Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Biarlah Menjadi Bagian Masa Lalu.


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Bab ini Khusus terdapat sebuah selipan kata - kata dari teman Saya yang Satu Instansi, hanya sebuah rangkaian kata - kata biasa dan jauh dari kata - kata tentang kisah ini.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Semusim lalu sehancur itu,aku dan kamu terpecah pada peraduan baru.


Memilih jalan masing-masing untuk menjadi orang asing.


Semusim lalu sehancur itu,kita pernah berada pada satu titik temu yang kini ambigu.


Pernah saling menyatu lalu rancu diperaduan waktu.


Semusim lalu sehancur itu,kebahagiaanku dan kebahagiaanmu hidup pada narasi semu.


Terenggut baris baru hilang oleh titik yang membinasakanku.


Semusim lalu sehancur itu,harap ingin bersatu kini telah berdebu.


Tersimpan dalam kotak kayu bernama rindu.


Semusim lalu sehancur itu,kau pernah menjadi rumahku tempat segala suka duka mengadu.


Semusim lalu sehancur itu,aku adalah narapidana pada hatimu dan kau sibuk memperindah lahan baru.


Semusim lalu sehancur itu,mencintaimu adalah kesakitan favoritku.


Dan kau tak pernah tahu.


Andra membuka matanya secara perlahan, yang kini dia lihat adalah ruangan yang serba Putih.


Mata pun tertuju pada Satu fokus, seorang wanita yang dulu pernah menjadi masa lalunya yang kini sedang berbaring di sofa panjang.


" Kenapa kamu ada disini, dengan sikap seperti ini sungguh nyeri hati ini."


" Ya Allah apakah Saya akan sanggup melihat ini semua, kenapa kau tak ambil Saja nyawaku saat terjatuh, kenapa Saya masih di beri kesempatan di dunia ini."


********


" Bang Andra kenapa nggak bangunin Tari, kalau Abang sudah sadar." Ucap Senja.


Andra sudah siuman 2 jam yang lalu,hingga Senja yang tertidur pulas tidak mengetahui bahwa Andra sudah sadar.


" Pulanglah, nggak baik seorang Istri berada di dalam kamar dengan laki- laki lain, suami kamu akan Marah jangan sampai Abang menjadi duri di rumah tangga kalian." Ucap Andra.


" Suami Saya tahu, dia juga ikut merawat Abang, dia tidak marah walau Saya tidak yakin perasaan yang sebenarnya." Ucap Senja tertunduk.


" Terima kasih, tapi sekarang pulanglah bila suami kamu tiba, Saya sudah baikan. " Ucap Andra.


Sepuluh menit kemudian, Putra pun datang bersama Aswin dan Arya. Mereka tidak mengetahui bahwa Andra sudah siuman.


" Andra, kamu sudah sadar." Ucap Putra.

__ADS_1


" Iya Bang, dari tadi." Ucap Andra.


Putra lalu menatap ke arah Senja meminta penjelasan, dan seakan tahu arti tatapan Putra, Andra pun menjelaskan nya.


" Saya siuman, Senja masih tidur sangat pulas. Jadi Saya putuskan tidak membangunkan nya." Ucap Andra berusaha jujur.


" Kalau ada yang di rasa bilang saja." Ucap Putra.


" Iya Bang makasih."


" Ndra, Saya bawa Senja pulang kamu akan di jaga sama Arya dan Aswin. " Ucap Putra.


" Makasih Bang." Ucap Arya.


***


" Sudah jangan pandangin Istri orang." Tegur Aswin saat mengetahui Andra menatap terus punggung Senja yang keluar dari pintu kamar.


" Kamu tahu, Kapten kita sangat mencintai Senja, bahkan kejadian terdahulu pun dia rela mati demi pujaan hati nya. " Ucap Arya.


" Kamu tahu, perjalan cinta mereka sangat menyakitkan, Senja yang kini tengah hamil anak kedua dia rela mempertaruhkan nyawanya demi anak yang di kandungnya."


" Hamil anak kedua?? " Tanya Andra.


Lalu Aswin dan Arya menjelaskan tentang masa lalu yang menimpa Putra dan Senja.


********


Aku telah mengenal banyak patah hati,mencumbui banyak luka,menidurkan banyak rindu dan mempelajari puluhan kepergian.


Kadang aku bingung,mana yang lebih bahagia antara kesepian atau keramaian?


Nyatanya dua hal tersebut hanyalah kepura-puraan.


Sebab pada setiap ramai,aku menemukan banyak sepi di mulut orang-orang yang berbincang.


Andra memandang lurus di sebuah kamar rumah sakit, dia telah mengetahui apa yang menimpa dengan hubungan pernikahan Senja dan Putra. Bahkan saat mengetahui masa lalu yang kelam yang terjadi pada Senja, hingga hati nya menyanyat hati.


