
" Ini semua sudah beres berkas - berkas nya, satu minggu lagi berangkat." Ucap Dokter Hilman.
" Terima kasih, saya akan mempersiapkan nya dari sekarang." Ucap Dahlia.
" Satu tahun kamu akan disana, mungkin bunyi Suara bom, tembakan dan huru hara akan jadi makanan kita sehari - hari."
" Kita berangkat kesana untuk rasa kemanusiaan apa pun yang terjadi sudah tekad bulat untuk berangkat kesana."
" Semoga kita disana selalu dalam lindungan Allah SWT Amin...!! "
*********
" Yank, mana berkas buat pengajuan nikah nya? Abang ingin kita cepat menikah." Ucap Putra saat datang berkunjung ke rumah Dahlia.
Dahlia diam memandang Putra yang sedang memeriksa berkas nikah milik nya.
" Mana Yank, mumpung Abang ada disini biar sekalian di bawa."
" Bang..!! "
Putra menatap Dahlia, yang seperti ada sesuatu hal ingin di sampai kan.
" Iya..!! "
" Bang, maaf sebelumnya kita tidak bisa pengajuan nikah sekarang."
Putra meletakkan berkas milik nya di atas meja, dan menatap lekat kedua mata Dahlia.
" Kenapa, apa Abang mempunyai masalah lagi?
" Nggak Bang, bukan begitu tapi... "
" Tapi apa...??? "
Dahlia memberikan map yang berisi berkas milik nya pada pada putra. Lalu Putra pun membuka map tersebut, dan membaca berkas milik Dahlia.
" Kamu akan berangkat sebagai Dokter terpilih relawan Negara konflik? " Tanya Putra kaget.
__ADS_1
" Iya Bang, Saya minggu depan akan berangkat kesana selama satu tahun, ini ke berangkat an kedua Saya pergi sebagai relawan di Negara konflik."
" Tapi... Negara Xx ini sedang panas, Pemerintahan nya sedang gonjang - ganjing, Jujur Abang nggak setuju kamu berangkat kesana."
Dahlia memegang tangan Putra, dan satu tangan nya membelai pipi Putra.
" Satu tahun sayang, Saya kesana demi rasa kemanusiaan disana membutuhkan banyak tenaga medis."
" Iya tapi dalam kondisi seperti ini, kamu tidak akan Ter biasa sangat berbahaya untuk berada di zona merah."
" Insya Allah kalau kita berjodoh Allah akan membawa Saya pulang dengan selamat kepada Abang."
" Nggak Dahlia Abang nggak setuju."
*******
" Dahlia berangkat ke Negara XX? " Ucap Andra.
" Iya, minggu depan dia harus berangkat." Ucap Putra.
" Disana sedang panas, baku tembak setiap hari, banyak korban berjatuhan setiap hari." Ucap Andra.
" kita juga bersiap saja untuk di terbangkan ke Sana, karena disana bisa saja meminta penambahan Tentara untuk mengamankan Negara XX."
*******
" Kamu benar akan berangkat kesana nak? " Tanya Pak Lutfi.
" Iya ayah, Dahlia akan berangkat beberapa hari lagi. Disana sangat membutuhkan tenaga medis." Ucap Dahlia sembari memasukan pakaian nya ke dalam koper.
" Apakah Putra mengizinkan? "
" Bang Put melarang Saya untuk berangkat Ayah."
" Ayah juga mungkin hati besar Ayah berkata untuk melarang kamu untuk tidak pergi, tapi kamu sangat keras kepala seperti ibu kamu."
" Ayah, ijinkan Dahlia, ini terakhir kalinya Dahlia pergi ke Negara Konflik, setelah itu Dahlia tidak akan ikut menjadi relawan lagi kesana, sebelum Dahlia menikah Dahlia ingin menjalankan tugas Dahlia sebagai tenaga medis, jiwa rasa kemanusiaan Dahlia bergejolak saat melihat banyak warga sipil yang terluka, terutama anak - anak."
__ADS_1
" Ayah hanya minta kamu jaga diri, pulang lah seperti ini dalam keadaan sehat waalfiat. "
********
" Bang Saya bawakan makanan kesukaan Abang nih sama Avan."
Dahlia menata masakan yang Dahlia masak untuk Putra dan Avan di meja makan, sesekali Avan mengambil lauk yang sedang di tata Dahlia di makan nya.
" Sama nasi sayang, jangan di gado ya." Dahlia mengusap rambut Avan.
" Lapar Bunda." Ucap Avan yang memulai memanggil Dahlia dengan sebutan Bunda saat setelah acara lamaran Papi nya mengajarkan untuk memanggil Dahlia dengan sebutan Bunda.
" Bunda ambil kan dulu ya, nanti Avan mau di suapin atau makan sendiri? "
" Makan sendiri Bunda."
" Bang kita makan sama - sama." Ucap Dahlia sembari menyendok kan nasi dan lauk di atas piring.
" Avan makan nya di rumah mami dulu ya, bawa piring nya sekalian Ayah ingin bicara sama Bunda." Ucap Putra saat Avan akan makan.
" Iya Ayah." Avan pun membawa piring yang berisi nasi dan lauk keluar dari rumah nya menuju ke rumah Andra.
" Abang ingin bicara. " Ucap Putra saat Avan sudah pergi.
" Kalau untuk bicara masalah itu, Dahlia sudah bulat Bang."
" Abang nggak mau kamu disana kenapa - napa."
" Ijinkan Dahlia ini terakhir untuk jadi relawan tenaga medis ke Negara konflik, Insya Allah Dahlia pulang dengan selamat. Seandainya Dahlia pulang hanya nama, kenanglah Dahlia selalu di hati Abang."
Putra memeluk tubuh Dahlia erat, air mata ingin tumpah namun Putra tahan.
" Jujur Abang takut kehilangan kamu sayang, Abang takut kamu kenapa - napa. Kamu wanita yang tak memegang senjata yang kapan pun musuh akan datang di saat yang tidak mengenal tempat."
" Dahlia sudah pernah mengalaminya Bang, Dahlia sudah belajar hidup di Negara konflik. Tunggu Dahlia pulang satu tahun lagi, Dahlia janji setelah pulang kita langsung menikah."
Putra melonggarkan pelukan nya dan menatap kedua mata Dahlia, lalu menarik tengkuk lehernya dicium bibir merah Dahlia dengan lembut, dan begitu pula Dahlia membalas ciuman Putra dengan bibir mereka saling menyatukan.
__ADS_1
Putra pun melepaskan ciuman nya dengan menempelkan keningnya di kening Dahlia.
" Pulang lah, dalam keadaan selamat. Abang akan tunggu kamu satu tahun ke depan."