Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Bunga Cinta Sang Prajurit


__ADS_3

Barangkali jarak terjauh ialah ketika aku tidak lagi bisa mengunjungi tempat yang selama ini telah menjadi rumah bagi perasaanku.


Barangkali dingin yang paling gigil ialah ketika aku kehilangan senyum seseorang yang pernah menjadi perapian untuk kesepianku.


Suasana ini kini membisu. Sebab,semua cerita telah dibawa pergi dari bibir seseorang yang pernah liar mengecup keningku atas nama kasih.


Andra memandang dari jauh nampak bahagia keluarga kecil itu, ada tampak seutas senyuman yang menghiasi wajah Andra.


" Mungkin Saya adalah sebuah kupu - kupu yang hanya hinggap sebentar untuk menghiasi hari sepimu, kini hari - hari selama kamu nanti akhirnya tiba. Saya sudah memaafkan kamu, Saya akan belajar melupakan kejadian itu, tidak untuk hati karena Saya belum siap."


Andra berjalan meninggalkan pohon besar tersebut dari balik persembunyian nya. Putra yang melihat Andra, keluar dari balik pohon tersenyum masam saat sedang duduk bersantai dengan Senja.


" Bunga yang kamu lihat, dan pernah kamu petik kini dia adalah milik Saya."


*******


" Berkas pengajuan cuti sudah beres Yank, tadi sudah ketemu sama kepala sekolahnya, dan nanti ke kantor dinas akan di urus sama bagian kepegawaian." Ucap Putra saat baru tiba dari sekolah di mana Senja mengajar.


" Makasih Ayah." Ucap Senja sembari tersenyum.


" Sama - sama Bunda cantik." Ucap Putra sembari menoel hidung Senja.


" Ayah..!! "


" Hmmm... ada apa Bunda? "


" Duduk sini sama Bunda, Ayah tiduran di paha Bunda."


" Tumben, ada apa nih? "


Putra lalu menuruti dan kepala nya pun dia tidurkan di kedua paha Senja, sambil wajah nya mengahadap ke perut Senja.


" Yank, anak kita mau kasih nama siapa? " Tanya Putra.


" Abang mau kasih nama nya siapa? " Tanya Senja kembali.


" Abang kasih nama Kavan Arrio Nagara."


" Artinya apa Bang? "


" Kavan mempunyai arti Perang sedangkan Arrio berasal dari bahasa spanyol yang mempunyai arti seseorang yang tangguh di kala Perang sedangkan Nagara, Abang ambil dari nama belakang Abang."


" Sayang, didiklah nanti Putra kita di saat sudah lahir, untuk menjadi pria yang tangguh, kuat dan anak yang sholeh. Kita juga tidak tahu, kalau Abang dapat panggilan tugas dan kembali hanya nama, ajarkan Anak kita sebaik - baiknya menjadi lelaki tangguh dan kuat serta bisa melindungi keluarganya."


" Ih.. Abang kok bicara seperti itu, Senja jadi melow begini." Ucap Senja sembari menghapus air matanya.


*********


Putra berjalan lalu berpapasan dengan Andra dan sekilas Andra melirik ke arah rumah dinas Putra.


" Senja di dalam, ngapain kamu melirik." Sindir Putra saat Andra tepat berjalan di depan rumah nya.

__ADS_1


" Siap salah!! " Ucap Andra tegap sembari sedikit menunduk.


" Saya sudah kasih kesempatan buat kalian saat kamu di rumah sakit, masalah kalian sudah selesai kan, berarti nggak ada yang harus di pertemukan kembali. "


" Maafkan Saya Bang, tidak ada niat berusaha mendapatkan Senja kembali. "


*******


Pagi hari Senja berjalan kaki dengan bertelanjang kaki bersama dengan Putra, bumil Satu ini sangat mendapatkan ekstra perhatian dari Putra.


" Ayah, kita duduk dulu di kursi panjang depan lapangan voly ya." Ajak Senja.


" Ayok!! " Ucap Putra sembari menggandeng tangan Senja.


Senja pun mendudukan pantatnya di sebuah kursi panjang depan lapangan voly, depan sesekali meringis merasakan sedikit sakit.


" Sakit? " Tanya Putra yang sudah paham.


Senja menganggukkan kepala nya sembari mengusap perut nya.


" Ayah usap ya? " Ucap Putra yang tangan nya sudah mengusap perut Senja.


" Ayah, kita belum kontrol ke Dokter lagi. Bunda ingin tahu bisa melahirkan normal atau cesar."


" Lusa kita coba cek, sudah masuk usia mau 8 bulan kan."


