
Putra terus mendekati Hanum, hingga Hanum merasa sangat gugup dengan detak Jantung yang berdebar - debar.
" Bang, tolong jangan dekat seperti ini." Ucap Hanum dengan memejamkan matanya.
Putra membelai lembut pipi Hanum, hingga bulu kuduk Hanum berdiri saat Putra menyentuh pipi nya.
" Kamu tahu ini adalah sebuah perasaan yang Salah, seharusnya Saya tidak harus memiliki perasaan yang seperti ini." Ucap Putra berbisik di telinga Hanum.
" Saya mohon Bang, jangan pernah ungkap kan Cinta kita sama - sama bergolak batin agar tidak saling mencintai."
" Apakah Sanggup kita setiap hari bertemu, apakah Sanggup kita terus menghindar seperti ini."
Putra terus membelai pipi Hanum, hingga Hanum meneteskan air matanya, dan memegang tangan Putra yang sedang menyentuh pipinya.
" Jangan Bang, Saya tidak ingin Abang bertikai dengan Bang Mario. Walau pernikahan Saya di gantung Saya masih sah istri nya, biarlah waktu yang akan menjawab."
Putra mengusap air mata di kedua pipi Hanum, dan memegang wajah nya dengan mata Hanum yang masih terpejam.
" Pandang Abang." Pinta Putra.
" Nggak Bang, saya tidak mau." Ucap Hanum.
" Pandang Abang." Pinta Putra kembali.
Hanum menggelengkan kepala nya dengan terus memejamkan matanya.
Cup..
Putra mengecup bibir Hanum hingga mata Hanum membuka sempurna, dan Putra pun kembali mencium bibir Hanum tanpa balasan dari Hanum.
Putra menarik tengkuk leher Hanum, terus mencium bibir nya hingga pertahanan Hanum pun runtuh membalas ciuman Putra dengan saling *******.
Saat mereka kehabisan nafas Putra menghentikan nya, dan Hanum pun menundukkan wajahnya.
" Maaf kan Saya, inilah perasaan Saya saat ini." Ucap Putra.
" Kita Akhiri Bang, walau Saya memang mencintai Abang tapi Saya tidak bisa menjalin hubungan ini dengan Abang."
" Maaf kan saya, kamu memang adalah istri dari Sahabat Saya."
*******
Hanum berbaring tidur di balik selimutnya, dia masih kepikiran dengan kejadian itu. Perasaan lebih terhadap Pak Kapten.
" Saya memang mencintai Abang, mungkin kita di takdir kan seperti ini tak bisa saling memiliki."
Hanum bergumam dalam hatinya, sembari memegang bibir nya yang masih sangat terasa kecupan dan hisapan bibir nya.
Putra pun di kamar nya pun masih mengingat kejadian bersama Hanum, dia pun masih sama merasakan ******* dan hisapan saat berciuman bersama dengan Hanum.
__ADS_1
" Saya tidak boleh seperti ini, maaf kan saya Mario mungkin sekarang kamu boleh mengajar Saya. "
Putra bergumam dalam hatinya sembari memegang bibir nya.
******
Braaakkkk...
Mario membuka kasar kamarnya terlihat Hanum sedang tidur dengan berbalut selimut. Dengan jalan sempoyongan Mario menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Hanum.
Hanum kaget saat Mario datang dengan mata yang memerah dan bau minuman memabukkan yang sangat menyengat.
" Bang..!! "
"kamu...!!!
Plaaakkk....
" Bang...!!! "
" Kamu ngapain berdua di dalam ruangan Putra Hah.. apa Saya tidak tahu apa yang kalian lakukan di dalam ruangan nya."
Mario mengetahui saat Hanum masuk kedalam ruangan Putra, dan Mario menguping pembicaraan Hanum dan Putra tanpa kesadaran mereka.
" Abang Salah paham."'
" Salah paham bagaimana, Saya dengar apa yang kalian bicara kan, kalian saling jatuh Cinta kan." Bentak Mario.
