Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)

Ujung Timur (Penantian Sang Prajurit)
Beri Satu Kesempatan


__ADS_3

" Tolong lepaskan saya, biar saya pergi."


" Kondisi kamu seperti itu, tidak mungkin saya melepaskan kamu begitu saja, dan biarlah saya melindungi kamu, sampai mata kamu sembuh lalu saya akan membantu negara ini."


Putra duduk di dalam sebuah gubug di tengah - tengah hutan, mata nya kini tak bisa melihat. Hanya hitam warna yang kini bisa dia lihat.


" Kamu kan tahu, kakak saya tahu nya kamu sudah meninggal, tapi Tuhan berkehendak lain kamu masih hidup, lalu kamu bawa saya kesini"


" Kenapa kamu selamatkan saya?"


" Prajurit bantulah saya demi negara ini, saya ingin mereka tidak lagi menggangu negara kita bahkan dunia."


Flashbacks On


Dooor.....


Dooor....


" Hahahaha.... terus tembak...!!! "


Door...


Door....


Putra menundukkan Kepala nya, saat melihat apa yang terjadi di depan mata nya, kedua tangan nya pun sudah mengepal. Terdengar nyaring di telinga jeritan minta tolong dan tawa dari mereka yang telah menghabisi nyawa Para Tim Soldier.


" Jangan bergerak!! "


Putra diam dengan tatapan mata yang sudah memerah dan amarah yang memuncak, saat sebuah Senjata laras panjang tepat di belakang Kepala nya.


" Kamu sudah lihat kan, bagaimana cara teman- teman kamu meninggal." Ucap Walaode.


" Kurang ajar, kalian habisi semua teman saya." Ucap Putra geram.


" Hahaha hahahaha..... kamu juga akan menyusul mereka ke neraka."


" Show time.."


Door....


Door...


Bugh...


" Kanaya, kenapa kamu tembak dia." Bentak Walaode.


" Karena dia akan menghambat rencana kita." Ucap Kanaya.


" Bodoh, dia akan saya peralat." Bentak Walaode.


" Untuk umpan menjadi titik lemah Negara ini." Ucap Walaode.


" Aarrggghhh... kamu memang tidak pernah mengerti." Ucap Walaode pergi meninggalkan Kanaya dan anak buahnya.


" Tolong bawa ke bukit, obati dia di gubug tua itu, biar saya yang Obati. " Bisik Kanaya.


" Buang Jenazah nya ke sungai." Suara lantang Kanaya agar terdengar oleh Walaode.

__ADS_1


" Buang mayatnya ke sungai biar di makan Buaya." Ucap Kanaya.


Flashback Off


" Kenalkan nama saya Kanaya."


" Saya Putra."


" Maaf Saya telah bikin kamu buta dan tertembak hingga tak sadarkan diri selama hampir satu bulan." Ucap Kanaya pada Putra.


" Saya melakukan ini, biar kakak saya tidak melakukan nya sama kamu. Saya membela Negara Saya, dimana Saya di lahirkan dimana saya pijak saat ini." Ucap kembali Kanaya.


" Terima kasih, mungkin saat ini mereka mengira Saya sudah meninggalkan. Tapi ada rasa getir di hati ini. Mungkin istri Saya sudah melahirkan, Saya ingin bertemu dengan nya." Ucap Putra.


" Tapi mata kamu belum sembuh, dan bila tiba - tiba Kakak Saya melihat kamu bagaimana." Ucap Kanaya.


" Saya akan bayar dengan nyawa demi membantu Negara ini." Ucap Putra.


" Bagaimana cara nya? "


********


" Maaf.. " Ucap Dokter yang menangani Senja.


" Bagaimana kondisi nya? " Tanya Andra panik.


" Pasien apakah punya beban hidup?" Tanya kembali Dokter.


" Maksudnya?" Tanya Pak Wahyu.


" Dalam kondisi seperti ini, seperti antara hidup dan mati, saat detak jantung normal pasien sempat meneteskan air mata. Kasihan pasien, mungkin orang terdekatnya bisa mengikhlaskan nya."


********


" Senjaaaa....!! "


Putra terbangun dari tidurnya saat memimpikan istri yang sangat dia rindukan, Putra meraba seperti mencari sesuatu di samping tempat tidurnya.


" Kenapa?" Tanya Kanaya yang tiba - tiba masuk ke dalam kamar.


" Saya bermimpi tentang istri Saya, begitu sangat nyata. Dia tersenyum melambaikan tangan pada Saya dan seorang anak kecil laki - laki di gandeng sama saya." Jawab Putra.


Kanaya lalu keluar dari kamar Putra, entah mau kemana. Dan sekitar 10 menit, Kanaya kembali meyerahkan pada Putra sesuatu benda pada tangan nya.


