Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Disaat Genting


__ADS_3

Senja berjalan saat akan pergi mengajar, dia pun tanpa sengaja berpapasan dengan Andra, dan dari jauh di belakangnya terlihat Putra yang masih menggunakan kaos olah raga nya begitu pun juga Andra.


Andra menatap lurus tanpa melirik ke arah Senja, dan di saat itu Putra pun berlari menuju ke arah istri nya.


" Mau berangkat? Ayah antar." Ucap Putra.


" Deket Ayah, Ibu hamil begini sembari olah raga." Ucap Senja.


" Hati - hati di jalan."


" Iya Ayah." Senja pun lalu mencium punggung tangan Putra dan lalu pergi untuk mengajar.


Andra terus berjalan menuju mess nya, tanpa menoleh ke belakang saat dia berpapasan dengan Senja.


" Maafkan Abang, maafkan...!!! "


*********


Booommm......


Booommmm.....


Booommmm......


" Suara ledakan dimana itu? " Teriak Arya saat sedang berada di ruangan.


Putra pun lalu berlari keluar begitu pun dengan Arya di lihat nya semua Tentara berlari ke arah depan.


" Ledakan dimana? " Teriak Arya saat melihat Andra ikut berlari.


" Di sekolah Dasar depan dekat Batalyon kita." Teriak Andra sambil berlari.


Sesaat Putra dan Arya saling melirik dan segera ikut berlari.


Terlihat semua siswa siswi berhamburan, tampak beberapa guru dan siswa yang terluka dan beberapa gedung bagian depan sudah sebagian hancur dengan kaca dan pintu yang sudah hancur.


Putra masuk ke dalam lokasi mencari Senja, dia tampak sangat shock saat melihat kejadian ini.


" Tahu Ibu Senja? " Tanya Putra pada salah satu rekan menganjarnya.


" Maaf Pak Saya tidak tahu." Jawab nya.


" Senja.... Senja....!!! " Teriak Putra.


" Bang, ada apa sama istri Abang apa dia ada disini." Tanya Andra.


" Bukan urusan kamu." Jawab Putra sambil terus mencari.


" Senja mengajar disini." Ucap Arya datang menghampiri Andra.


" Apa!! " Tari dalam bahaya." Ucap Andra panik.

__ADS_1


Booommm.....


Suara ledakan terjadi kembali di gedung bagian belakang, semua pasukan dengan segala peralatan dan pengamanan ketat mengevakuasi semua korban. Putra pun ikut membentu mengevakuasi sembari mencari istri nya yang tengah hamil besar.


" Apa kalian sudah melihat istri Saya? " Tanya Putra pada beberapa Tentara yang sedang berada di lokasi.


" Maaf Kapten, kami tidak melihatnya." Jawab salah satu Tentara.


" Hi.... kalian semua, lihat lah...!!! "


Terdengar suara teriakan dari atap gedung, terlihat seorang pria dengan memakai pakaian serba hitam dan bom yang terpasang di tubuhnya. Dan di samping nya seorang wanita yang terikat dan tubuhnya terpasang sebuah bom waktu yang sudah berjalan.


" Senja!! " Teriak Putra dan segera berlari namun di hadang oleh Aswin.


" Jangan gegabah, lihat Istri Kapten sudah terpasang bom pakai logika untuk menyelamatkan nya. " Ucap Aswin.


" Itu istri Saya Aswin, dia sedang hamil." Ucap Putra yang sudah sangat cemas.


" Saya mohon pada semua polisi dan Tentara disini, bila tidak mau ada korban lagi Saya minta kalian bebaskan Komar palaq, dia tidak bersalah." Ucap tersangka bom dari atas gedung.


" Jadi dia anak buah Komar palaq dalang penculikan pejabat tinggi itu." Ucap Arya.


Lalu Mayor pun turun tangan dengan pengeras suara sembari menaiki di atas kap mobil.


" Saya minta kamu lepaskan sandra yang di samping kamu, dia tidak bersalah dengan perbuatan kamu sudah memakan banyak korban yang tidak berdosa. Kamu tahu Komar Palaq resmi bersalah karena bukti yang sangat kuat. Bila kamu tidak melepaskan sandra kami akan menembak kamu, jadi menyerahlah." Teriak sang mayor.


" Hahahaha... tembaklah, sekali tarik pelatuk bom ini akan meledak dan lihat bom waktu yang sudah berjalan di wanita hamil ini." Seringai peneror bom itu.


" Tim kita ada yang bisa menjinakan bom seperti ini? " Tanya Danyon .


" Siap Saya bisa. " Jawab Putra dan Andra.


