
1 Tahun Kemudian
" Assalamualaikum Bunda Ayah." Sapa Putra saat baru pulang Dinas sembari mencium punggung tangan Ibu Mutia dan Pak Wahyu.
" Walaikumsalam." Balas Ibu Mutia dan Pak Wahyu.
" Bund Avan mana kangen nih, satu minggu karena sibuk cuman bisa video call." Tanya Putra.
" Avan lagi keluar sama Mami Papi nya.' Jawab Ibu Mutia.
" Kemana? "
" Mungkin jalan - jalan."
Andra dan Kinan sudah menikah dan mereka menempati rumah Dinas yang Masih satu kesatuan dengan Putra.
" Kalau Kanaya kemana? " Tanya Putra.
" Dia mungkin sama anak - anak Panti, sekarang dia lebih sering dengan anak Panti dari pada sama Avan. Kamu tahu sendiri Andra sama Kinan suka bolak balik kesini hanya demi Avan. Apalagi sekarang Kinan sedang mengandung, rasa kasih sayang mereka tidak pernah luntur sama Avan." Jawab Ibu Mutia .
" Iya sampai Avan malah lebih dekat dengan mereka dari pada Ayah nya." Putra dengan wajah sedihnya.
****
" Mas baru datang." Sapa Kanaya.
" Iya, baru saja datang. " Ucap Putra sambil berjalan menuju ruang makan.
" Mas mau makan, biar saya siapkan."
" Nggak usah biar ambil sendiri saja." Putra pun langsung mendekati meja makan.
Kanaya hanya tertunduk, lalu Ibu Mutia datang dan tersenyum ke arah Kanaya.
" Yuk makan sama - sama." Ajak Ibu Mutia pada Kanaya.
Mereka pun makan malam bersama setelah menunggu Pak Wahyu 5 menit.
" Put, kamu masih betah jadi Duda?" Tanya Pak Wahyu yang tiba - tiba memulai pembicaraan.
Uhuk.. uhuk...
Putra pun langsung meminum air Putih yang ada di sebuah gelas di samping nya.
" Putra lebih senang hidup kayak gini, fokus sama Avan." Jawab Putra.
" Bukalah hati kamu, sudah satu tahun Senja meninggal apa tidak ingin menikah lagi." Ucap Pak Wahyu.
Dan di depan Putra ada Kanaya yang langsung menundukkan wajahnya saat Putra tidak ingin membuka hati.
****
Kanaya menatap terangnya bulan di bawah tiang lampu yang menyorot ke tengah lapangan volly di Panti Bunda Mutia.
Air mata pun menetes membasahi kedua pipinya, dengan sesak rasa di dada dan sakit mencintai hanya sepihak.
" Apakah saya tidak bisa menggeser Almarhum istri kamu Mas, apakah Mas tidak mencintai saya karena masa lalu saya dan asal usul saya dari mana. Hiks.. hiks.. rasa ini nggak bisa do bohongi. "
Tanpa sadar Putra mendengar perkataan Kanaya, dia hanya bersandar di balik pohon mangga yang dekat dengan lapangan Volly.
" Terima kasih untuk mencintai saya, tapi maaf saya tidak bisa membalasnya karena saya tidak mempunyai rasa apa - apa terhadap kamu." Ucap Putra dengan nada pelan.
******
" Ayah...!!! " Avan yang sudah berusia satu tahun lebih berjalan dengan gaya khas balitanya.
" Avan sama siapa kesini? " Tanya Putra sembari berjongkok memeluk tubuh gembul Avan.
__ADS_1
" Sama Mami." Tunjuk Avan pada Kinan.
" Ingat kandungan kamu, Avan gemuk loh." Ucap Putra sembari menggendong Avan.
" Tadi naik taksi online Bang, pas turun di depan Avan minta jalan." Ucap Kinan.
" Suami kamu mana, nggak minta antar sama dia."
" Abang kan sedang ada Dinas luar kota."
" Oh iya lupa."
" Ayah, kata Mami Avan ikut tinggal di Asrama kalau Ayah nggak ada nanti bobonya sama Papi dan Mami." Ucap Avan.
" Kamu beneran bawa Avan kemari, kenapa nggak ijin dulu sama Abang."
" Maaf Bang, lagian Abang pasti ngijinin kita kan rumah nya berdekatan."
" Abang tidur di mess, nggak mau di rumah Dinas."
" Terus Avan minta tidur dengan Abang gimana?"
