
Kanaya menggendong Avan dengan selimut tebal, dia berjalan mengendap - endap saat Avan sedang tidur pulas.
Kanaya terus memantau situasi karena para penjaga ada dimana - mana, dengan langkah hati - hati Kanaya terus berjalan mengendap hingga keluar dari markas Bulan Sabit.
" Kita keluar dari sini sayang, jangan sampai kita merenggang nyawa di tangan mereka."
Kanaya berlari di saat malam hari, dia berlari menelusuri hutan tropis yang sangat gelap.
****
Para pasukan khusus pun telah turun di hamparan ilalang , Misi ini pun di pimpin langsung oleh Kapten Putra.
" Sesuai peta kita lalui jalur sungai." Ucap Kapten Putra.
" Jarak yang kita tempuh 10 km, jalanan terjal berbatu. Hati - hati karena langit semakin hitam tak ada cahaya bulan atau Bintang." Ucap Kapten Putra kembali.
Para Pasukan pun yang terdiri dari 15 orang berjalan menelusuri sungai, aliran yang cukup deras membuat perjalanan mereka semakin sulit.
*******
" Cepat cari Kanaya...!!! " Walaode berteriak saat melihat kamar di sebuah gudang terbuka pintu nya.
Walaode memerintahkan semua anak buah nya untuk mencari Kanaya dan bayi yang dia bawa. Lalu Selir Wangi pun datang dengan wajah yang penuh amarah.
" Bodoh... kerja kalian apa sih, sehingga Kanaya kabur bawa bayi itu." Teriak Selir Wangi.
" Anak itu sungguh makin pintar saja, tapi Sayang dia adalah pengkhianat." Ucap Walaode.
__ADS_1
" Kakak, cari Kanaya temukan hidup atau Mati.Jangan sampai Para Tentara menemukan mereka dulu an." Ucap Selir Wangi.
Selir Wangi adalah saudara kembar Kanaya, dengan berkepribadian yang berbanding terbalik. Kanaya indentik lembut sedangkan Selir Wangi indentik kasar, dan tegas.
******
" Cuaca sudah mulai gerimis Kapten." Ucap Andra.
" Kita berjalan 1 kilo lagi ada gua." Ucap Putra.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, saat malam sudah mulai gerimis. Dengan Senjata yang di pegang , dan helm baja di kepala mereka.
****
Jeeedeeer.....
Suara gemuruh saat hujan yang lebat dan angin yang kencang, Kanaya membawa Avan pada sebuah bebatuan besar yang bertumpuk hingga bisa untuk berteduh.
" Sayang sudah bangun ya, Tante peluk kamu."
Kanaya memeluk erat Avan, dan melindunginya dari air hujan, kepala Avan dia tutupi dengan mantel tebal hingga Avan merasa nyaman.
******
" Cepat cari terus, kalau dia lari tembak saja." Teriak Selir Wangi berjalan di bawah hujan bersama dengan beberapa anak buahnya.
" Kalian berpencar, dia tidak mungkin jauh." Teriak Walaode.
__ADS_1
" Awas saja kamu Kanaya, sudah berkhianat dengan saudara kamu sendiri." Ucap Selir Wangi.
" Anak itu memang sangat berbeda, mendiang Ayah kenapa sangat menyayanginya." Ucap Walaode.
******"
Jeedder....
" Suara petirnya sangat menakutkan sekali." Ucap Aswin.
" Iya angin nya juga sangat kencang, coba lihat banyak pohon yang tumbang." Ucap Andra sembari menunjuk ke arah pohon yang tumbang.
" Hujan seperti ini sangat lama, dan ini akan memperlambat misi kita. " Ucap Hanum.
" Kita tunggu 1 jam lagi, karena jangan sampai kita celaka saat hujan seperti ini, sangat bahaya." Ucap Putra.
Namun saat mereka di saat sedang duduk menikmati hujan terdengar sayup - sayup suara seorang anak kecil menangis.
Owaa.... owaaaa.....
" Kalian dengar?? " Ucap Hanum
Owaaa.... Owaaa....
" Seperti suara Bayi." Ucap Aswin.
Suara tangis bayi tersebut semakin terdengar sangat keras, dan suara nya seperti sangat dekat.
__ADS_1
Owaaaa..... Owaaaa.....
" Itu Avan, suara tangis Avan...!!! "