" Bagus, ini bom khusus dari kabelnya ini di bikin serumit mungkin dan salah putus fatal akibat nya, jangan terkecoh warna yang biasa kalian lihat. "


Sejenak Putra dan Andra mempelajari jenis bom tersebut, dengan banyak hal yang harus bisa di pecahkan.


" Bang, kita harus bekerja sama. Kita sama - sama menyelamatkan nyawa orang yang kita sayangi." Ucap Andra.


" Kita saling kerja sama, ada dua nyawa yang harus di selamatkan."'Ucap Putra.


" Strategi berikutnya kita harus lumpuhkan tersangka terdahulu dan kita bagi dua tim satu lumpuhkan tersangka dan tim kedua menyelamatkan korban yang sedang hamil besar." Ucap Putra


" Kerahkan semua sniper di titik tertentu, dan ingat pelatuk nya ada di tangan nya." Ucap Putra kembali.


Semua Sniper sudah bersiap di setiap titik yang sudah di tentukan, begitu pun Putra dan Andra dengan perlengkapan Senjata nya menuju ke atap gedung untuk menyelamatkan Senja.


" Saya mohon lepaskan Saya, kamu tidak kasihan dengan wanita hamil seperti Saya hiks.. hiks.. " Ucap Senja sembari menahan sakit yang luar biasa.


" Diam kamu..!! Asal kamu tahu istri dari Komar Palaq juga harus kehilangan janinnya saat mendengar suami nya di penjara se umur hidup padahal dia tidak salah, demi negara dan agama dia melakukan ini untuk mencari keadilan."


" Membela yang seperti apa, keadilan dan agama seperti apa, kalau yang di lakukan Komar itu salah dan pantas di hukum."

__ADS_1


Plaaakkk.....


Tersangka pelaku Bom tersebut menampar pipi Senja, Putra yang melihat dari jarak jauh ingin segera menghajar tersangka tersebut namun di halangi oleh Andra.


" Sabar Bang, jangan sampai kita kehilangan mereka." Ucap Andra.


Plaaakkk...,


Tamparan kedua membuat Senja terhuyung jatuh kebawah hingga membuat perutnya terasa sangat sakit.


" Eengggghh... "


" Sekali lagi kamu bilang Komar salah Saya akan pencet tombol ini agar kamu bisa terlontar jatuh ke bawah." Ancam pelaku tersebut.


Dari jarak jauh para sniper sudah siap siaga dengan Senjata nya, begitu pula dengan Putra dan Andra.


Senja melirik ke arah dimana Andra dan Putra datang dari arah berlawanan, dengan langkah Pelan Andra dan Putra menuju ke arah nya dan dari jarak jauh sebuah drone di gerakan mendekat untuk mengecoh si pelaku dengan semburan gas air mata.


" Arrrgggghhh.... awas ya kalian!!!


Dengan sigap Putra langsung menyergap si pelaku namun terjadilah suatu ledakan.


Booommm......


Tersangka refleks memencet tombol bom tersebut sehingga Putra yang jarak nya dekat dengan si pelaku terpental jauh menghantam dinding pembatas dan pelaku tewas di tempat.


Senja pun ikut terpental namun Andra dengan sigap menangkap Senja yang masih dengan bom yang menempel pada tubuhnya.


Semua Pasukan bergerak menuju ke atap untuk menyelamatkan mereka bertiga, namun Bom waktu yang berada di tubuh Senja masih berjalan.


" Kapten apakah tidak apa - apa? " Tanya Arya sembari menepuk pipi Putra.


" Arrrgggghhh.. punggung Saya sakit." Jawab Putra saat sadar.


" Istri Saya, bagaimana dia? " Tanya Putra sembari memaksakan bangun namun tak kuat.


" Tenang, dia baik - baik saja saat ini sedang sama Andra." Jawab Arya.


Sedangkan Andra mencoba menyandarkan Senja, saat Andra terus mencoba membangunkan Senja, akhirnya Senja pun siuman.


" Alhamdulillah, apa yang sakit Tari katakan sama Abang? " Tanya Andra cemas.


" Bang..!! " Ucap Senja pelan.


Tit.. tit.. tit...


Andra melihat Bom waktu itu menunjukkan angka mundur, dengan durasi 1 jam lagi Bom tersebut akan meledak.


" Cepat kosongkan tempat ini, Saya akan mencoba mengehentikan Bom nya." Teriak Andra.


Putra yang di gotong tandu, mencoba bangun dengan paksa sehingga membuat nya kesakitan.

__ADS_1


" Saya akan bantu menjinakkan Bom nya." Ucap Putra.


__ADS_2