
" Apakah kamu benar - benar tidak tahu dimana Kapten? " Tanya Andra pada Praptu Angga.
" Saya tidak tahu, saat kejadian saya benar - benar tidak melihat nya. Saya yakin dia masih hidup, tapi tidak tahu dia dimana." Jawab Praptu Angga.
" Bang pernah dengar tidak kelompok Bintang Sabit. ? " Tanya Aswin pada Andra.
" Bintang Sabit? " Jawab Andra sedikit berpikir.
" Di pimpin oleh Walaode, dia adik kandung dari pimpinan kelompok gerombolan yang kemarin telah kita hancurkan. Dia lebih kejam dari yang kemarin, dan dia pun secara langsung bekerja sama dengan jaringan hitam international. Tentara kita bisa hancurkan mereka, jaringan hitam international akan runtuh karena dia memegang kunci menuju Jaringan Hitam." Ucap Aswin.
" Kapten Putra apa hubungan nya dengan mereka? " Tanya Andra.
" Kalau dia sampai tertangkap oleh mereka sangat bahaya, Kapten bisa sebagai alat untuk menghancurkan negara kita." Jawab Aswin.
**********
" Bangunlah Tari, kamu tahu suami mu masih hidup. Apakah kamu tidak mau melihat anak kamu yang begitu lucu."
Andra duduk di samping tempat tidur Senja, sudah 3 hari Senja belum sadar. Mata itu masih terpejam dengan tubuh yang begitu dingin.
" Sadarlah demi anakmu dan suami kamu, jangan tidur terlalu lama."
****
Bayi mungil dalam dekapan Ibu Mutia terus menangis, Susu pun sudah di berikan oleh seorang perawat namun Bayi laki- laki dalam dekapan nya tidak mau berhenti menangis.
" Bund, bagaimana ini? " Tanya Pak Wahyu.
" Bunda juga bingung Pak, padahal sehat nggak sakit." Jawab Ibu Mutia.
" Kenapa Bu? " Tanya Andra yang tiba - tiba datang menghampiri mereka bertiga.
" Ini nangis terus." Jawab Ibu Mutia.
Andra lalu mengambil Bayi mungil ini dari dekapan Ibu Mutia, sontak kaget melihat reaksi Baby boy berhenti menangis saat berada di dekapan Andra.
" Sayang mau sama Om ya." Andra mencium kening Baby boy.
" Dia mungkin menyangka kamu Ayah nya." Ucap Pak Wahyu.
" Ayah nya masih hidup Pak Bu."
Ibu Mutia dan Pak Wahyu tercengang kaget saat mendengar berita dari Andra.
" Maksud kamu bagaimana? " Tanya Pak Wahyu.
" Dua Prajurit yang hilang, salah satu nya di temukan. Kemungkinan besar Kapten Putra masih hidup. Jenazah yang kemarin bukan Kapten Putra memainkan Letda Arya." Jawab Andra.
" Ya Allah Ayah, Putra Ayah hiks... hiks.. hiks.." Ibu Mutia menangis bahagia berada di dekapan Pak Wahyu.
*******
" Kita siap kan Tim sekitar 7 orang, lakukan pengintaian jangan pernah tunjukkan identitas kalian. " Ucap Danyon.
" Kalian akan di pimpin oleh Sersan Aswin, karena dia yang mengetahui titik lokasi selain Kapten Putra. Bawa Kapten kalian kembali, hidup atau mati."
" Siap laksanakan." Ucap ke tujuh Anggota TNI.
__ADS_1
" Bawa Kapten, bawa dia kembali untuk Permata hatinya." Bisik Andra pada Aswin.
" Pasti Bang, saya akan bawa dia." Ucap Aswin.
********
Senja membuka matanya pelan, saat pertama kali dia melihat Andra sedang duduk memainkan ponselnya di sofa panjang.
" Bang." Suara pelan Senja membuat Andra mendongak kan wajah ke arah sumber suara tersebut.
" Tari, kamu sudah sadar." Andra beranjak dari duduk nya menuju ke arah Senja.
" Mana anak Senja Bang?"
" Ada sama Suster, mau Abang suruh bawa kesini."
Senja menganggukkan kepalanya, dan Andra pun segera keluar menuju ruang Bayi. Saat Andra pergi, Senja merasakan tubuh nya sudah tidak berdaya, rasa sakit itu terasa kembali. Bagai di hantam ribuan jarum, hingga membuat nya merasakan sakit.
Andra pun mendorong box bayi ke arah Sisi ranjang, lalu mengambil Baby boy dan menggendongnya.
Senja berusaha untuk duduk, dengan di bantu oleh Andra dengan tangan kanan nya agar bisa bersandar di Kepala ranjang tempat tidur.