" Ini alat pengirim sandi milik kamu kan? " Ucap Kanaya.


Putra merabanya, dan benar ini alat terakhir yang dia pakai untuk mengirim pesan lewat alat tersebut. Putra sengaja tak pakai Radio, karena khawatir sinyalnya akan di ketahui oleh musuh.


" Kamu menyimpannya? "


" Iya, cuman ini kan alat yang kamu punya selain Senjata untuk mengirim informasi. Pakailah suruh mereka datang, saat ini keluarga dan Negara sedang mencari kamu. Saat selesai dengan urusan kamu, kembali lah untuk demi Negara kita. "


" Boleh Saya minta tolong untuk kirim kan sandi nya, pasti kamu juga mengerti lebih lanjut karena mata Saya tak bisa melihat. "Pinta Putra.


********


" Bangunlah walau hanya sekali, jangan pergi begitu saja. Apakah kamu tidak ingin mengucapkan selamat tinggal, atau pesan terakhir."

__ADS_1


Andra mengusap pelan punggung tangan Senja, yang sedikit dingin dan kulit yang tampak pucat.


" Bangunlah lah, Saya mohon bangunlah dari mimpimu. " Ucap Andra.


*******


" Cepat kita jalan, setelah sampai di tempat yang di tuju Saya akan pergi meninggalkan kamu. Pasukan akan menjemput kamu disana" Ucap Kanaya.


" Kamu yakin, pesan tersebut terbalas?" Tanya Putra.


" Iya, dan setelah itu, kembali lah kemari tolong bantu untuk negara kita." Jawab Kanaya.


" Terima kasih Kanaya, walau Saya tidak bisa melihat Saya akan mencoba mengenal semua yang ada di sekitar Saya. Terima kasih, jaga diri kamu." Ucap Putra.


" Ayok kita pergi, Saya akan antar kamu, serta kita di antar oleh dua Bodyguard kepercayaan saya." Ucap Kanaya.


*******


" Markas memberitahu penjemputan di titik ini." Ucap Aswin sembari menunjukkan sebuah peta.


" Kenapa penjemputan disini?" Tanya salah satu seorang Prajurit.


" Markas kita mendapatkan Kiriman Sandi dari Harimau." Jawab Aswin sembari tersenyum.


" Alhamdulillah, ayok kita cepat bergegas jangan sampai musuh mendahului." Ucap Prajurit lainnya.


*******


" Benar ini Harimau, apakah semua Tim sudah di terbangkan kesana?" Tanya Andra.


" Sudah pak, mereka sudah berjalan ke arah titik yang mereka terima." Jawab Prajurit yang sedang ada di balik layar monitor"


" Terus pantau perkembangan mereka."


***********


" Sudah sampai Putra, tunggu saja Pasukan akan segera datang. Saya akan menemani kamu sampai mereka datang." Ucap Kanaya.


" Ikutlah bersama Saya, kamu berbahaya kalau disini." Ucap Putra.


" Tidak, Saya menyelamatkan kamu pun ini sudah cukup berbahaya."


" Bagaimana Saya akan menemukan kamu kembali? "


" Setelah urusan kamu selesai, kembali lah kemari bawa Pasukan kamu, hancurkan Bulan Sabit bekerja sama lah dengan Pasukan dengan Negara lain, agar mereka runtuh."


Putra meraba wajah Kanaya, dia merasakan wanita di depan nya adalah wanita tangguh, dengan Senjata yang berada di balik punggung nya dengan rambut yang di kucir kuda.


" Saya akan kembali membawa kamu keluar dari sini, terima kasih telah menyelamatkan hidup saya." Ucap Putra.


" Maaf mata kamu tidak bisa melihat karena Saya, maaf.. " Ucap Kanaya.


Lalu Kanaya, memberikan sebuah ramuan dia oleskan pada mata kedua mata Putra. Rasa perih itu menjalar pada kedua mata nya, hingga air mata nya menetes.


" Ini ramuan dari nenek moyang kami, di percaya bisa menyembuhkan mata tanpa operasi. Bawa lah ini, saat sudah sampai disana oleskan kembali pada mata kamu."


Terdengar suara langkah, Kanaya dan kedua Bodyguard nya segera untuk beranjak. Dan sebelum pergi Kanaya menyelipkan sesuatu pada Putra.

__ADS_1


" Ini sebuah kunci, peta ini akan membawa kalian dimana Walaode dan Jaringan Hitam International berada."


Putra lalu menyelipkan peta itu dalam saku celana nya, dan Kanaya menarik tangan Putra agar mendekat ke arah langkah kaki tersebut.


__ADS_2