Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Nikmatnya Istri Hamil


__ADS_3

Usia kandungan Dahlia menginjakkan 3 bulan, rasa mual dan pusing membuat Dahlia tak bisa mengerjakan segala sesuatu.


" Bund, makan ya!! "


" Nggak Ayah, mual sama pusing."


" Bunda belum masuk satu pun makanan."


" Nggak selera Yah, Bunda mau rebahan saja."


Putra menatap kasihan melihat istri nya yang terbaring lemah karena merasakan mual dan pusing setiap hari.


" Seandainya bisa di ganti Abang Mau menggantinya."


Putra mengusap punggung istri nya sembari memijat, Dahlia hanya memejamkan mata nya hingga terlihat kurus di usia kehamilan nya yang menginjak usia 3 bulan karena kurang nya asupan makanan.


******


" Istri saya nggak mau makan sampai usia kehamilan sekarang dari usia 1 bulan, semuanya keluar lagi." Ucap Putra


" Wajar lah Bang, waktu dulu Senja begitu kan? "


" Iya tapi tidak seperti Dahlia parah begini."


" Nanti juga normal lagi Bang."


" Saya kasihan lihat nya Andra, setiap hari berbaring terus sampai nggak masuk Dinas di rumah sakit. "


******


" Bunda....!!! " Avan berlari masuk sambil membawa bola di tangan dengan pakaian yang kotor.


" Astaghfirullah Avan, kamu habis main bola dimana, itu pakaian kotor, muka kotor." Ucap Putra mendekati Avan dan membuka kaos yang di pakai nya.


" Bunda mana Ayah? " Tanya Avan.


" Bunda di kamar, Bunda lagi sakit." Tanya Putra.


" Bunda kok sakit nggak sembuh - sembuh ayah, padahal Bunda Dokter."


" Bunda bukan sakit biasa, tapi sedang menikmati rasa nya sedang mengandung."

__ADS_1


" Tapi kok Bunda muntah terus dan jarang makan sama kita."


" Iya karena Bunda sedang menikmati nikmatnya menjadi calon ibu."


******


" Yank, kok masak? " Tegur Putra saat melihat istrinya sedang berkutat di dapur.


" Abang belum sarapan kan sama Avan, Bunda buat kan sarapan."


" Bunda sudah nggak mual? "


" Mual sih, tapi kasihan suami dan anak Bunda nggak ke urusan."


" Makasih ya sayang, jaga baik - baik calon anak kita jangan sampai terlalu capek." Ucap Putra sambil mengusap perut nya Dahlia yang sudah nampak buncit.


***


" Lagi Bunda." Ucap Avan saat makan di suapi Dahlia.


Namun saat akan menyuapi lagi ke Avan, Dahlia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isinya.


" Nggak Bang, ini hanya mual biasa."


" Biasa apanya orang setiap hari begini, jangan sok kuat kalau memang nggak kuat."


" Bunda sakit? " Tiba - tiba Avan datang.


" Nggak sayang, Avan mau makan di suapin lagi hayu.. " Ucap Dahlia.


" Nggak Mau Bund, Avan makan sendiri kasihan Bunda lagi sakit."


Dahlia mengusap kepala Avan, dan Putra pun tersenyum saat melihat anaknya bersama ibu sambungnya.


******


" Bang mau punya anak perempuan atau laki - laki? " Tanya Dahlia saat berbaring bersama dengan Putra.


" Mau laki - laki atau perempuan yang penting Sehat semuanya."


" Bang, makasih ya sudah perhatian selama Dahlia hamil."

__ADS_1


" Kamu itu Bund, suami itu harus perhatian sama istri nya mana ada nggak perhatian sama istri nya, misal ada juga dia lelaki yang nggak bertanggung jawab." Ucap Putra sembari membelai rambut hitam panjang istri nya.


******


Putra tersenyum saat melihat istrinya melahap makanan yang dia ingin kan, di samping itu Avan pun sama tak Mau kalah dengan Bundanya yang sedang hamil.


" Enak ya? " Tanya Putra.


" Enak Bang, baru ini saja yang bisa masuk ke mulut."


" Alhamdulillah."


" Ayah nanti beli yang banyak ya, Avan doyan banget sama bolu nya."


" Siap Bang, Mau berapa loyang?" Tanya Putra.


" 5 Loyang." Jawab Avan sambil menunjukkan 5 jaringan.


" Emang Abang muat itu semua? " Tanya Dahlia.


" Muat lah Bund." Jawab Avan.


" Dasar perut atau apa kamu Bang." Celetuk Putra.


" Gemuk itu kan seksi Ayah."


" kata siapa seksi? " Tanya Putra pada Avan.


" Kata Papi itu gemuk seksi." Jawab Avan.


" Kamu percaya sama Papi? "


" Iya Ayah makan nya Avan Mau tambah gemuk lagi biar seksi."


" Anak Kapten Putra meniru siapa Bang? " Bisik Dahlia.


" Nggak tahu meniru siapa, Abang nggak kepedean begitu." Ucap Pura.


" Masa Bang." Ucap Dahlia.


" Iya benar, Avan kepedean bukan meniru Ayahnya."

__ADS_1


__ADS_2