" Lihat Bayi mungil laki - laki ini, sangat begitu lucu. " Andra sembari memberikan nya pada Senja, dan Senja pun lalu mendekap Baby boy nya, dengan mencium kedua pipinya.
" Muka mu mirip sekali dengan Ayah nak, hiks.. hiks.. Bunda bahagia kamu lahir ke dunia ini hiks.. hiks.. "
" Tari, ada kabar bahagia buat kamu."
" Apa itu Bang?"
Mata Senja terbelak kaget, wajahnya yang sendu seketika berubah ada pancaran bahagia di wajahnya.
" Benarkah Bang?" Ucap Senja.
" Iya, Aswin beserta Prajurit lainnya akan mencari Bang Putra, entah hidup atau mati."
" Cepat bawa suami saya pulang, rindu ini terasa sangat berat." Pinta Senja pada Andra.
" Kita semua sedang berusaha untuk mencari nya, semoga suami kamu cepat di temukan."
********
Para Prajurit mendarat di sebuah hamparan luas, dengan Senjata yang mereka bawa siap memasuki hutan lebat dimana tempat sarang musuh berada.
" Apakah Kapten benar - benar ada disana?" Tanya salah satu Prajurit.
" Saya yakin dia tertangkap." Jawab Aswin.
" Apakah kita akan menyelinap?"
" Kita coba menyelinap masuk ke sarang lebah."
Aswin meneropong melihat dari jarak jauh, dia mengintai ke seluruh titik sarang musuh namun sesuatu yang ganjil terdapat disana tak ada penghuni satupun.
" Sepertinya kita terlambat, mereka sudah meninggalkan markasnya." Ucap Aswin.
Salah satu Prajurit mengambil teropong tersebut, dan memastikan kembali apa yang dilihat Aswin.
__ADS_1
" Sepertinya, mereka sudah pergi, tapi kemana mereka." Ucap salah satu Prajurit lagi yang mengintai dari jarak jauh.
" Kita coba masuk, saling melindungi karen jebakan si depan mata."
*********
Senja terbaring lemah, mata nya pun sayu wajahnya pucat hingga bibir yang kering. Senja terus memeluk tubuh anak nya, tak hentinya dia memandang wajah putra pertamanya.
" Anak kamu biar tidur di Box, tidurlah biar kalau anak kamu rewel ada kami." Ucap Andra.
" Biarlah dia bersama saya, wangi aroma tubuhnya mungkin saya tidak lagi mencium nya. Sekarang pun saya takut untuk memejamkan mata, takut akan tidur dengan waktu yang sangat lama." Ucap Senja.
" Jangan pernah lama untuk mimpi, tetaplah mata terpejam tapi terjaga tunggu waktu tiba suami kamu pasti berharap ingin bertemu anak dan istrinya." Ucap Andra.
" Tubuh ini seperti sudah melayang, saya sudah melihat serba putih bagai kabut."
********
" Akh.. sial...!!! " Aswin menendang batu kecil ke sembarang arah meluapkan emosinya.
" Kemana semua mereka pergi, apa jangan - jangan mereka kabur saat penyerangan kemarin."
Lalu sebuah pesan radio masuk, Aswin pun langsung menerima pesan tersebut.
" Maaf.. Hilang...!!!
*******
Andra mengusap wajahnya dengan kasar, dan menghempaskan tubuhnya jatuh di kursi ruangan nya.
" Bang kamu ada dimana, jangan bikin Senja terus mengkhawatirkan Abang."
Andra terus memijat kedua pelipisnya, memikirkan nasib Kapten Putra Nagara antara hidup atau mati.
********
" Cepat siapkan EKG." Teriak Dokter.
Perawat lalu memberikan alat EKG pada Dokter, lalu menempelkan pada dada Senja. Garis lurus masih terpampang di layar monitor.
" Naikan..!! " Teriak Dokter.
Alat itu terus di Tempelkan di dada Senja namun masih tanda lurus.
Di luar Ibu Mutia menangis sembari memeluk Pak Wahyu, dengan erat dalam dekapan Pak Wahyu Ibu Mutia menangis histeris saat mengetahui Senja tak sadarkan diri lagi.
Andra berlari di koridor rumah sakit, saat di telpon oleh Ibu Mutia memberi tahu bawa Senja tak sadarkan diri.
" Ibu Pak, bagaimana Senja?" Tanya Andra dengan nafas yang ngos - ngos an.
" Dokter sedang berusaha menyelamatkan Senja." Ucap Pak Wahyu.
Andra terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit, begitu pikiran nya sangat kalut di samping Putra yang belum di temukan kini Senja yang tak sadarkan diri.
Dokter keluar dari kamar rawat Senja, lalu mendekati mereka bertiga.
" Maaf..."
__ADS_1