Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Titik Terakhir


__ADS_3

" Bagaimana kamu bisa lolos, dan dimana Letda Arya? " Tanya Sertu Ahmad.


Praptu Angga meletakkan roti nya di atas tumbler, dan menatap ke arah teman - teman nya.


" Letda Arya sudah meninggal!! "


" Maksud kamu, Letda Arya meninggal. Terus Jasad nya dimana? " Tanya Sertu Ahmad kembali.


" Jasad nya bersama para Prajurit yang sama - sama di berondong senjata." Jawab Praptu Angga.


" Nggak mungkin, Jenazah cuman ada 18 yang 2 hilang dan kini tinggal Satu Prajurit kita yang hilang."


" Saat Kejadian Saya dan Kapten Putra tidak ada di tempat."


" Apa..!!! Jadi Kapten Putra masih hidup? " Ucap salah Satu Prajurit kaget.


" Iya, dia masih hidup dan Saya nggak tahu dia dimana." Ucap Praptu Angga.


" Lantas Jenazah yang kemarin di makam kan itu siapa?" Ucap Sertu Ahmad.


" Mungkin Jenazah itu Letda Arya, karena Saya tahu sebelum ke bukit untuk mengirim sandi Kapten menitipkan Dog Tag dan Cincin pernikahan nya, andai dia tak kembali suruh kasih ke istrinya. Nah sama Almarhum Letda Arya dia pakai di jari manisnya dan kalung itu, mungkin karena perawakan mereka sama jadi di kira Pak Kapten dan ada bukti Cincin juga apalagi wajah mereka hancur, dan tanpa busana."


" Jadi kamu tahu bagaimana mereka melakukan nya pada teman - teman kita."


" Iya, waktu itu Saya keluar bersama dengan Kapten, tapi Saya menuju sungai dia menuju bukit, saat Saya kembali musuh menyerang ada lebih dari 50 orang, Saya bersembunyi di balik semak - semak. Mereka menembaki secara membabi buta, bahkan teriakan teman - teman kita tak mereka hiraukan hanya tawa menggelegar dari mulut mereka, dan Saya melihat mereka membuka pakaian Para Prajurit yang sudah tak bernyawa dengan kasar menggunakan batu Satu persatu mereka hancurkan wajah teman - teman kita." Ucap Praptu Angga tertunduk sembari terisak mengingat semua Kejadian itu.


" Lantas kamu bisa hidup selamat dari mereka bagaimana? " Tanya Sersan Bakhtiar.


" Saya hidup dengan ada yang di sekitar hutan, karena hutan rawan bagi Saya saat ini, Saya memutuskan ke kota kecil." Jawab Praptu Angga.


" Lantas Kapten Putra kemana kalau dia masih hidup? "


" Apa dia tertangkap? "


" Tidak mungkin, karena sarang mereka sudah kita hancur kan."


********


" Dok, bagaimana ini? " Ucap Andra Panik.


" Ini beresiko Pak." Ucap Dokter kandungan.


" Dok, Saya mohon." Ucap Senja dengan suara lemahnya.


Andra mendekati Senja, dan menggemgam tangan kanan nya, Andra menempelkan gemgaman tangan Senja dan dirinya di pipi kiri Andra.

__ADS_1


" Saya mohon, ikuti apa kata Dokter, Saya sangat bersalah kalau tidak bisa menjaga kamu." Ucap Andra dengan suara beratnya.


" Andai Saya di Cesar pun, Saya tidak akan selamat. Saya dari dulu sudah menerimannya, dan Saya siap demi buah hati saya."


Andra tak kuat melihat Senja, Andra tahan air mata nya agar tak jatuh. Dengan melirik ke arah Dokter menganggukkan kepalanya agar menuruti keinginan Senja.


" Maafkan Saya, maafkan saya." Bisik Andra di telinga Senja.


Senja memeluk leher Andra, mengejan sekuat tenaga. Andra pun membacakan Ayat suci Al - Qur'an di telinga Senja, dengan erat dia peluk tubuh Senja.


Akkhhh.......


" Terus Bu ayo Semangat..!!


Akkhhh......


Senja mengatur nafasnya yang sudah kembang kempis.


Akhhh......


" Ayo bu dorong sudah kelihatan rambutnya."