" Saya tidak menyangka, kebahagian yang kamu dapat ada luka yang kamu rasakan seumur hidup, sungguh berat jalan hidup kamu Tari."


*********


" Anak Ayah sudah mau lahir, jadi pengen cepat - cepat gedong kamu sayang."


Putra di atas tempat tidur bersama dengan Senja sembari mengusap dan menciumi perut buncit istrinya yang semakin besar.


" Bunda juga nggak sabar Ayah, ingin melihat wajah anak kita mirip siapa ya? Apa mirip Ayah nya atau Bunda nya." Ucap Senja sembari berpikir.


" Yang jelas pasti mirip sama Ayah nya, ganteng, gagah dan apalagi sifatnya pasti seperti Ayah nya." Ucap Putra dengan bangga.


" Loh kok mirip Ayah semua, Bunda yang mati - matian mengandung 9 bulan masa semua nya mirip Ayah, Bunda hanya di titipi saja dong." Ucap Senja sambil Cemberut.


" Kan Bunda bisa hamil, karena hasil karya Ayah pasti mirip yang buatnya." Ucap Putra yang tidak mau kalah.

__ADS_1


" Ish... Nyebelin!!! "


Putra yang melihat istrinya hanya tertawa gemas, kalau pun memungkin kan dia ingin segera memakan istrinya.


********


" Masuklah, Abang tunggu di luar biarlah pintu tetap terbuka." Ucap Putra pada Senja yang sedang berada di depan pintu kamar di mana Andra di rawat.


" Abang yakin!! " Ucap Senja.


" Abang percaya sama kamu, temui Andra dan selesaikan masalah kalian." Ucap Putra sembari membelai rambut panjang terurai milik Senja.


Senja pun masuk ke dalam kamar, dia melihat Andra sedang memainkan ponselnya. Saat Senja masuk, Andra segera menaruh ponselnya di nakas samping ranjang yang dia tiduri.


" Bagaimana Bang, sudah lebih baik?" Tanya Senja.


" Tubuh ini sehat, tapi hati ini selamanya akan tetap sakit." Jawab Andra.


" Maafkan Tari Bang, Tari ingin semua kembali seperti dulu saat pertama baru kenal tapi tanpa ada rasa." Ucap Senja.


" Tari, sungguh Abang nggak menyangka sakit hati kamu melebihi luka yang tergores pada hati Abang. Abang sangat sedih kalau boleh jujur, saat apa yang terjadi sama kamu."


" Apakah Abang sebenarnya tidak begitu membenci Tari? Apakah Abang masih punya rasa yang sama."


" Cinta Saya memang masih ada, sulit untuk melupakan. Dengan cara membenci kamu, dan mempunyai landasan kejadian itu apalagi yang menimpa kedua orang tua Saya, dengan cara ini Saya agar bisa cepat melupakan kamu Tari."


" Nyatanya, kita bertemu kembali Bang, pertemuan yang berbeda Saya sudah bertemu dengan Cinta pertama saya."


" Abang akan belajar berusaha melupakan itu semua, Abang akan belajar menerima semua nya."


" Maafkan Tari Bang, Tari ingin masalah kita jangan sampai di bawa mati. Tari ingin kita selesaikan, dan Tari minta maaf dengan kejadian ini membuat Ayah dan Ibu kena imbasnya. Mungkin permintaan maaf Tari tidak bisa mengembalikan Ayah, maafkan Tari Bang.. maaf.. "


" Abang hanya bisa berdoa semoga kamu bahagia, jadilah Istri yang sholeha Karena Abang tahu, suami kamu adalah suami yang pantas untuk pendamping dunia akhirat. Dia mungkin sudah di takdirkan untuk bersama mu,mengobati dan menutupi luka yang terjadi di dalam hidup kamu."


Ini cerita perpisahan,berita kehilangan


Tentang mereka yang tak mampu mencegah kepergian.


Diyakini di dalamnya,jiwa-jiwa itu juga merintih kesakitan.


Membiarkan waktu mengambil bagian dan meninggalkan kenangan serta kesedihan.


Jiwa-jiwa itu tenggelam dalam pertanyaan


Tentang siapa yang patut disalahkan dan hal apa yang sebenarnya masih dapat dipertahankan.


Diam menyelimuti keduanya


Berharap di yakinkan daripada meyakinkan,yang akhirnya berujung pada penantian.


Dibagian lain,waktu sedang memperhatikan mereka.


Menertawakan jiwa yang terlalu keras kepala dan ego yang berkeliaran sampai akhirnya hati mereka mati perlahan.

__ADS_1


Penantian itu berganti menjadi suara yang tak tersampaikan.


Dan luka,yang tak akan terlupakan.


__ADS_2