Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Aku Tak Bisa Mengungkapkan nya


__ADS_3

Flashback On


" Kamu kenapa nak? " Tanya Bunda Mutia.


" Saya curiga Senja sedang menutupi Sesuatu Bund." Jawab Putra.


" Maksudnya tentang apa?? " Tanya kembali Bunda Mutia.


" Senja sepertinya sedang sakit, tapi entah sakit apa Saya tidak tahu. Saat kemarin malam dia tidak bisa tidur, Saya lihat dia meremas perut nya, dan saat kemarin nya lagi dia pingsan dan kata Ibu - ibu waktu saat senam Senja sempat mengeluh sakit pada perut nya lalu pingsan." Jawab Putra.


" Kamu nggak coba tanya." Ucap Ibu Mutia.


" Sudah Bund, dia hanya bilang nggak apa - apa." Ucap Putra.


****


" Saya mau beberapa hari mengikuti, untuk mengikuti istri saya." Ucap Putra.


" Memang nya Senja kenapa? " Tanya Aswin.


" Saya ingin tahu sebenarnya apa yang dia sembunyikan tentang penyakitnya." Jawab Putra.


" Penyakitnya?? Maksudnya Senja sakit." Tanya Arya .


" Saya harus cari info untuk mengikuti dia." Jawab Putra.


" Tolong jangan kasih tahu dia, kalau Saya tidur di barak." Ucap Putra kembali.


Flashback Off


Tangan Putra bergetar saat membaca hasil pemeriksaan milik Senja, terasa kaki sangat lemas saat mengetahui apa yang terjadi pada Senja.


" Saya sudah menyarankan untuk memberi tahu kepada anda, tapi Ibu Senja menolak agar suami nya tidak mengetahui tentang masalah kesehatannya. Dia malah menolak untuk pengangkatan rahim, karena dia ingin memiliki seorang anak dari Pak Putra. Walau nyawa dia taruhkan. " Ucap Dokter kandungan tersebut menjelaskan pada Putra.


" Apa yang harus tidak boleh di lakukan agar, mengurangi rasa sakit? Tanya Putra.


" Jangan melakukan hubungan suami istri dulu, karena setiap habis melakukan dia sering mengeluh sakit." Jawab Dokter kandungan tersebut.

__ADS_1


" Astaghfirullah, Ya Allah." Ucap Putra sambil mengusap wajahnya.


" Kenapa dia nggak pernah cerita, bahwa akhirnya dia kesakitan." Ucap Putra frustasi.


" Dia hanya ingin Pak Putra bahagia, dan terpenuhi kehidupan biologisnya."


" Tapi kenapa dia hanya mementingkan orang lain, tidak mementingkan diri Sendiri."


******


Putra berjalan menuju gudang senjata,disana dia menumpahkan tangisnya, dan meremas dadanya.


" Argggghh... kenapa kamu lakukan ini Senja, hiks.. hiks... sungguh Abang menerima kamu apa ada nya, Abang tak apa tanpa kehadiran seorang anak, asal Abang bersama kamu terus."


Putra terus menangis, meluapkan segala emosinya yang sudah tersimpan di dalam dada.


*******


Senja, menunggu suami nya hingga pukul 10 malam belum juga pulang. Malam malam yang sudah tersedia di meja, sudah dingin tak hangat lagi.


" Kenapa Abang belum pulang? Apakah Abang pergi dengan Sandra." Ucap Senja dengan perasaan tak menentu.


Putra pun akhirnya pulang tepat jam 12 malam, dengan wajah kusutnya, Putra memasuki rumah nya yang sepi, Putra Pun menuju kamar namun Senja tak ada di atas tempat tidur. Dan Akhirnya Putra menuju ruang tengah dan terlihat Senja tidur di meja makan.


Putra pun lalu mendekati Senja, dan membelai rambut panjang istri nya.


" Maafkan Abang, kamu menunggu Abang pulang, maafkan Abang sayang."


Putra memeluk erat tubuh Senja yang sedang tertidur, Putra menangis sesenggukkan di tengkuk leher Senja.


" Maaf.. maafkan Abang, kalau Abang nggak pernah tahu apa yang di rasakan kamu sayang, Abang nggak menyakiti kamu."


