Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Ada Cinta Menanti


__ADS_3

Dahlia dengan telaten menyuapi balita yang dia temukan, balita perempuan dengan mata biru yang menggemaskan.


" Belum ketemu juga siapa kedua orang tua nya?" Tanya Dokter Hilman.


" Iya, tapi saya akan tunggu sampai satu minggu, nanti biar lah ke sana nya badan perlindungan anak dunia yang menanganinya." Jawab Dahlia.


" Kemungkinan besar kedua orang tua nya meninggal dunia."


" Iya bisa jadi, kami sudah mencoba bikin pengumuman tapi tidak ada yang mengakuinya."


" Anak malang, semoga kelak hidup kamu lebih bahagia." Ucap Dokter Hilman sembari membelai rambut pirangnya.


********


Jhon dari jauh terus memandang Dahlia yang tengah memeriksa kondisi pengungsi, senyum mengembang Jhon saat melihat Dahlia hingga tanpa sadar Dahlia pun melihat Jhon yang tengah melihat nya dari jauh sehingga Dahlia tersenyum ke arah Jhon.


" Oh, my god. what a beautiful smile ( oh tuhan senyuman nya sungguh indah )" Ucap pelan Jhon saat Dahlia tersenyum ke arah nya.


" What's up bro, you're interested in that doctor ( sedang apa bro, kamu tertarik dengan Dokter itu )" Tiba - tiba teman Jhon menghampiri nya.


" Like I'm in love with her ( Seperti nya saya jatuh cinta padanya). "


"See if she likes you too ( Dekati dia siapa tahu dia juga suka sama kamu ) "


" Dahlia, I love you. " Ucap pelan secara tiba - tiba keluar dari mulut nya.


********


Putra memandang photo Dahlia dan dirinya yang sedang berpose di padang savana, wajah nya yang natural membuat terkesan cantik dari dalam.


" Abang kangen kamu sayang, semoga kamu baik - baik saja disana."


Putra mencium photo seukuran dompet nya, ada rasa rindu yang sangat besar dalam diri Putra, apalagi jarak yang jauh terbentang lautan luas dan tanpa komunikasi.


" Ayah...!!! " Avan tiba - tiba datang dan memeluk tubuh Putra dari belakang.

__ADS_1


" Ada apa Bang? "


" Bunda kemana Ayah? "


" Bunda sedang Dinas sayang jauh sekali." Ucap Putra sembari mengangkat tubuh Avan yang sangat berat ke pangkuan nya.


" Bunda Dahlia nggak kayak Bunda Senja kan Ayah, Bunda Senja pergi jauh nggak akan pernah kembali." Tersirat di wajah Avan seakan rindu akan belaian dari sang Bunda yang lama tak pernah dia rasakan.


" Bunda Senja memang pergi tak akan pernah kembali tapi Bunda Senja akan selalu menunggu kita disana. Dan Bunda Dahlia sedang tugas di Negara XX, Bunda menjadi relawan Tenaga Medis disana."


" Avan rindu Bunda Ayah." Avan melingkarkan kedua tangan nya di leher Putra.


" Ayah juga sama kangen Bunda."


********


" Hi.. What are you doing '? ( hai.. kamu lagi ngapain? ) Sapa Jhon saat melihat Dahlia duduk di atap gedung sembari melihat pemandangan kota yang telah hancur akibat serangan bomb.


" It's a beautiful ruin, especially when it's not destroyed, and one day I'll miss this city ( Sudah hancur saja masih indah apalagi saat belum hancur, suatu saat saya akan merindukan kota ini ) " Ucap Dahlia sambil menikmati pemandangan dari atap gedung.


" Are you in love with someone? ( apakah kamu sedang jatuh cinta pada seseorang? ). " Tanya Dahlia.


Jhon lalu tersenyum menatap ke arah Dahlia, lalu mengalihkan kembali pandangan.


" I fell in love with her, but I didn't dare tell her. ( Saay jatuh cinta padanya, tapi saya tidak berani mengatakan nya.) ."


" Why?? " Tanya Dahlia.


" I know he belongs to someone else ( Aku tahu dia milik orang lain )."


Jhon mengetahuinya Dahlia dari sebuah cincin yang melingkar di jari manis nya, Jhon tahu itu dan Jhon lebih memilih memendam rasa pada Dahlia.


" I'm in love with you, dahlia. I think this is when I first met you. Let me taste this forever without your know. ( Saya jatuh cinta sama kamu Dahlia, rasa ini muncul saat pertama berjumpa dengan mu. Biarlah rasa ini saya simpan selamanya tanpa kamu ketahui. ) Ucap Jhon dalam hatinya.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Rindu yang terlalu


Jangan aniaya aku begini rupa, sayang


Rasa-rasanya sudah sia-sia aku menahan deritanya


Apakah aku harus menghambakan diri dalam pelukanmu?


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Isyaratkan saja sebagai alam yang indah dan menyejukkan


Tatapan mata yang berhiaskan senyuman yang gurih


Entah rindu atau hanya semu


Mau tak mau aku mau menyaksikannya lagi


Dari wajahnya,kunikmati panggung hiburan teristimewa


🌹🌹🌹🌹🌹


Januari baru saja menyapa


Entah mengapa basah kemarin masih terasa dingin disini menggenapi desember kemarin


Meresap lebih dalam mengharu biru dalam rindu yang tak usai


Kau disana,tempat asing yang tak lagi kujamah


Seperti biasa meramu kopi yang kau bilang sepenuh hati


Antara pahit dan manis yang masih saja kau bilang adalah rasamu


Manisnya rindu dan pahitnya menanti

__ADS_1


__ADS_2