Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Dengan Di Temani Senjata Mencari Cinta Yang Ku Rindu


__ADS_3

Door...


Door....


Akkhhhhhh.....


Dahlia menjerit saat tembakan yang tepat di kepala musuh darah segar mengenai wajahnya, Flashback Dahlia mengingat saat Nia meninggal karena tertembak.


Dokter Hilman telah selesai menjahit dan menutup luka nya Jhon, wajah santai namun saat sudah selesai Dokter Hilman ambruk di samping blankar, sekian menit menahan rasa takut.


" Are you guys all right? ( apakah kalian baik - baik saja? ) " Tanya Tentara yang menembak musuh yang ada tepat di depan matanya.


" We almost died, I couldn't talk anymore ( We almost died, I couldn't talk anymore) " Jawab Dahlia sambil merosot hingga terduduk di tanah.


Mereka bertiga di tolong oleh Tentara yang dengan bendera di seragam nya berasal dari Negara Australia.


" Your patient is a soldier, this is captain jhon why he is ? ( Pasien kalian seorang Tentara, ini kapten Jhon kenapa dia?) Tanya Tentara yang menolong mereka.


Dahlia mengusap wajahnya yang terkena percikan darah, dengan masih dengan jantung yang berdetak kencang.


" He got shot, we just finished the surgery ( Dia tertembak, kami baru selesai mengoperasinya )" Jawab Dahlia.


*********


Putra dan Tentara lain nya sudah mengarah di Negara XX, mereka pun sudah di sambut dengan asap tebal dan Bandara pun sedikit ada kerusakan.


Semua Tentara langsung di terjunkan di medan perang, dengan senjata yang sudah siap di tangan mereka beserta perlengkapan lain nya.


" Bang, keadaan benar - benar hancur." Ucap Andra.


" Iya, benar - benar hancur jarak 15 kilo adalah menuju ke tempat Dahlia dimana dia menjadi relawan." Ucap Andra.


" Apakah kita akan kesana? "


" Pasukan kita akan menyebar, karena Tentara dari Negara kita tidak hanya membantu di daerah ini saja."

__ADS_1


" Benar - benar semua terputus hanya Bandara saja akses keluar masuk. "


******


Jhon telah di pindahkan ke tempat pengungsian lain, bersama para pengungsi lain nya. Jhon yang sudah sadar membuka matanya melihat keadaan sekitar berubah.


" You're awake, jhon ( kamu sudah sadar jhon )" Ucap Dahlia saat melihat Jhon membuka matanya.


" Where are we, this isn't where we were? ( Dimana kita, ini bukan tempat kita yang tadi? )" Tanya Jhon sedikit kaget saat melihat keadaan sekitar.


" While we were operating on you, the enemy came at us with guns pointed at us, and luckily we still had our lives saved by a soldier who shot us in the head ( Saat kami sedang mengoperasi kamu, musuh datang dengan menodongkan senjata pada kami, untung saja nyawa kita masih selamat ada seorang Tentara yang menolong kami dengan menembakkan tepat di kepalanya) "


" Thank god ( Terima kasih Tuhan) " Ucap Jhon.


*********


Dengan beberapa Tank baja dan beberapa Tentara yang berjalan melewati beberapa kota yang sudah porak poranda, Putra yang semakin dekat dengan wilayah yang di tempati Dahlia pun sudah tidak sabar ingin mencari keberadaan nya.


" Andra, wilayah ini sudah dekat dimana Dahlia tinggal, pantas dia akhir - akhir ini tidak komunikasi ternyata akses jalan tertutup."


" Semoga kita bisa bertemu sayang." Ucap pelan Putra.


*********


Dahlia berjalan mengelilingi para pengungsi setelah dia memeriksa kondisi pengungsi yang kebanyakan ibu dan anak, tangis anak kecil menyayat hati, dengan kondisi yang memprihatinkan.


" Dahlia, dengar - dengar tadi ada Tentara Indonesia tambahan yang baru datang, sebagian tadi ada yang melihat." Ucap Dokter Hilman.


" Tak hanya Indonesia saja, dari Negara lain ikut serta membantu semoga perang cepat berakhir."


" Apakah kamu masih ingin kembali suatu saat nanti di kondisi seperti ini? "


" Dengan rasa kemanusiaan mungkin saja." Ucap Dahlia.


********

__ADS_1


Dahlia mencari sesuatu milik nya di dalam sebuah tas namun tak menemukan nya hingga di beberapa dus yang ada di sekitar dirinya.


" cari apa? " Tanya Dokter Hilman.


" Saya cari Tas kecil, dimana semua identitas ada disana."


" Kamu sudah mencarinya? "


" Sudah, tapi nggak ada."


" Coba cari lagi saya bantu." Dokter Hilman mencoba ikut membantu mencari nya.


" Dokter, saya baru ingat tas saya tertinggal di bawah blankar." Dahlia lalu segera berlari malam itu juga.


" Dahlia besok lagi saja." Teriak Dokter Hilman.


*****


Dahlia berjalan menuju tenda pengungsi yang mereka tinggalkan dengan jarak sekitar empat kilometer, jalanan yang gelap membuat semakin mencekam.


Dahlia terus menengok ke kanan, kiri dan belakang rasa merinding dan takut menerpa dirinya yang saat ini berjalan sendiri.


" Ya Allah lindungi saya, demi tas kecil yang sangat berharga saya harus segera mengambilnya."


Langkahnya kian cepat, saat dari kegelapan seperti ada yang mengikutinya, Dahlia pun berlari sangat Kencang hingga dua orang yang mengikutinya pun ikut berlari.


Dahlia tanpa menoleh berlari menuju sebuah reruntuhan rumah dirinya memasuki rumah yang sebagian hancur.


Dahlia pun berhasil bersembunyi, saat dua orang bersenjata tersebut ikut masuk kedalam dimana Dahlia bersembunyi.


Namun tiba - tiba, mulut Dahlia di bekap dari Sisi belakang.


Mmmpppppp


Dahlia meronta saat tangan kekar itu membekap mulut nya, dan Dahlia menoleh pada orang yang membekap mulut nya.

__ADS_1


__ADS_2