Senja yang merasa sangat berat, membuka matanya dan di lihat nya Putra sedang memeluk nya dan sambil terisak.


" Abang!! " Panggil Senja dengan suara khas orang bangun tidur.


Putra lalu melepaskan pelukannya, dan menatap lekat wajah istri nya.

__ADS_1


" Abang kenapa menangis?" Tanya Senja sembari mengusap air Mata Putra.


" Kenapa nggak pernah cerita sama Abang, kalau kamu punya masalah kesehatan." Tanya Putra kembali.


" Senja sehat kok Bang, Senja baik - baik saja. Kenapa Abang tanya begitu?" Jawab Senja kembali bertanya.


" Kenapa nggak pernah bilang kalau sakit perut kamu dari penyebab rahim kamu sayang, dan kenapa tidak bilang kalau rahim kamu harus segera di angkat!! " Ucap Putra dengan tenang.


Senja menunduk, dan sesaat dia terisak lalu menatap lekat wajah suami nya.


" Abang tahu dari mana?" Tanya Senja.


" Itu tidak perlu kamu tahu, Abang akan terus cari tahu kalau istri Abang tidak pernah terbuka sama Abang." Jawab Putra.


" Maafkan Senja Bang, karena Senja tidak mau di mata Abang kalau Senja wanita yang tidak Sempurna dan tidak bisa memuaskan Abang lagi." Ucap Senja.


" Ya Allah sayang, Abang sumpah nggak berfikir ke sana, karena Abang hanya ingin sama kamu sayang."


" Abang boleh berkata seperti itu, tapi di belakang Abang berkata lain. Makan nya Senja, mempertahankan ini semua demi Abang, seandainya Senja pergi dulu pun Abang bisa melihat Senja dari buah hati yang Senja lahirkan bukan Senja pergi tanpa ada satu kenangan dari cinta kita Bang." Ucap Senja.


" Abang lebih memilih kamu, dari pada kamu harus mengorbankan nyawa kamu sayang."


" Jujur Bang, Senja lakukan ini agar Abang nggak berpaling dari Senja, lebih baik liat Abang bersama wanita lain kalau Senja sudah nggak ada di dunia ini hiks... hiks... hiks.. "


Putra menangkup wajah Senja, dan menatap lekat. Lalu mencium bibir yang tengah bergetar menangis, dan di ciumnya kedua kelopak mata Senja.


" Kenapa Sayang bilang seperti itu, Abang nggak akan pernah berpaling sayang." Ucap Putra lembut .


" Sandra bilang Abang menceritakan semua tentang Saya, bahkan dia bilang rumah tangga kita hambar, tak ada seorang anak. Saat belum tahu siapa Sandra, Saya sudah cemburu pertama kali Abang menerima telepon dari Sandra menghindar dari Saya. Dan mulai saat itu, Saya ingin menjadi wanita normal dan membahagiakan Abang walau hanya di beri satu kali kesempatan."


" Kamu percaya, Sandra bicara seperti itu. Abang jujur pernah cerita sama dia, tapi tidak ada niat untuk mencari wanita lain. Abang hanya fokus sama kamu, dan hanya satu wanita yang Abang sayangi." Ucap Putra sambil meremas kedua tangan Senja.


" Jangan pernah larang Senja untuk hamil, jangan pernah larang untuk tidak mengangkat rahim Senja, karena Saya masih berharap akan ada mukjizat dari Allah Bang." Ucap Senja.


Putra menunduk kan wajahnya, dengan menempelkan pelipisnya di kedua tangan istri nya.


" Abang nggak bisa berkata apa - apa, hanya satu pinta Abang untuk selalu ada disisi Abang jangan korbankan jiwa raga kamu dan hanya meninggalkan sebuah kenangan.Sungguh Abang nggak sanggup." Ucap Putra dengan menahan tangisnya.

__ADS_1


" Senja sayang sama Abang, ijinkan Senja melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri. Ijinkan Senja untuk bisa mencium wanginya surga Bang hiks.. hiks.. hiks.. " Ucap Senja sembari terisak.


Di ruang tengah, Senja dan Putra sama - sama terisak, rasa sakit dan tak mampu untuk bisa di ungkapkan dengan kata - kata.


__ADS_2