Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Kabut Hitam Di Batalyon


__ADS_3

Photo para Prajurit yang telah gugur terpampang di Aula dengan berjejer dan beserta karangan bunga serta lilin.


Andra dan Aswin memandang photo - photo sahabat satu perjuangan, masih melekat canda tawa mereka di telinga.


" Selamat jalan kawan, Tunai Sudah Janji Baktimu." Ucap Aswin sembari meletakkan setangkai bunga mawar putih.


Andra dan Aswin menatap Photo Putra dan Niken serasa perih masih teringat akan permasalahan kecil yang terjadi di antara meraka. Seperti baru kemarin, mereka bersama bahkan kini tak akan bisa lagi bertatap muka.


" Pesan mu Saya akan laksanakan Kapten Putra, Saya berjanji akan menjaga permata hatimu." Andra menghela nafasnya dan sedikit mengusap air matanya.


*******


Dengan perut yang besar Senja berjalan menuju pintu gerbang, dengan wajah yang pucat dan hawa mendung masih menghiasi wajah cantiknya setelah 7 hari meninggalnya Putra.


" Mau kemana? " Tanya Andra saat berpapasan dengan Senja.


" Mau ziarah ke makam Almarhum Bang Putra." Jawab Senja.


" Abang antar ya."


" Makasih Bang, Saya naik ojek online saja."


" Abang antar, nanti Abang ambil mobil dulu."


Sebelum Senja menolak,Andra sudah berlari meninggalkan Senja, dan Senja hanya menatap punggung pria yang pernah mengisi hari - hari nya.


***


Senja sudah duduk di samping Andra di dalam mobil milik nya, tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut nya.


" Sudah chek kandungan?" Tiba - tiba Andra membuka pembicaraan.


" Belum Bang, Senja belum sempat."


" Setelah pulang ziarah Abang antar ke rumah sakit cek kandungan."


Senja menoleh menatap wajah Andra yang masih fokus menyetir mobil nya.


" Abang sudah Janji sama Almarhum Bang Putra untuk menjaga kamu, kalau Abang sampai lalai Abang sangat bersalah dengan Almarhum Bang Putra. "


Senja hanya diam, dan memandang ke arah jendela, Andra melirik ke arah Senja yang sedang melihat keluar dari balik kaca mobil nya. Terlihat jelas dari pantulan kaca, Senja mengusap air matanya.


***


Senja menangis di depan pusaran makam suaminya setelah mengirim doa, ada rasa sesak di dada dan rindu yang terdalam.


" Abang, 7 hari sudah Abang tiada. Senja rindu Abang, suara Abang masih terngiang di telinga ini. Datanglah Bang, di mimpi Senja, rindu yang sangat mendalam yang Senja kini rasakan."


Hiks.. hiks.. hiks...


" Jujur Senja nggak kuat bila hidup ini tanpa Abang hiks.. hiks... "

__ADS_1


Andra tak sanggup melihat keterpurukan yang sedang di alami oleh mantan kekasihnya itu. Ingin rasa nya mendekap, mencium kening nya tapi semua nya tak pantas untuk dia lakukan.


" Suami kamu tidak akan pernah pergi jauh, dia akan selalu ada bersama kamu tapi di hati ini, milik kamu." Ucap Andra sembari berjongkok di samping Senja.


" Selamanya Bang, selamanya Bang Putra akan selalu di hati Senja, ada buah cinta kami yang akan segera lahir hanya ini harta berharga yang tak ternilai. " Ucap Senja Sendu.


******


Dokter menatap lekat kedua mata Senja dan Andra secara bergantian, ada raut wajah sedikit kecewa setelah memeriksa hasil USG.


" Bagaimana Dok?" Tanya Andra.


" Apakah istri Bapak tidak pernah bilang kalau kandungan nya sangat lemah dan membahayakan si Ibu?" Jawab Dokter Kandungan tersebut.


Andra terbelak kaget saat mendengar apa yang di sampai kan oleh Dokter kandungan yang menangani Senja.


Andra lalu menatap Senja, dia hanya biasa saja tanpa ada rasa kaget maupun Panik.


" Maaf Dok, sebenarnya Saya bukan suaminya Saya benar tidak tahu. Jadi bagaimana solusinya? "


" Selama ini Bu Senja sering merasakan sakit yang hebat akibat ada luka di rahim nya yang tak bisa sembuh, dan Dokter menyarankan untuk mengangkat rahim nya karena kehamilan akan beresiko bagi diri nya. Tapi karena si Ibu memaksa untuk mempertahan kan janinnya."


Andra semakin frustasi saat mendengar kabar tersebut, sungguh sangat berat hidup mantan kekasih hati nya ini.


