
Putra pun kini memboyong keluarga di rumah baru yang mereka beli, rumah berlantai 2 dengan halaman yang luas dan menyatu dengan tempat praktek Dahlia.
" Yah, itu nanti di cat warna nya yang kalem ya, terus warna nya krem saja." Ucap Dahlia.
" Iya siap bu Bos." Ucap Putra sambil mengacungkan jempolnya.
Dahlia dengan membawa perut yang sudah besar di usia kehamilan menginjak 8 bulan berjalan pun sudah agak sedikit susah bahkan nafasnya pun sudah sedikit ngos - ngos an.
" Duduk Bund, biar Ayah sama orang suruhan Ayah yang membereskan semuanya."
Dahlia pun duduk dan lalu Putra memijat kedua kaki Dahlia yang sudah bengkak di naikan ke atas pahanya.
" Bunda mau ikut bantuin Yah, kayak nya gatal tangan nggak ikut membereskan nya."
" Sudah tahu beres nya saja ya."
*******
ngeeeennng.... ngeeeeeenggg
Bruuummm... bruummm...
Avan dengan kursi yang memiliki sebuah roda di mainkan layaknya seperti sebuah mobil, Avan duduki dengan di gerakan kesana dan kemari.
" Avan awas ada Bunda kalau kamu menabrak perut Bunda Ayah kempesin itu perut." Teriak Putra.
Avan pun tak memperdulikan nya dia terus Menggerakkan kesana kemari hingga terjadi sesuatu yang membuat seisi rumah panik.
Braaakkk....
__ADS_1
Praaangggg...
" Avan....!!! " Teriak Putra.
Hiks... hiks.. hiks...
Putra dan Dahlia menghampiri Avan saat mendengar Avan menangis, dan saat di lihat Avan terjungkal dari kursi menabrak sebuah hiasan guci besar yang terpajang di sudut ruangan.
" Astaghfirullah Avan, kamu nggak apa - apa nak." Ucap Putra saat melihat Avan yang masih posisi tengkurap tertindih sebuah kursi yang dirinya naiki.
Hiks... hiks... hiks..
" Sakit.. hiks hiks... " Ucap Avan saat melihat kening nya ber darah.
" Sudah jagoan jangan cengeng." Putra menggendong tubuh Avan yang gemuk ke arah ruang tamu.
" Nanti Bunda obat in, tunggu sama Ayah." Ucap Dahlia.
****
" Avan kan kuat Bund." Ucap Acan.
" Hebat ya, anak Ayah sama Bunda ya harus hebat. " Ucap Dahlia yang sudah selesai memberi plester di kening Avan.
" Jangan bandel lagi Bang, kalau sudah kayak ginj mah gimana kamu Bang, kapok atau tidak." Ucap Putra tegas.
" Maaf kan Avan Ayah."
*******
__ADS_1
Dahlia membelai rambut Avan yang kini tertidur pulas di kamar kedua orang tua nya. Wajah yang polos dan tanpa dosa, Avan tidur dengan sangat pulas.
" Bunda semakin hari semakin sayang sama kamu nak, kamu itu pelengkap untuk Bunda sama Ayah, dan pengobat di saat kami lelah."
Putra pun lalu memeluk tubuh Dahlia yang sedang memiringkan tubuhnya menghadapkan Avan.
" Makasih Bund, kamu sayang sama Avan walau dia nggak terlahir dari rahim Bunda." Ucap Putra sambil mengusap perut Dahlia.
" Saat pertama melihat Avan, Bunda sudah jatuh cinta Bang, dia anak laki - laki yang pintar, mba Senja pasti disana bahagia melihat Avan yang sudah besar."
" Senja pasti bahagia, dia menitipkan sama Bunda, karena Bunda orang baik, Bunda tulus mencintai Avan."
******
" Ayah hari ini Mau keluar kota ada acara sama, nanti pulang agak terlambat." Ucap Putra.
" Nanti kabari saja, kalau Ayah sudah sampai." Ucap Dahlia sambil memakaikan seragam Putra ke tubuhnya.
" Awas Avan Bund, dia banyak tingkah Ayah ngeri lihat nya takut Bunda yang kenapa - napa."
" Tenang saja Ayah, Avan nggak bakalan mengerjai Bunda nya namanya juga anak - anak, dia main kesana kemari, rumah setiap hari kayak kapal pecah biarin saja yang penting Avan senang."
Putra pun lalu menarik pinggang Dahlia dan mengecup bibir istri dengan sedikit menggigit dan *******.
" Istri nya Abang, terima kasih sayang Abang bahagia memiliki keluarga yang harmonis, Abang tidak salah memilih Bunda menjadi pendamping hidup Ayah, dan sebagai pelabuhan cinta terakhir Ayah sampai Mata ini menutup."
" Jangan tinggalin Bunda, itu yang paling takut Bunda hadapi,Bunda ingin selalu kita bersama dalam suka dan duka, hanya maut yang memisahkan kita.
Praaangggg.....
__ADS_1
" Avan....!!!! " Teriak Putra dan Dahlia bersamaan.