
" Bagaimana sayang kabar nya..??? "
Pria itu mendekati Hanum, namun Hanum membuang muka nya, dan Pria tersebut duduk di Sisi ranjang yang di tempati Hanum.
Mario lelaki yang duduk di Sisi tempat tidur.
" Benar kata Mario, seandainya kamu berhenti menjadi seorang Perwira hati Ibu akan sangat lega dan tidur nyenyak." Kata Ibu Rita yang masih sering mengingat apa yang sering di ucapkan oleh Kapten Mario
" Benar itu, Ibu memang sangat mengerti tapi anak nya tak pernah mengerti." Ucap Mario.
********
Setelah memimpin Apel pagi Putra menuju ke ruangan nya, dan saat akan membuka pintu Andra menghampiri Putra.
" Bang."
" Iya." Putra menoleh ke arah Andra.
" Ada suatu hal yang katanya ingin di sampai kan."
" Iya benar."
" Ikut saya Bang."
********
" Kanaya saya ingin mengucapkan banyak terima kasih, kamu telah menyelamatkan hidup saya. Dan maaf baru sekarang saya tahu wajah kamu, karena saat itu saya tidak bisa melihat." Ucap Putra.
" Saya yang seharusnya minta maaf karena Saya kamu menjadi buta." Ucap Kanaya.
" Saya telah memenuhi janji kamu, langkah selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?"
Kanaya tertunduk diam, dia hanya meremas ujung pakaian nya. Dan membuat Andra serta Putra saling menatap.
" Apakah kamu punya tempat tinggal selain hutan Sana? " Tanya Andra.
Kanaya hanya menggelengkan kepala nya dan masih setia menundukkan kepala nya.
" Kamu tahu Kanaya, Negara tidak menghukum kamu, karena kamu tidak terbukti bersalah dan sangat berterima kasih telah menyelamatkan Saya dan Negara ini." Ucap Putra.
" Apakah punya keluarga lain, agar kamu bisa pulang."
" Saya tidak punya keluarga, hanya mereka dan kini telah tiada."
" Lantas tujuan kamu? " Tanya Putra.
" Ijin kan Saya menjadi pengasuh anak Kapten." Jawab Kanaya.
********
" Enteng banget minta nya." Ucap Andra.
" Kamu terima Put? " Tanya Aswin.
" Iya, Saya tempatkan dia di Panti nggak mungkin Saya tempatin di Asrama." Jawab Putra.
" Di Asrama juga nggak apa - apa Put, seperti dulu waktu ada Kinan kan kamu tidur di Mess." Ucap Aswin.
" Saya tidak suka ada orang asing, kalau Kinan kan sudah Saya kenal." Ucap Putra sembari melirik ke arah Aswin.
*******
__ADS_1
Kanaya pun menggendong Avan, dia bermain bersama semua anak - anak Panti. Ibu Mutia dan Putra pun melihat mereka dari balik jendela kantor Ibu Mutia.
" Ibu tidak menyangka, seorang wanita yang sehari - hari makan dengan kekerasan dan senjata dia juga bisa lembut hatinya." Ucap Ibu Mutia.
" Iya, dia tidak punya siapa - siapa lagi. Malah menawarkan jadi pengasuh Avan." Ucap Putra.
" Dia juga harus kembali belajar menjadi wanita untuk dunia luar, dia telah lama di dalam hutan hanya yang dia lihat kekerasan, darah, peluru bahkan baku hantam."
********
" Avan sudah tidur? " Tanya Putra saat menghampiri Kanaya yang sedang berada di kamar Putra.
" Iya setelah minum susu dia tidur pulas." Jawab Kanaya.
" Kamu bisa tidur di kamar Saya, selagi Saya tidur di Mess agar bisa menjaga Avan."
" Iya terima kasih."
" Hmmm... Putra."
" Iya ada apa?? "
" Bolehkah Saya tidak panggil dengan nama kamu? "
Putra menatap lekat mata Kanaya, dan begitu pula dengan Kanaya menatap lekat mata Putra sehingga hati Kanaya penuh dengan debaran.
" Mau panggil dengan sebutan apa?"
" Hmmm... boleh Saya panggil Mas..!! "
" Hmmm.... Mas ya. "
" Nggak boleh ya? "
Kanaya tersenyum bahagia, apalagi saat mereka saling bertatapan ada rasa getaran yang sangat berbeda di hati nya.