" Oh.. jadi kamu diam - diam memantau saya bagus Saya tidak susah bercerita dengan wanita yang sangat Saya cintai, asal kamu tahu Sinta meninggal saat melahirkan anak nya Putra."
" Saya tidak percaya, Sinta pasti hamil anak Abang."
" Dia anak Putra bukan anak Saya...!! " Bentak Mario.
******
Buugghh...
Buuughhh...
Mario menghajar tiba - tiba Putra saat sedang duduk bersama dengan Aswin dan Andra. Mereka berdua pun berusaha untuk menghentikan Mario yang sudah memukul Putra secara tiba - tiba.
" Berani benar kamu sudah merebut Sinta dari Saya sekarang dekati istri saya." Bentak Mario yang di pisahkan oleh Andra dan Aswin.
" Saya sudah bilang tidak pernah merebut Sinta, kita itu Sahabat Mario. Persahabatan kita hancur gara - gara kamu merusak hidupnya. Dan untuk saya mencintai istri kamu memang benar, tapi Saya sadar dia istri Sahabat Saya. Kamu boleh menghajar Saya kembali karena kalau ini memang Saya yang salah."
" Bang." Tegur Andra.
" Lebih baik Saya jujur dari pada Saya bermain di belakang, tidak dengan Sinta Saya tidak pernah merebut nya dari kamu."
__ADS_1
" kamu...!! " Bentak Mario.
Hanum berlari saat ada yang memberitahu bahwa Mario berkelahi dengan Putra dan Hanum dengan segera memisahkan mereka.
" Cukup Bang, jangan seperti ini. Kalian apa tidak malu di lihat sama anak buah kalian." Bentak Hanum.
" Hanum Abang Mau tanya sama Kamu, apakah kamu mencintai Putra." Ucap Mario dengan nada tinggi.
" Iya Saya mencintai dia, tapi Saya lebih memilih suami saya." Ucap Hanum dengan tegas dan menahan sesak nya dada.
Mario tersenyum sinis ke arah Putra, dan merangkul Hanum dengan erat.
" Kamu dengar kan, istri Saya memang mencintai kamu tapi dia lebih memilih Saya. "
" Saya juga tidak pernah memaksa dia untuk mencintai Saya, karena kita sama - sama sadar ini adalah suatu hubungan yang Salah. Saya minta maaf sama kamu, tapi Saya tidak akan pernah memaafkan kamu tentang Sinta."
" Jangan pernah bawa - bawa Sinta kembali ..!! " Mario mencoba akan memukul Putra namun Hanum menghalangi nya.
" Percuma Abang melampiaskan amarah Abang pada Bang Putra, semua nya tidak akan kembali. Saya disini selalu sabar menghadapi sikap Abang walau Saya sering tersakiti."
*******
" Bang Put." Ucap Andra mendatangi Putra
" Iya ada apa? " Tanya Putra.
" Ini Bang." Andra menyerahkan sebuah amplop pada Putra dan Putra pun sudah tahu isi amplop tersebut dan meletakkan nya begitu saja di atas meja.
" Kenapa tidak di baca? " Tanya Andra.
" Saya sudah tahu isinya." Jawab Putra.
" Bang, Abang memang Salah apa Abang tidak membela diri dan melaporkan kembali atas tindakan Bang Mario."
" Buat apa saya melaporkan nya, disini sudah jelas saya yang Salah, dan Hanum memilih suami nya. Saya juga sadar tidak akan memaksa nya, dari Awal memang sudah Salah menyukai istri orang, dan dia pun sebaliknya."
" Tapi Bang, gara - gara kejadian kemarin semua tahu bahkan posisi Abang saat ini terancam." Ucap Andra.
" Saya tahu, lebih baik saya di jauhkan dari kehidupan mereka berdua, dan tidak ada lagi kisah Cinta hubungan terlarang."
****
Putra terus memandang amplop yang di beri oleh Andra, surat yang menentukan nasib dirinya ke depan.
" Saya sudah siap menanggung resiko ini." Ucap Putra sembari membuka amplop tersebut.
Promo Karya ke 3
Jangan lupa tunggu Up nya ....
__ADS_1