" Iya Ayah, hamil yang beresiko Bunda ingin calon jagoan kita lahir dengan selamat."


" Itu sih sama Bunda Perang di atas ranjang Ayah." Ucap Senja sembari tertawa terkekeh.


********


Hujan deras mengguyur lebat di tengah malam, dan suara air dari atap yang bocor di ruang tamu membuat menimbulkan suara alunan musik dari sebuah wadah berupa panci.


Suara gemuruh dan kilat menyambar Senja seorang diri, karena Putra sedang menghadiri rapat dadakan.


" Ya Allah hujan nya deras banget, Abang lama banget sih padahal jarak dari rumah dinas ke tempat rapat Abang deket." Ucap Senja sedikit rasa takut.


Braaakkk....


Atap Dapur belakang roboh, karena kejatuhan dahan pohon besar yang ada di pekarangan belakang rumah.


" Ya Allah atap nya roboh." Senja segera mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya namun tak kujung di jawab.


Air hujan pun masuk membasahi dapur mereka, angin yang kencang membuat dapur sedikit porak poranda.


" Abang, cepat pulang."


Senja pun akhirnya memberanikan diri keluar rumah dengan membawa perut besar nya dan payung menerobos hujan yang deras.


Karena angin yang kencang, payung pun terbalik hingga terbang sehingga Senja terkena air hujan dan basah kuyup. Dan saat itu terlihat Andra sedang mengemudikan Mobil nya.

__ADS_1


" Tari, kenapa dia hujan - hujan an? "


Andra pun lalu turun,dengan membawa payung dan mendekati Senja yang sedang berjalan.


" Tari mau kemana?" Ucap Andra setengah berteriak.


" Mau ke Abang, atap rumah roboh." Ucap Senja.


" Pulanglah, biar Abang yang panggil."


" Tapi Bang, Saya sudah terlanjur basah ruangan nya sudah kelihatan."


" Abang antar, kamu sudah menggigil kedinginan."


Andra pun mempayungi Senja, dan menuju ke arah Mobil nya. Di dalam mobil Senja sudah kedinginan dan nafasnya terlihat sesak sembari memegang dadanya.


" Asma kamu pasti kambuh?" Tanya Andra.


" Iya Bang, Tari sesak sekali." Jawab Senja.


Andra dengan cepat melajukan Mobil nya menuju kediaman senior nya. Hanya 5 menit mereka pun sampai, dengan nafas sesak Senja berusaha berjalan dengan di papah Andra sambil di lindungi oleh payung.


" Bang, Tari nggak kuat." Ucap Tari saat sudah berada di teras rumah nya.


" Abang ambil inhaler kamu, ada dimana kasih tahu Abang." Ucap Andra.


" Bawa Tari kedalam kamar Bang, Tari sesak dan dingin." Ucap Tari sembari menggigil.


Andra tampak bingung, dia pun mencoba menghubungi Putra namun tak kunjung di jawab. Akhirnya Andra memberanikan diri membopong tubuh Senja masuk kedalam rumah.


Ada rasa bergetar, namun dengan cepat Andra menepisnya dengan terus berjalan memasuki kamar Senja dan Putra.


" Bang, disana inhalernya." Tunjuk Senja pada sebuah meja rias.


Andra pun mengambil nya dan mencoba membantu memakaikan inhaler pada Senja. Saat mereka berdua di dalam kamar Putra datang, dan melihat ada mobil dinas terparkir di depan rumah nya. Putra pun masuk, namun tampak sepi di ruang tamu, dan dia mencoba masuk kedalam kamar dan melihat tubuh seorang pria yang sedang seperti memeluk tubuh seorang wanita.


" Senja...!!! " Bentak Putra.


Senja dan Andra pun tersontak kaget saat melihat Putra yang sudah berdiri di depan kamar nya.


" Abang..!! " Ucap Senja dengan nada lemah.


" Bang, Saya jelaskan!! " Ucap Andra.


" Kenapa kalian berdua di dalam kamar, kalian tidak mikir apa seorang perempuan dan laki - laki berdua di kamar dengan pintu terbuka dan posisi kamu Andra tadi...!! " Ucap Putra emosi.


" Bang dengarkan dulu penjelasan Saya, Istri Abang tadi kehujanan Mau menyusul Abang karena atap dapur runtuh dan Saya coba hubungi Abang nggak di angkat." Ucap Andra menjelaskan.


" Benar Bang, kita nggak lakukan apa - apa. Bang Andra menolong Saya, Abang nggak lihat baju Saya juga basah."


" Percayalah Bang, secuil pun Saya tidak mengambil Satu kelopak bunga milik Abang."

__ADS_1


__ADS_2