Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Sampai Bertemu Di Keabadian


__ADS_3

Mulut ini tak sanggup lagi berucap.


Tubuh ini tak sanggup lagi berdiri.


Bahkan sayap - sayap pun telah patah.


Aku tak sanggup lagi untuk berpijak


Aku tak sanggup lagi untuk melangkah


Hantaman ombak meruntuhkan tubuh


Saat kau kini pergi menghilang dengan takdir.


Tangisku kini sudah kering


Tenggorokan ini sungguh terasa tercekak


Tak akan pernah ada lagi untuk mengadu keluh kesah.


Hanya suara dan tubuh yang akan selalu ku rindu.


" Aaarrrgggghhh.... Senja.... hiks... hiks... kenapa tinggalkan Abang sama Avan sayang hiks.. hiks... "


***


Putra duduk di depan Jenazah Senja yang sudah tertutup Kain kafan, tangis nya tak terhenti saat tubuh yang terbalut kain putih itu di masukan ke dalam keranda.


" Hiks... hiks.... tolong jangan dulu di makamkan istri saya hiks... hiks"


Toni langsung merangkul tubuh Putra yang menangis histeris di depan keranda hingga membuat para pelayat sangat pilu melihat seorang suami yang kehilangan istri yang sangat dia cintai.

__ADS_1


" Yang ikhlas Put, istri kamu sudah tidak merasakan sakit nya lagi. Dia sudah bahagia, ikhlas Put, jangan menangis terus." Ucap Toni sembari merangkul pundak Putra.


Kristin dan Rebeca pun menangis sembari berpelukan saat melihat sahabat mereka yang telah meninggal dunia. Begitu pun Pak Antonius dan Istri sungguh sangat merasa kehilangan sosok seorang seperti Senja.


" Hiks... hiks.. Putra nggak sanggup om, nggak sanggup hiks.. hiks.. "


******


Ibu mutia pun menangis saat mendengar kabar Senja telah tiada tak hanya Ibu Mutia dan Pak Wahyu. Semua anak panti pun merasa sangat kehilangan hingga mereka melakukan doa bersama.


Ibu Mutia menangis di depan box bayi, terlihat Avan sedang berbaring dengan mata yang memperhatikan sekitar nya.


" Bunda kamu sayang, Bunda kamu sudah tiada nak, anak sekecil kamu sudah harus menjadi piatu hiks.. hiks... "


" Ayah juga sangat merasa kehilangan, teringat sejak usia 3 tahun dia berpisah dengan Putra tangis nya sangat pilu sekali." Ucap Pak Wahyu sembari mengenang masa - masa dimana Senja dan Putra masih kecil.


******


Banyak momen bersama mereka, dan merasa sangat kehilangan sosok seorang Persit seperti Senja.


Andra pun duduk lemas di Aula, mata nya yang memerah menahan tangis agar tak jatuh di kedua pipinya.


" Saya tahu Abang pasti sangat kehilangan Senja, saya juga dulu merasakan bagaimana saya kehilangan Tania." Ucap Aswin.


" Saya masih mengingat nya saat dimana dia berjuang hidup dan mati saat melahirkan, dia rela melawan rasa sakit nya itu demi buah hati mereka lahir dengan selamat. Sungguh saat itu, Saya tidak sanggup melihat nya, dan apalagi melihat anak mereka sungguh sangat sedih hati Saya, dia harus kehilangan sosok ibu nya."


Hiks... hiks... hiks....


Andra akhir nya menangis seakan rasa sesak di dada nya meledak, Para Anggota lain pun melihat nya, namun mereka semua paham saat Kapten Putra di kabar kan meninggal, Andra lah yang menjaga istri dari Kapten Putra.


" Insya Allah surga menantimu Tari, terima kasih sudah sempat hadir di hati Saya selama dua tahun."

__ADS_1


********


Putra memandang Jenazah Senja yang sudah terkubur dengan tanah, taburan bunga pun menghiasi gundukan tanah makamnya.


Air mata yang tak terhenti, saat tubuh wanita yang sangat di cintai nya sudah tertutup rata dengan tanah. Setelah para pelayat membaca doa, satu persatu berpamitan.


Hanya Putra yang duduk bersimpuh di depan makam istrinya, dan memandang nisan yang bertulisan MENTARI SENJA TIMUR, tangis itu kembali pecah.


" Hiks.. hiks... hiks.. kamu benar - benar telah pergi, hiks... hiks.. hati ini terasa sangat hampa tanpa kamu sayang hiks.. hiks... "


Toni dan Wika menatap Putra dengan rasa yang sama sangat sedih, dan bagaimana rasa nya kehilangan orang yang sangat di sayangi.


" Hiks.. hiks.. Avan pasti sangat merindukan Bunda nya, tak hanya dia Abang pun sama hiks.. hiks... sungguh berat rasa nya hati ini."


" Kita biarkan Putra sendiri dulu mah, kita tunggu dia di mobil." Ucap Toni pada Wika.


" Iya Pah,kita biarkan Putra sendiri dulu." Ucap Wika.


*********


Putra mengurung diri di kamar setelah pulang dari pemakaman. Tahlil bersama pun di lakukan di kediaman Toni dan Wika.


" Pah, Putra masih di dalam kamar nya, tamu - tamu sudah pada datang untuk Tahlil." Ucap Wika.


" Nanti Papah ke kamar Putra dulu."


Toni pun lalu berjalan menuju kamar Putra, dia ketuk pintu kamar nya namun tidak ada jawaban dari Putra. Pintu yang terkunci dari dalam, membuat Toni merasa sangat khawatir. Karena perasaan Toni yang sudah tak enak langsung Toni membuka paksa pintu kamar nya.


Braaaakkkk...


" Astaghfirullah Putra....!!! "

__ADS_1


" Mah.... tolong mah.. kemari....!!! " Teriak Tio dari kamar Putra.


__ADS_2