
Apakah esok kita masih melihat matahari terbit?
Apakah esok kita masih bisa melihat matahari terbenam?
Hari ini pun, tak tahu ini ini terakhir atau pun masih bisa menikmati hari - hari bersama mu.
Sebelum Jiwa ini terlepas dari raga
Sebelum nafas ini terhenti
Ijin kan aku untuk selalu memeluk dan mencium wangi aroma tubuhmu.
Putra menggendong Senja ala bridal style, dia membawa Senja untuk menaiki perahu dimana perahu dan sungai adalah memori indah saat dia masih menjadi guru disini dan awal pertamanya bertemu dengan Putra.
" Bang, masih ingat kan? " Tanya Senja sembari Kepala nya bersandar di dada Putra.
" Iya sayang, Abang masih ingat." Jawab Putra.
" Suatu saat kalau abang kembali satgas atau dapat tempat Dinas disini lagi jangan lupa Abang datang kesini, bawa Avan kalau dia sudah besar nanti. Dan peristirahatan terakhir Senja ingin di mana Senja di lahir kan."
Putra kembali meneteskan air mata nya, dia mengepalkan satu tangan nya, dan menarik nafas nya.
" Sayang, tolong berhenti kata - kata seolah kamu akan pergi meninggalkan Abang untuk selama nya. Keajaiban itu pasti ada, kita sama - sama berjuang, kita sama - sama membesarkan Avan. Tolong jangan seolah - olah semua nya akan berakhir." Ucap Putra dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
" Senja sudah nggak kuat Bang, rasa sakit ini tak akan bisa sembuh, Senja hanya ingin menjadi wanita yang sempurna di mata Abang, banyak luka di diri Senja, hanya ini yang Senja kasih untuk Abang, membalas semua ridho Cinta Abang." Ucap Senja dengan suara Yang lemah.
" Hiks... hiks... hiks... stop sayang stop, jangan bicara apapun lagi. Abang hanya ingin kamu selalu ada bersama kita, Abang nggak kan pernah sanggup untuk kehilangan yang terakhir Kalinya."
Senja memejamkan mata nya, memegang erat tangan suaminya, nafas yang masih teratur namun tangan yang sudah terasa dingin.
Hiks... hiks... hiks....
" Tolong, jangan pergi tinggalkan Abang tolong hiks.. hiks... "
*******
" Hiks.. hiks... Senja kamu harus sembuh, jangan tinggalkan kami." Ucap Kristin menangis saat berada di kamar Senja.
Senja tersenyum ke arah Sahabat nya saat ini, wajah yang sudah terlihat pias dan pucat.
" Terima kasih, sudah menjadi Sahabat sejati Saya, kamu teman terbaik yang Saya kenal. Terus lah menjadi pahlawan tanpa jasa, seperti cita - cita mu sejak dulu." Ucap Senja dengan suara Yang lemah.
" Hiks... hiks... Senja, kamu bikin saya akan terus menangisi mu, jangan bikin Saya sedih senja hiks.. hiks... "
Putra langsung keluar dan lebih memilih duduk di teras depan, pandangan mata nya Yang sudah perih karena hari ini telah banyak mengeluarkan air mata.
" Biarlah orang melihat kamu cengeng, lebih baik tangis mu di keluarkan. Dari pada sesak di dada, lebih baik menangis sekencang - kencangnya." Ucap Pak Antonius datang menghampiri Putra.
" Saya belum bisa Pak, belum bisa mengikhlaskan hiks... hiks... hiks... " Ucap Putra menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
********
Malam begitu sangat terang, dimana bulan purnama dengan dihiasi bintang - bintang di langit Yang nampak berkelap kelip menghiasi malam.
Dimana dua insan duduk di padang savana menikmati malam Yang indah, tubuh Senja berbalut jaket tebal dan pelukan hangat dari Putra Yang memeluk nya dari belakang, Senja menyandarkan Kepala nya di dada Putra.