******


" Apakah Bang Putra tahu? " Tanya Andra saat berada di dalam mobil sebelum mereka melanjutkan pulang.


" Sudah? " Jawab Senja singkat.


" Karena Saya ingin menjadi wanita yang sempurna walau resiko nyawa taruhan nya."


" Apa di otak kamu, nggak berfikir kalau nanti harus memilih mana yang harus di selamatkan."


Senja menatap tajam ke arah Andra, dan lalu memalingkan wajah nya dengan mata yang mulai berlinang air mata.


" Saya menginginkan seorang anak dari Bang Putra, sebelum Saya menutup mata, Saya ingin memberikan nya sesuatu yang berharga untuk nya. tapi ternyata takdir berbanding terbalik sekarang Bang Putra sudah pergi untuk selama - lama nya, tidak ada lagi payung untuk berteduh, tidak ada lagi pundak untuk bersandar, dan tidak ada lagi selimut yang menghangatkan tubuh ini."


Senja menitikkan air matanya, dengan tangan mencengkram perut nya menahan sakit yang dia rasakan.


*******


Andra berdiri di depan photo Putra setelah meletakkan setangkai Bunga mawar putih. Andra terus menatap wajah photo Sahabat nya di dalam bingkai tersebut.


" Saya tidak tahu, berat sekali yang di rasakan oleh Senja, kamu telah pergi dimana dia sangat membutuhkan dirimu, dimana dia selalu berkeluh kesah denganmu, dan kini semua harus di jalani tanpa dirimu."


Andra mengusap wajah di balik bingkai photo tersebut, masih teringat saat pertama bertemu, masih ingat saat terakhir dia menitipkan permata hati nya pada Andra.


" Saya akan menjadi sandaran hati nya, Saya akan menjadi payung nya, dan Saya akan menjadi selimut nya. Saya akan jaga dia, seperti apa yang Abang pesankan pada saya."


Senja yang sedari tadi melihat dari Jauh Andra yang sedang berdiri tepat di depan photo suaminya hanya memandang photo itu sangat lama.

__ADS_1


Ada yang tidak pernah kau tahu


Dalam harap-harap ada sedih yang kuhirup-hirup.


Memintamu untuk kembali semahalnya


Meminta kembali hidup pada masa kecil


Tidak akan terjadi kecuali pada ingatan dimemori.


Kau tahu malam begitu kejam


Bayang wajahmu begitu nyata dalam legam


Sementara senyum indahmu hilang untuk hari-hari kedepan.


Kau yang hilang di hari-hari dan yang hidup dalam haru-haru.


Sedih-sedih yang gemar Kuseduh-seduh.


*********


" Kita sudah menyisir hutan, namun tidak menemukan jejak? "


" Tapi mereka dimana, kalau tidak di culik atau tewas dimana jasadnya."


" Sekitar 10 km, dari sini ada jalan yang menghubungkan ke sebuah jalan menuju ke perkotaan."


" Kita coba, dengan menyamar menjadi Orang biasa dan lepas seragam kita dan sembunyikan Senjata semua nya di tempat yang aman.


******"


Rindu yang terlalu


Jangan aniaya aku begini rupa, sayang


Rasa-rasanya sudah sia-sia aku menahan deritanya


Apakah aku harus menghambakan diri dalam pelukanmu?


Senja memandang kamar dimana dia bersama Putra melewati malam - malam bersama, dan ini adalah malam terakhir dia akan menempati rumah dinas nya.


Semua seragam milik Almarhum suaminya dia tata di dalam satu koper khusus untuk semua barang - barang milik suaminya.


" Selamat tinggal rumah penuh kenangan, selamat tinggal semua yang ada di dalam rumah ini. Saya tak akan pernah lagi merasakan tinggal nya di Asrama, Saya tak akan lagi merasakan indah nya pagi para Prajurit berlari sambil bernyanyi. "


Barangkali jarak terjauh ialah ketika aku tidak lagi bisa mengunjungi tempat yang selama ini telah menjadi rumah bagi perasaanku.


Barangkali dingin yang paling gigil ialah ketika aku kehilangan senyum seseorang yang pernah menjadi perapian untuk kesepianku.


Suasana ini kini membisu. Sebab,semua cerita telah dibawa pergi dari bibir seseorang yang pernah liar mengecup keningku atas nama kasih.

__ADS_1


Andra menatap rumah dinas milik senior nya, lampu terang terakhir dan terakhir dia pun akan melihat Senja, tak akan bisa melihat Senja setiap hari. Tapi janji nya tetap Janji, dia akan tetap menjaga walau hanya dari jauh.


" Sungguh Saya tak sanggup untuk melihat, walau hanya dari jauh. Saya Janji Bang, akan memberikan dia kebahagian. "


__ADS_2