
" Apakah kalian sudah siap, untuk misi yang akan kita laksanakan? Ucap Putra saat sedang memimpin rapat rahasia nya.
" Siap Kapten kami sudah siap!! " Jawab semua pasukan khusus yang akan di kirim mengikuti misi rahasia.
" Kita semua akan turun di atas bukit, dan lalu kita akan berjalan menempuh dengan jarak sekitar 6 jam, kita bisa beristirahat di sebuah gua dimana dari pendaratan kita sekitar 15 kilo kita istirahat disana."
" Apakah ada yang ingin di tanyakan?" Tanya Putra.
" Sebelum nya, apakah tidak berbahaya untuk melalui jalur utama yang ada di peta." Jawab Arya.
" Berbahaya, tapi ini jalur yang stratergi karena kita langsung menuju markas mereka." Putra sambil menunjukkan pada sebuah peta.
" Seperti biasa, Saya akan melakukan pendaratan yang berbeda dengan dua seorang Prajurit kita akan sama - sama bertemu di titik jam pukul 4." Ucap Niken.
" Untuk itu Serda Niken lengkapi keperluan semua nya, karena kita akan terpisah selama 4 jam." Ucap Putra sembari memberi arahan.
" Siap laksanakan!! " Ucap Niken dengan sikap tegap.
*******
Senja membantu memasukan semua perlengkapan suaminya ke dalam tas, dan Senja pun sembari menangis memasukan seragam suaminya Satu persatu.
" Simpanlah Satu seragam loreng Abang, biar disaat Bunda rindu bisa mencium wangi tubuh Abang yang masih melekat di seragam ini."
Senja menghapus air matanya, yang membasahi kedua pipi nya dan lalu menatap lekat wajah suaminya.
" Bolehkah Bunda memegang kedua pipi Ayah, dan mencium bibir ini sebelum pergi? "
" Boleh, Bunda boleh memeluk tubuh Ayah sepuas mungkin." Ucap Putra sembari mengusap air mata Senja.
" Bunda takut seperti waktu itu, Bunda takut kita berpisah lagi saat Ayah dapat panggilan tugas Ayah kehilangan Bunda, dan sekarang Bunda takut kehilangan Ayah."
" Ayah tidak hanya milik Bunda, tapi Ayah juga milik Negara. Andai Ayah kembali hanya nama, pakailah nama yang kemarin kita setujui, tunjukkan bahwa Ayah nya adalah seorang Prajurit hebat."
Senja menangis sesenggukan dan memeluk erat tubuh suaminya, yang akan pergi menjalankan misi nya selama beberapa bulan ke depan.
" Abang cepat kembali agar bisa menemani Senja melahirkan dan melihat anak kita lahir hiks.. hiks.. "
" Abang nggak bisa janji, tapi Abang akan berusaha untuk kembali untuk anak Istri Abang di rumah."
Putra melepaskan pelukan nya, dan membelai halus rambut panjang yang terurai sepundak lalu mencium kening dengan lembut.
" Mau kah, sebelum Ayah pergi Bunda melayani Ayah dulu? "
Senja menganggukkan kepala nya dengan tersipu malu, lalu tangan Putra menuntun tangan Senja untuk menikmati setiap lengkukan dan Putra pun mencium lembut bibir Istri nya.
****
" Saya titip Senja, jaga dia untuk Saya." Ucap Putra pada Andra.
__ADS_1
" Saya akan jaga Tari untuk Abang, kembali lah dengan membawa kabar bahagia." Ucap Andra.
" Saya percaya kan Senja pada kamu, lindungi mereka di saat Saya tidak bisa melindungi mereka lagi."
" Saya tidak akan pernah Mau melindungi mereka selamanya, karena Abang lah harus melindungi mereka."
Putra menepuk sebelah pundak Andra, dan sedikit berbisik ke arah telinga Andra.
" Seandainya Saya gugur bantu lah hapus air matanya, seandainya Saya kembali jangan bilang kamu jatuh Cinta lagi."
Andra hanya diam, dan mengerti apa yang di ucap kan oleh Putra. Lalu Putra kembali pada Senja yang berdiri dengan para Istri Prajurit lainnya.
" Abang berangkat, jaga diri baik - baik." Putra pun lalu mencium kening Senja dan lalu turun ke bibir.
" Abang harus cepat kembali."
" Do'akan Abang, karena Abang nggak bisa janji."