" Semangat Tari, Semangat. " Bisik Andra.


Senja terus mengejan sembari kedua tangan nya masih melingkar di leher Andra, terdengar nafas yang sudah sedikit tercekak di telinga Andra, Senja terus berusaha melahirkan anakanya secara normal.


" Suster, gunting ini harus di gunting." Teriak Dokter Kandungan.


Andra tak kuat melihat semua nya, wajah nya dia benamkan di samping bantal Senja. Senja pun terus mengejan, dengan sekuat tenaga nya.


Ooowaaaaa.......


*******


Mata itu terbuka, namun hanya hitam yang terlihat. Luka yang tepat di dadanya pun masih terasa sakit, dengan tangan nya dia meraba.Dan ada sebuah tangan yang meraihnya, dengan sedikit terkejut di tarik nya tangan dirinya, namun tubuh yang ada di depan nya terus mendekat.


" Diam lah disini, tunggu waktu yang tepat."


********"


" Alhamdulilah.. jagoan Bu." Ucap Dokter kandungan saat melihat bayi mungil yang masih merah.


Senja menatap bayi yang di pegang Dokter dan mata Senja pun akhirnya menutup tangan nya jatuh terkulai dari leher Andra.


" Tari, bangun Tari.. " Andra menepuk pelan kedua pipi Senja.

__ADS_1


" Dok, bagaimana ini?? " Ucap Andra khawatir.


Dokter pun lalu memeriksa denyut nadi Senja, dan mengecek kedua bola mata nya.


" Denyut nadi nya lemah, Pak maaf kita tanganni Ibu dulu."


Andra terduduk lemas di lantai, air mata yang dia tahan pun akhirnya tumpah juga.


" Hiks... hiks.... maaf.. maaf kan Saya, hiks.. hiks.. maaf."


****


" Maaf Bu Pak bayi nya di Adzani dulu." Ucap Perawat pada Ibu Mutia, Pak Wahyu dan Andra.


Pak Wahyu, lalu berjalan ke arah Andra yang sedang tertunduk, dan lalu menepuk pundaknya. Andra pun sontak kaget lalu mendongakkan wajah nya ke arah Pak Wahyu.


" Nak, kamu mau meng Adzani anaknya Senja?"


Andra menatap mata Pak Wahyu, yang memberikan isyarat pada nya untuk meng Adzani Bayi Senja.


" Apakah tidak apa - apa Pak? " Tanya Andra.


" Ayah nya tidak ada, keluarganya pun tidak ada. Kamu juga sudah di titipkan bukan oleh Putra untuk menjaga mereka berdua." Jawab Pak Wahyu menegaskan.


***


Bayi mungil itu, dengan tenang dalam dekapan Andra, di telinga sebelah kanan Andra meng Adzani dengan suara yang sangat merdu.


Senja masih terpejam, dengan selang oksigen terpasang di hidungnya dan selang infus yang tertancap di tangan nya.


" Lihat Bunda nak, Bunda masih tidur saja. Apa nggak mau lihat jagoan Bunda." Ucap Andra sembari menggendong bayi mungil Senja.


Ibu Mutia menangis melihat Andra menggendong anak pertama Senja, bayi mungil yang tak kan pernah tahu wajah Ayah nya.


" Seandainya kamu tahu Putra, anak pertama kamu sangat tampan wajah nya mirip dengan kamu, hidung dan mata nya seperti Senja." Ucap Ibu Mutia sembari memeluk pinggang Pak Wahyu dan sesekali menyeka air mata nya.


Andra meletakkan bayi mungil itu di samping Senja, bayi yang masih merah itu seakan tahu bahwa Bunda masih tertidur. Bayi itu menangis kencang saat di baringkan di samping Bunda nya.


" Dengar Tari, anak kamu menangis. Kamu tidak dengar kah, dia menangis saat di baringkan di samping kamu."


Ibu Mutia pun lalu mengambil alih Bayi tersebut, lalu menggendong nya. Bayi mungil itu terus menangis dalam dekapan Ibu Mutia.


********


" Apa??? " Andra kaget saat menerima panggilan dari Batalyon.

__ADS_1


" Jadi Jenazah yang kemarin di makam kan bukan Bang Putra? Dia kemungkinan masih hidup.


__ADS_2