
Dahlia terus memegang perut nya sambil sedikit rasa sakit sambil duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
" Bang Avan, tolong nak kamu hubungi Ayah Bunda perut nya sakit."
" Iya Bund."
Avan mencoba mencari nama Ayah nya di ponsel milik Bunda nya, dan setelah menemukan nya Avan menekan tombol hijau.
" Hallo... " Ucap Avan.
" Ada apa Bang? " Tanya Putra .
" Bunda bilang perut nya sakit."
" Tunggu Ayah, kamu jaga Bunda baik - baik ya tunggu Ayah."
Putra mematikan ponsel nya, dan Avan mendekati Bunda nya yang sedang meringis kesakitan.
" Kata Ayah tunggu Bund, Ayah segera pulang."
" Iya nak makasih, sekarang kamu temenin Bunda disini sampai Ayah datang."
Selang beberapa menit Putra datang dan berlari menuju ke arah Dahlia yang sedang meringis menahan sakit.
" Sudah waktu nya bukan? " Tanya Putra.
"Iya Bang, Dahlia sudah nggak tahan." Jawab Dahlia.
" Kita ke rumah sakit sekarang. " Putra pun membopong tubuh Dahlia menuju ke arah mobil.
" Bang ikut Ayah sama Bunda tolong itu tas pakaian bayi Abang bawa."
" Iya yah."
*****
Avan duduk bersama Kinan sambil menggendong Nilam serta Andra yang duduk di samping mereka berdua.
" Mami Papi dedek bayinya sudah lahir belum ya? " Tanya Avan.
__ADS_1
" Nanti juga Dokter bakalan keluar kalau dedek bayinya sudah keluar." Ucap Kinan.
" Avan kenapa nggak boleh masuk mami?"
" Anak kecil nggak boleh masuk sayang."
****
Akhhhhh........
" Terus Bund, semangat." Ucap Putra saat mendampingi Dahlia melahirkan.
Akhhhhhh......
" Terus Bu Dokter, ayo dorong sebentar lagi Bu."
Dahlia terus mengejan hingga peluh membasahi seluruh tubuhnya, tangan Dahlia yang terus meremas tangan Putra yang selalu mendekap tubuhnya.
Bisikan ayat suci Al Qur'an terus di ucapkan di telinga Dahlia.
Akkhhhhh.....
Bayi mungil yang masih merah pun keluar, serta tangis haru bahagia tampak pada Putra dan Dahlia.
" Alhamdulillah Bund, anak kita lahir selamat."
Dahlia hanya tersenyum, membalas ucapan suaminya, dengan nafas yang masih belum stabil Dahlia tertidur lemas.
******
" Lihat Bund, wajah nya mirip siapa? " Putra yang tengah menggendong Baby boy nya.
" Mirip Abang." Ucap Andra.
" Iya mirip Abang." Ucap Kinan.
" Akh.. semua anaknya mirip sama Ayah nya." Ucap Dahlia.
" Tapi lihat kulit sama hidungnya mirip Bunda nya." Ucap Putra.
__ADS_1
" Avan lihat."
Avan pun melihat adik laki - laki nya, begitu pun juga Nilam yang baru berusia 1 tahun.
" Nama nya siapa Ayah? " Tanya Avan.
" Ayah kasih nama Meidiawan Ekawira yang artinya Menempuh jalan yang benar jiwa pemberani panggilan nya Awan."
Lalu Pak lutfi pun datang menghampiri cucu pertama nya, yang gemuk dan sehat.
" Ini cucu kakek gantengnya, nama nya siapa Put? "
" Meidiawan Ekawira di panggilnya Awan."
" Menempuh jalan yang benar jiwa pemberani, nama yang sangat bagus."
" Panggilan nya Awan."
Baby Awan pun lalu di gendong Dahlia, Awan pun tertidur dalam dekapan sang Bunda, rasa bahagia terlihat di wajah keluarga kecil itu.
********
Awan sedang menete pada Bunda nya, hingga sangat kencang membuat Dahlia kadang meringis dan geli.
" Sayang lapar ya." Ucap Dahlia.
" Anak Ayah lagi nete Bund? " Ucap Putra.
" Iya yah, lihat kuat banget.'
" Ayah Avan kok tidur di rumah sakit kasihan di sofa begitu, lihat tidur nya kaki dimana kepala dimana."
Putra melihat gaya tidur Avan yang tak beraturan padahal sudah beberapa kali Putra membenarkan posisi tidur nya. Mulai dari kepala yang menjutai kebawah, kaki yang naik ke atas sandaran sofa hingga beberapa kali jatuh.
" Anak itu Bund, hidupnya bikin ulah saja." Ucap Putra beranjak mendekati Avan dan membenarkan posisi tidur nya kembali.
Dahlia tersenyum melihat tingkah laku anak pertama nya itu, dan kembali memperhatikan Baby Awan yang kinih tertidur pulas.
" Saya bahagia bisa mempunyai suami seperti Bang Put, dan dua anak lelaki yang tampan.Semoga kelak Avan dan Awan bisa menjadi pribadi yang baik. Terima kasih Bang kamu adalah sosok suami idaman, cintamu bagiku adalah cinta yang sempurna."
__ADS_1