" Ayah, Bunda senang akhir nya dimana titik terakhir Yang Bunda minta. Terima kasih sayang, menemani malam Yang indah dengan menikmati indah nya bulan purnama berhias bintang Yang berkelap kelip." Ucap Senja sembari tersenyum.
Putra mencium pucuk Kepala Senja, begitu harum aroma bunga di tubuh Senja. Tangan Yang sudah pias dan wajah Yang sudah memucat tak membuat Senja berhenti tersenyum bahagia di depan suaminya.
__ADS_1
" Ayah, Mau dengar Bunda nyanyi nggak? " Tanya Senja.
" Hmm.. Bunda Mau nyanyi lagu apa?" Jawab Putra kembali bertanya.
Senja menolehkan wajahnya ke arah Putra, dan mengusap lembut dagu suaminya Yang sedikit tumbuh bulu jenggot.
" Sebuah ungkapan hati Bunda untuk Ayah."
Senja pun dengan nafas Yang sudah sedikit berat, dan pandangan nya Yang mulai sayu memulai bernyanyi sembari memandang hamparan padang savana.
Manakala hati
Menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan
Saat cinta menemui cinta
Suara semalam
Dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar
Rindumu memanggil namaku
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
Tak kuasa Putra terisak saat Senja bernyanyi, dengan erat Putra memeluk tubuh Senja hingga Putra bergetar karena isakan tangis nya saat mendengar Senja bernyanyi.
Aku tak pernah pergi
Kau tak pernah jauh
Selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak
Menegaskan kucinta padamu
Terima kasih pada Mahacinta
Menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh sukacita
Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu
Cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu
__ADS_1
Kutunggu kau di keabadian
Putra terus menciumi pucuk Kepala Senja, dengan terus mengeratkan pelukan nya, tangis nya pun tak bisa berhenti.
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh sukacita
Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu
Cinta kita sejati
Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesucian cinta
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh sukacita
Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu
Cinta kita sejati
" Hiks... hiks... Abang sayang kamu, sampai kapan pun kamu tetap di hati Abang hiks.. hiks.."
Senja membelai wajah Putra dengan lembut tangan nya mengusap air mata Yang membasahi kedua pipi nya.
" Senyum lah Bang, jangan menangis tersenyum lah untuk Senja. " Senja pun lalu mencium bibir Putra, dan Putra pun memejamkan mata nya. Dan lalu mencoba tersenyum ke arah wajah Senja.
Senja pun lalu mengalungkan kedua tangan nya, dan menelusupkan wajah nya di bawah leher Putra. Mata nya pun mulai terpejam, tangan Yang sudah mulai dingin, dengan harum wangi aroma bunga dari tubuhnya.
" Tidur lah sayang, Hiks... hiks... tidurlah untuk waktu Yang lama, hiks.. hiks.... tunggu kami berdua di keabadian hiks.. hiks... "
Putra memeluk erat tubuh Senja, nafas nya pun terasa sedikit tercekat lalu Putra pun membisikkan di telinga Senja membacakan taqlin.
" Laa Ilaaha Illallah... .!! Dengan bergertar Putra mentaqlin Senja setelah terdengar suara pelan Senja membacanya.
" Laa ilaaha illallah.. " Senja melepaskan kedua tangan nya Yang mengalung di leher Putra dan tak lagi merasakan hembusan nafasnya.
" Aarrrggghhh..... hiks.. hiks... hiks.. "
Putra terus mendekap tubuh istrinya Yang kini telah tiada, dan tak akan pernah lagi dia dengar suara khas nya dan rayuan manjanya. Bahkan tubuhnya tak akan pernah tersentuh kembali.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Sebuah penantian panjang, telah berakhir sampai di keabadian. Dengan membawa sejuta Cinta hingga menutup usia.
Mata ini akan terus terpejam, dan tak akan pernah tubuh ini tersentuh kembali. jasad mu
telah terkubur, Jiwa mu telah terlepas. Namun nama dan Cinta kasih mu akan selalu tetap di hati.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
NB :
__ADS_1
Ujung Timur ( Penantian Sang Prajurit) masih lanjut Reader's...
Beberapa Bab masih menguras air mata...!!