" Yang tidur di rumah lah, kalau sendiri nggak mau."
" Abang Masih belum lupa sama kenangan dengan mba Senja ya." Ucap Kinan.
" Kenangan itu sampai kapan pun tidak akan pernah terhapus."
******
Door...
Door...
Door...
" Kenapa ini Letda Hanum? " Tanya pelatih.
" Siap salah." Jawab Hanum.
" Fokus bagaimana nanti menghadapi musuh."
" Siap tidak akan."
Setelah pelatih pergi Hanum langsung meletakkan Senjata nya, dia pun beranjak pergi meninggalkan lapangan tembak.
" Kenapa dia? " Tanya Aswin.
" Nggak tahu." Jawab Putra.
***
" Hanum?? " Sapa Putra saat melihat Hanum berada Aula duduk menyendiri.
" Bang." Sapa Hanum kaget.
" Kamu kenapa duduk sendiri disini." Ucap Putra sembari duduk di samping Hanum.
" Nggak apa - apa Bang, ingin sendiri saja."
" Cerita sama Abang kalau pun ya masalah."
" Nggak ada Bang beneran."
Namun saat melihat tepat ke arah leher Hanum, mata Putra melihat sebuah tanda merah dan sebuah lebam melingkar.
" Hanum leher kamu? "
__ADS_1
Hanum lalu salah tingkah dan secepatnya menarik krah seragamnya.
" Kamu baik - baik saja kan?"
" Iy - iya baik - baik saja."
******
Hiks.... hiks... hiks...
" Nggak mau...!!! "
Hiks... hiks.. hiks..
" Bang Avan kenapa sih, dia minta apa." Ucap Kinan saat melihat Avan menangis guling di teras rumah.
" Dia minta beli mainan robot lagi, kamu tahu kan Dek mainan robot nya Masih benar nggak rusak seminggu 10 robot dia beli." Ucap Andra.
Hiks... hiks...
" Papi pelit... hiks... hiks... Avan aduin ke Ayah hiks... hiks.... "
" Aish.....kecil - kecil sudah bisa mengadu." Ucap Andra.
Saat melintas depan rumah Dinas Andra, Hanum melihat anak Kapten Putra sedang merajuk, dan Hanum pun mendekati Avan.
" Sayang kenapa? " Tanya Hanum saat melihat Avan di depan patung pahlawan.
" Kenapa dia? " Tanya Hanum kembali.
" Biasa minta di belikan mainan robot, tapi kamu tahu nggak seminggu 10 robot dia beli." Ucap Andra sembari menatap ke arah Avan.
Hiks... hiks.. hiks..
" Papi pelit tante."
" Hadueh... " Ucap Andra menepuk jidatnya.
" Mau ikut Sama Tante? Ajak Hanum pada Avan.
Avan pun menganggukkan kepala nya, dan lalu Hanum pun menggendong Avan dan Avan pun mengalungkan kedua tangan nya di leher Hanum.
" Saya bawa main dulu ya." Ijin Hanum pada Andra dan Kinan.
*****
" Avan mana? " Tanya Putra pada Andra.
" Di ajak Hanun." Jawab Andra pada Putra.
Lalu Putra pun mencari Avan yang sedang di ajak Hanum pergi main, dan setelah mencari Putra pun menemukan Hanum bersama Avan.
Balita gembul itu sedang duduk di kursi panjang sembari menikmati es krim dengan senang nya Avan menikmati es krim tersebut.
Putra melihat Avan begitu sangat menikmati nya, Hanum pun terus mengajak Avan berbicara dan Avan pun menjawab setiap pertanyaan Hanum.
" Avan kalau sudah besar mau jadi apa?
" Jadi Tentala." Jawab Avan dengan logat pelo nya karena belum bisa mengucapkan huruf R.
" Ayah nya Avan siapa namanya? "
" Ayah Putla. " Jawab nya sembari memakan Es krim nya.
Putra dari jarak jauh tersenyum dengan ke lucuanya Avan yang gemuk dan wajahnya tambah besar mirip dengan Ayah nya.
" Seandainya kamu masih ada, mungkin saat ini usia nya se umur an dengan Avan. Maaf kan Mamah sayang, maaf kan tidak bisa menjaga kamu."
__ADS_1
Putra yang mendengar ucapan Hanum merasa kaget dan terkejut yang dia tahu bahkan semuanya Hanum belum menikah.