Putra lalu mencium perut buncit istrinya, bumil Pak Kapten menangis saat dengan lembut Putra mencium perut nya.
" Jangan bikin Bunda rewel ya sayang."
Putra lalu beranjak untuk pergi, dan menatap lama wajah istrinya, dengan berjalan mundur beberapa langkah, lalu dia pun membalikan tubuh ya dan berlari ke arah pesawat yang sudah siap untuk lepas landas.
Senja menatap suaminya yang berlari sembari memakai ranselnya dan senjata yang dia pegang menuju ke arah pesawat hingga pintu pesawat itu pun tertutup.
" Abang...hiks.. hiks....!! "
" Bang Putra pasti cepat kembali." Bisik Andra.
*******
" Tari kamu minum dulu." Andra menyodorkan gelasnya.
" Terima kasih." Ucap Senja sembari menerima gelas dari Andra.
" Kalau ada apa - apa, hubungi Abang karena suami kamu menitipkan nya sama saya." Ucap Andra.
" Terima kasih Bang, saya bisa sendiri.'
*******
" 10 menit lagi kita terjun siap - siap semua." Putra mengarahkan semua anak buah nya.
" Niken, semoga selamat sampai bertemu di titik lokal." Ucap Putra
" Siap. Kapten, terima kasin." Ucap Niken.
Putra dan Arya serta pasukan lainnya, sudah bersiap untuk terjun , Satu persatu telah melompat dan kini giliran Putra melompat dan melayang di udara dengan ketinggian 70.000 ribu kaki lalu dengan menarik parasut hingga dia terbang dengan tenang.
__ADS_1
*******
Senja tak bisa memejamkan matanya, dia hanya terjaga sembari memeluk baju seragam milik suaminya yang masih melekat wangi maskulin walau sudah tercuci.
Sangat terasa tendangan kecil dari dalam perut nya, hingga membuat nya meringis sakit. Dengan air mata yang terpejam, Senja terus memeluk baju seragam milik suaminya.
" Senja rindu Abang, pulanglah Bang dengan selamat anakmu menanti Ayah nya pulang."
******
" Tari ini Abang bawa kan makanan untuk Tari." Andra yang sengaja waktu istirahat dia menuju rumah Senja membawakan makanan.
" Makasih Bang, nggak usah repot - repot."
" Nggak apa - apa, makan lah kasihan anak kamu di dalam perut."
" Saya ambil piring dulu ya Bang, Abang juga belum makan kan? "
" Abang masih kenyang,tadi pagi sarapan banyak sekali."
" Yaudah Saya ambil piring dulu."
Senja pun menuju dapur untuk mengambil piring, sedangkan Andra duduk di ruang tamu dengan pintu yang terbuka lebar.
" Abang beneran sudah makan, ini banyak loh nggak bakalan di makan semua." Ucap Senja sembari membawa piring.
" Iya beneran sudah makan, oh iya suami kamu sudah sampai mendarat dengan selamat."
" Benarkah Bang." Senja dengan mata yang berbinar - binar.
" Tapi kenapa tidak menghubungi Senja? " Tanya Senja.
" Maaf mereka tidak boleh memakai ponsel karena akan terdeteksi oleh musuh." Jawab Andra.
" Senja kangen Abang!! "
" Sabar lah, mereka sedang menjalankan misi."
*******
Tim Soldier terbagi menjadi dua, dengan posisi pendaratan yang terpisah. Kapten Putra beserta ke sepuluh anak buah nya berjalan menelusuri hutan belantara, dengan senjata yang mereka bawa.
Sesekali mata mengawasi setiap pergerakan musuh, yang tiba - tiba bisa menyerang. Hingga sudah berjalan yang di tempuh selama 10 km.
Putra menaikan tangan nya, memberi kode untuk berhenti dan tidak untuk bersuara. Dengan hati - hati semua Prajurit bersiap dengan senjatanya, Putra dan semua anak buah nya mengedarkan pandangan nya ke setiap arah.
" Arah barat daya ada sedikit pergerakan, semua menunduk dan bersembunyi." Ucap Putra dengan nada sedikit pelan.
Tim Soldier pun bersembunyi di balik semak - semak dengan senjata yang semua nya siap untuk membidik.
__ADS_1
Langkah kaki pun semakin dekat, dan semakin pula kencang degub jantung yang berdetak.
Putra pun memberi kode dengan tangan nya, bahwa musuh sudah semakin dekat.