
" Ayah...!!! " Dengan mulut belepotan es krim Avan memanggil Ayah nya saat mengetahui Putra berjalan mendekati Avan dan Hanum yang tengah duduk di kursi taman.
Hanum menoleh saat Putra menghampirinya, dan Putra pun langsung duduk memangku Avan.
" Terima kasih, sudah traktir Avan es krim." Ucap Putra.
" Sama - sama Bang." Ucap Hanum.
" Papah Tante Hanum nggak pelit, nggak kayak Papi minta beli mainan robot nggak boleh." Ucap Avan.
" Oh iya masa sih? " Tanya Putra gemas.
" Iya Papi pelit." Jawab Avan.
Hanum dan Putra tersenyum saat mendengarkan celotehan Avan, dan Avan pun terus memakan es krim nya.
****
Rumah Dinas Andra kedatangan semua Keluarga karena mengadakan syukuran acara 4 bulanan kehamilan Kinan.
Semua anggota pun di undang termasuk juga semua istri Anggota, Namun saat setelah acara pun berlangsung Hanum langsung memisahkan diri dan itu pun terlihat oleh Putra.
Hanum duduk menjauh dan memilih duduk di kursi panjang taman. Dan Putra pun diam - diam mengikutinya.
__ADS_1
Air mata itu seketika menetes, dan dia hapus namun menetes kembali. Hingga punggung nya bergetar dengan bahu naik turun.
" Menangis lah bila itu membuatmu lega."
Hanum menoleh ke arah Putra dan dengan segera menghapus air matanya, dan segera membuang mukanya.
" Abang mengikuti saya?" Tanya Hanum.
" Saya jujur sejak kemarin dan kemarin selalu melihat kamu seperti ini, punya masalah?"
Hanum diam, dan terus membuang mukanya tak menatap wajah Putra.
" Apakah Abang mau mendengarkan cerita Saya, dan mau Menyimpan rahasia Saya ini." Ucap Hanum.
Hanum menoleh ke arah Putra mata sembab itu menatap kedua bola mata Putra.
" Saya memiliki seorang anak laki - laki, kalau dia masih hidup usia nya mungkin se usia Avan tapi sayang hiks.. hiks... "
" Kamu punya seorang anak? " Tanya Putra sangat terkejut.
Hanum mengusap air matanya, dan tubuh nya semakin bergetar saat terisak menangis.
" Hiks.. hiks.. kalau ada anak kecil Saya ingat sama dia, kalau ada acara seperti ini Saya ingat dulu dia adalah sumber kebahagian saya di tengah - tengah keluarga nya karena kami sangat dekat hiks... hiks.. tapi dia sudah tiada saat usia 6 bulan. Dia.. hiks.. hiks... dia meninggal karena sakit saat tidak berada dalam asuhan Saya. Dia anak angkat Saya yang di titipkan pada Saya, Ibu nya korban kerusuhan dia meminta Saya untuk menyelamatkan putra nya, tapi Saya tidak bisa pegang amanat itu yang membuat saya merasa sangat bersalah."
__ADS_1
" Itu sudah takdir, jangan merasa kamu merasa sangat bersalah, kamu sudah merawatnya dan menyayanginya kamu sudah berusaha memberikan yang terbaik buat nya."
" Saya melihat Avan selalu ingat dengan Bima, wanita itu memberinya nama Bima." Ucap Hanum sembari tersenyum mengingat moment bersama dengan anak angkat nya.
" Sebagai pengobat rindu kamu boleh lebih dekat lagi dengan Avan, kamu boleh mengajak nya bermain kalau ada waktu senggang."
Hanum menghapus air matanya dan tersenyum pada Putra, begitu pun juga Putra tersenyum pada Hanum.
Dari jauh Kanaya melihat kedekatan Hanum dan Putra, dia tertunduk dengan mata yang berkaca - kaca. Saat itu Aswin melihat Kanaya, dan Aswin pun mendekati Kanaya.
" Jangan pernah berharap banyak, susah untuk mendapatkan hatinya." Ucap Aswin yang sedang ikut melihat Putra duduk berdua dengan Hanum.
" Selama mengenal dia, Saya belum pernah bicara sebegitu dekat seperti Hanum bahkan tersenyum pun. Saat dia sadar dari koma yang panjang dia hanya memikirkan dirinya sendiri, Keluarga dan Negara tidak sedikit mengajak Saya bicara banyak. Saya menyelamatkan dia karena Saya jatuh cinta saat melihat dari pandangan pertama dan Saya tidak tahu kalau dia surah menikah, kalau pun takdir tidak seperti ini dia hidup bahagia dengan keluarga kecil nya biar Saya mencintai nya dalam diam dan saat itu Saya juga ingin menyelamatkan Negara ini."
" Jangan kamu satu kan urusan pribadi dan Negara, dia pun berhutang budi sama kamu untuk menyelamatkan kamu, karena sudah menyelamatkan hidup nya dan kami pun membantu karena tahu niat baik kamu tapi sayang karena ulah kedua saudara kamu kita semua berhati - hati."
******
" Mas." Sapa Kanaya.
" Eh kamu Kanaya."
Kanaya duduk di samping Putra yang saat itu sedang duduk di teras rumah Dinas nya sembari memainkan game di ponselnya.
__ADS_1
" Mas hemmm... Saya.. "