Saat menuju ruang tengah terlihat Kinan sedang bergelayut manja dengan seorang pria. Dan seperti sangat mengenal sosok Pria tersebut.
" Kinan..!! " Tegur Putra
Kinan dan Pria tersebut pun kaget dan langsung menoleh ke arah Putra dengan tatapan kikuk.
" Kalian...???? "
Andra menggaruk rambut nya yang tak gatal sedangkan Kinan tersenyum malu.
****
" Bang bisa Saya jelasin." Ucap Kinan.
" Iya Bang Saya akan jelaskan." Ucap Andra.
" Mau jelaskan apa? Kalian Mau maen sembunyi dari Saya. Dan Kamu Kinan, misi kamu itu ini bukan sebenarnya." Ucap Putra sembari menunjuk ke arah Andra.
Kinan hanya mengangguk sembari memegang lengan Andra, dan Andra pun menundukkan kepala nya.
" Kamu yakin sama Kinan, dan benar sudah Move on? " Tanya Putra.
" Bang, Kalau pun Almarhum masih hidup walau Saya tidak bisa move on Saya harus belajar Move on, dan kini sudah menjadi masa lalu biarlah hati ini belajar membuka untuk yang lain." Jawab Andra.
" Dan Kamu Kanaya, sudah tahu pria di samping kamu? Karena dia juga sama mencintai satu wanita yang sama dengan Abang, dan kamu pun pernah menaruh hati sama saya." Ucap Putra yang sengaja membuka semua nya agar suatu saat tidak terjadi salah paham.
__ADS_1
" Saya sudah tahu, Kinan pernah cerita." Ucap Andra.
" Syukurlah kalau begitu, Abang tidak mau kita bertiga menimbulkan bumerang." Ucap Putra.
" Abang tidak mau tahu cara kita bertemu? " Tanya Kinan.
" Jangan Dek, Abang malu." Ucap Andra.
Putra menatap ke arah Andra dengan penuh tanda tanya, dan seakan jiwa kepo nya meronta - ronta.
" Ceritakan." Ucap Putra sembari menaik turunkan alisnya.
" Jangan Dek." Pinta Andra memohon.
" Kita ketemu di Aplikasi Jodoh." Bisik Kinan.
Andra menutup wajahnya dengan kedua tangan nya, dan Andra sudah menebak Putra akan meledeknya.
" Maaf nih, ikut di Aplikasi Jodoh apa memang sudah nggak laku?"
Langsung Andra melirik kesal ke arah Putra yang sedang menertawakan nya.
*******
" Hanum." Sapa Putra saat dia tahu Hanum berada di Panti sedang membagi - bagi kan makanan dan mainan pada Anak - anak Panti.
" Bang Putra." Sapa Putra kembali.
" Bagaimana luka tembak nya? "
" Alhamdulillah sudah sehat Bang."
" Avan mana Bang, Saya kangen dia saat pertama berjumpa saya ingat dengan.... akh lupakan sekarang mana Avan nya? " Tanya Hanum.
" Dia sama Kanaya." Jawab Putra.
" Kanaya, dia yang adiknya Walaode dan Selir Wangi itu? "
" Iya, dia minta menjadi pengasuh Avan."
" Oh..!! "
" Mau ke Avan? " Ajak Putra.
" Boleh Bang, hayuk.. " Ucap Hanum semangat.
****
" Bang Avan gemesin banget, sekarang tambah berat." Ucap Hanum.
" Iya dong, lihat wajahnya photo copy an banget sama Abang."
" Hahahaha... iya benar, mata nya pasti seperti Ibunya."
" Iya, wanita yang selalu Saya rindukan setiap hari. Hanya Avan lah pengobat rindu Abang sama dia." Ucap Putra dengan lirih.
" Maaf ya Bang, Saya mengungkit kenangan lama." Ucap Hanum.
" Tidak Apa - apa." Ucap Putra sambil tersenyum.
Di belakang mereka berdua terlihat Kanaya meremas kedua tangan nya, dengan tatapan sorot mata yang tajam terbakar rasa api cemburu saat melihat Putra dan Hanum duduk bertiga bersama Avan.
__ADS_1
" Selama Saya disini, kamu Mas tidak pernah tersenyum seperti itu bahkan duduk berdampingan pun tidak. Saya menyukai kamu Mas, sejak pertama bertemu dan saat merawat luka kamu, kenapa Saya selamat kan kamu saat itu karena saya jatuh cinta pada pandangan pertama."