kena anak panah. Otak kamu di mana hah.., kalau dia tidak melihat kamu yang kena anak panah itu dan tinggal nama. Kenapa nggak kamu saja yang kena, kenapa harus dia dan ini berhubungan dengan kamu." Bentak Arya.


" Maaf..!!! " Ucap Sandra dengan terisak.


" Kenapa kamu bawa ulet keket kesini." Bisik Aswin.


" Biar dia jera, dia itu sebenarnya sumber malapetaka. " Ucap Arya dengan lantang.


Putra tidak menghiraukan Sandra yang ada di depan matanya, dia lalu memalingkan wajah nya.


****


Senja, terbaring lemas dengan rasa yang mual dan perut yang sedikit sakit.


" Abang kenapa belum kasih kabar." Senja sembari mengecek ponsel nya.


Lalu Senja kembali mual, dan langsung berlari ke kamar mandi memuntahkan kembali namun hanya air yang keluar.


********


" Tolong ijinkan Saya menengok Putra, maksudnya Kapten Putra. " Ucap Sandra.


" Dia sedang istirahat, lebih baik kamu pergi." Ucap Arya dengan nada dingin.


" Saya hanya ingin minta maaf dan berterima kasih pada nya." Ucap Sandra dengan wajah memohon.


" Cukup ungkapan terima kasih nya jauhi kehidupan Putra, jangan pernah hadir di hadapan dia lagi, karena kamu pembawa sial bagi dia, dan duri bagi rumah tangga mereka." Ucap Arya kesal lalu masuk ke kamar di mana Putra di rawat dan menguncinya dari dalam.


" Dasar ulet keket." Gerutu Arya kesal.


" Siapa? " Tanya Aswin.


" Siapa lagi kalau bukan Sandra." Jawab Arya.

__ADS_1


" Sandra lagi, Sandra lagi kenapa takdir mempertemukan Saya dengan dia, dan selalu berakhir di rumah sakit. " Ucap Putra dengan nada sedikit kesal.


__ADS_2